Unsur-unsur Penafsiran Alkitab
Pembicara yang tidak tampak dalam teks, khusus yang
terdengar dalam seksi-seksi editorial. Narator menceritakan kepada kita suatu
cerita dan pada waktunya menafsirkan artinya. Narator memiliki karakter yang penting
walaupun ia tidak selalu dapat dibedakan dari Allah yang member inspirasi
kepadanya. Itulah sebabnya selalu dinilai narator itu berada di segala tempat
seperti kedudukan Allah yang berada di segala tempat.
Prespektif
yang di ambil oleh tokoh-tokoh dan aspek yang ada dalam suatu narasi. Sudut
pandang umumnya dikaitkan dengan narrator yang berinteraksi dengan tindakan
dalam cerita dengan beragam cara sehingga menghasilkan dampak yang harus
dimiliki oleh cerita itu di atas pembaca.
Ia
berkenaan dengan urutan peristiwa-peristiwa didalam cerita dan bagaimana mereka
saling berkaitan. waktu narasi berbeda dari kronologi karena waktu narasi
berkaitan dengan penataan sastra bukan urutan historis. Konsep ini sangat penting
ketika mempelajari sejarah kuno karena bagi penulis sejarah pada waktu itu,
urutan historis tidak sepenting gambaran dramatis.
Seymour Chatman berbicara mengenai plot,
tokoh-tokoh dan latar yang membentuk cerita itu sendiri. plot terdiri dari gabungan
peristiwa-peristiwa yang berurutan yang mengikuti susunan sebab-akibat, plot
mengarah kepada suatu klimaks dan melibatkan pembaca didalam dunia narasi dari
suatu cerita. Elemen dasar dari plot adalah konflik dan setiap narasi Alkitab
berpusat pada hal ini-Allah versus Iblis, baik versus jahat, pemuridan versus
pemberontakan. Pembaca harus mempelajari plot dan plot-plot kecil di dalam
kitab-kitab narasi dengan teliti untuk menentukan tema-tema dan penokohan yang
berkembang dari penulis.
Keberhasilan dari suatu cerita terutama
tergantung pada keberhasilannya dalam mengembangkan orang-orang yang menarik
dan nyata yang dapat dikenal oleh pembaca. Cullpepper mengamati dictum
Aristoteles bahwa para tokoh harus memiliki empat sifat : mereka harus baik
secara moral, cocok, realistis dan konsisten. Dialog sering kali membawa banyak
penekanan dalam penokohan dan theologi. Interaksi antara sudut-sudut pandang
seringkali berpindah diantara para tokoh dan bahkan diantara dialog mereka dan
narasi orang ketiga didalam cerita sering kali berpindah diantara tokoh dan
bahkan diantara dialog mereka dabn narasi orang ketiga didalam cerita, sering
kali dengan kata-kata dari para tokoh terbukti tidak dapat diandalkan dan hanya
narator yang dapat diandalkan.
Suatu latar cerita,
teknik narasi tingkat ketiga dari Chartman, dapat bersifat geografis, waktu,
sosial atau historis. Latar akan menyediakan konteks dasar dimana plot dan
tokoh berkembang. Seperti yang dikatakan oleh David Rhoads dan Donald Michie,
latar memiliki banyak fungsi : menciptakan suasana, menetukan konflik,
menyingkapkan watak-watak para tokoh yang harus menghadapi masalah atau ancaman
yang disebabkan oleh suatu latar, menawarkan tafsiran mengenai suatu tindakan,
dan menimbulkan asosiasi dan nuansa makna yang ada didalam budaya dari para
pembaca.
Komentar
Posting Komentar