Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang

Sejarah mencatat bahwa Gereja hadir karena Tuhan Yesus memanggil umat manusia untuk menjadi pengikut-Nya (murid). Mereka dipanggil dalam sebuah persekutuan dengan Dia dan persekutuan inilah yag disebut Gereja. Wujud gereja adalah di dalam persekutuan dengan Kristus yang diwujudnyatakan juga dengan persekutuan dan pelayanan kepada sesama. Di dalam persekutuan ini ada amanat untuk memberitakan injil dan saling mengasihi satu dengan yang lain. Kata gereja berasala dari kata Yunani, yaitu “ekklesia” (ek=dari, kaleo=memanggil), yaitu mereka yang dipanggil keluar. Jadi, ekklesia dapat diartikan sebagai kaum yang dipanggil keluar dari kehidupan yang lama dan dari kuasa kegelapan, dipanggil kepada Allah sendiri ke dalam kerajaan-Nya (Apa itu Gereja, website 2020). Ada status dan pola hidup yang berubah ketika manusia disebut sebagai Gereja (umat Allah). Gereja/umat Allah dipanggil keluar dari suatu kehidupan yang tidak berfokus bagi dirinya sendiri tetapi hidup bagi Allah, beribadah dan melayani-Nya, sehingga pola hidup dan tujuan hidupnya berubah.

Selain pengertian di atas, Gereja juga diartikan sebagai sebuah organisasi. Didalam organisasi gereja terdapat pemimpin yang memimpin baik pada aras sinode, klasis maupun jemaat. Pemimpin di jemaat bisa saja berasal dari Pendeta yang diutus untuk melayani jemaat atau juga penatua jika dalam jemaat tersebut tidak ada pendeta. Dalam tingkat klasis yang menjadi seorang pemimpin adalah pendeta. Sedangkan dalam aras Sinode, lazimnya dipimpin oleh seorang pendeta yang sudah pernah melayani di jemaat dan pernah menjabat sebagai pejabat gereja di sinode. Berbicara mengenai kepemimpinan maka kita berbicara mengenai suatu proses mempengaruhi cara berfikir, perilaku, atau perkembangan orang untuk mencapai tujuan dalam kehidupan pribadi. Kepemimpinan mempunyai sifat yang universal, yang selalu ada dan senantiasa diperlukan pada setiap uasaha bersama manusia, karena menyangkut masalah relasi dan saling mempengaruhi antara pemimpinan dan yang dipimpin. Kepemimpinan dapat ditemui pada setiap organisasi, mulai dari unit sosial terkecil yakni keluarga, desa dan negara, bahkan tingkat lokal, regional dan nasional dan internasional, disetiap tempat dan waktu.

Kepemimpinan kristen merupakan kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih dan kesediaan untuk ,melayani. Seorang pemimpinan kristen harus mengandalkan Allah karena tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin (Eka 2001, 23), sebab menjadi pemimpin bukanlah menjadi tuan atas orang lain. Seorang pemimpin kristen harus mampu menghadirkan Kristus sebagai panutan dalam setiap aspek kehidupannya.

Dalam realitasnya, kehidupan masyarakat dan kehidupan gereja saling berhubungan dan mempengaruhi. Jika kita berbicara mengenai masyarakat, maka tidak terlepas dari budaya yang melekat pada masyarakat tersebut. Hal ini berarti bahwa kehidupan bergereja tidak terlepas dari kehidupan bermasyarakat yang sarat akan nilai-nilai budayanya.

Gereja Kristen Sulawesi Barat (kemudian disebut dengan GKSB) merupakan salah satu contoh kesekian banyak gereja yang dalam perkembangannya sering dipengaruhi oleh budaya yang ada, dan salah satu budaya yang mempengaruhi perkembangan GKSB adalah budaya patriarki. Budaya ini menekankan peran laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama sedangkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga (penelitian websaite 20018) laki-laki selalu memainkan peran yang penting dalam kehidupan masyarakat, sedangkan perempuan mempunyai peran dibawa laki-laki dan tidak akan melebihi atau mendominasi peran laki-laki. Dalam teologi modern, Depnhi Hampson menguraikan tiga gambaran dalam hubungan antara kelamin, yakni: adanya kuasa (powerfulness), ketiadaan kuasa (powerleses), dan saling memberi kuasa (empowerment) (H. 1984, 405). Inilah realitas yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut yang membawa diri perempuan yang selalu akan menjadi bayang-bayang laki-laki terutama dalam kehidupan berumah tangga, apalagi jika yang mencari nafkah adalah laki-laki atau suami. Hal ini juga disebabkan karena pekerjaan dalam rumah tangga seringkali tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan melainkan sebuah kodrat.

Isu tentang persamaan kedudukan laki-laki dan perempuan telah menjadi wacana umum, termasuk dalam konteks kekristenan. Isu ini telah melahirkan dua pandangan yang saling bertentangan, yaitu golongan tradisional dan progresi. Golongan tradisional menilai ayat-ayat tertentu dalam Alkitab (Efesus 5:22-24; 1 Korintus 11:3; 14:35; 1 Timotius 2:11-12) sebagai suatu tradisi Kekristenan yang mengikat kehidupan orang kristen di abad modern ini. Mereka yang memegang pandangan ini hanya memberikan kebebasan dalam taraf tertentu kepada perempuan sejauh yang diperbolehkan Alkitab.

Di sisi lain, golongan progresif menganggap norma tersebut tidak relevan lagi dan membutuhkan penafsiran kembali. Mereka memakai beberapa ayat Alkitab yang tampaknya mendukung kesejajaran kedudukan antara laki-laki dan perempuan, misalnya Galatia 3:28

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi,

tidak ada hamba atau orang merdeka,

tidak ada laki-laki atau perempuan,

karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”

Beberapa pemimpin perempuan di Alkitab juga sering ditampilkan sebagai dukungan terhadap pandangan mereka, misalnya Debora (Hakim-hakim 4:4), Hulda (II Raja-raja 22:14), Ester (Ester2:17), Febe (Roma 16:1-2), Yunias (Roma 16:7), anak-anak Filipus (Kisah Para Rasul 21:9).

Namun dalam kenyataannya berbagai bentuk diskriminasi masih dirasakan oleh perempuan. Kesempatan promosi perempuan tidak setara dengan laki-laki, perempuan dianggap kurang cocok sebagai pemimpin. Permasalahan ini juga ditemui dalam pelayanan dan kepemimpinan bergereja. Meskipun secara formal Gereja sudah menerima pendeta perempuan, tata Gereja juga memberi peluang bagi kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam pelayanan serta kepemimpinan, namun kesetaraan jender masih sulit dipraktekkan. Kebersamaan dalam melakukan fungsi Gereja serta mengambil keputusan masih merupakan hak istimewa laki-laki, terutama pada aras yang lebih tinggi. Realita seperti inilah yang juga terjadi dalam kepemimpinan GKSB

Dalam GKSB, keseluruhan pendeta sebenarnya berjumlah lima puluh dua orang hanya saja ada beberapa pendeta yang kemudian memilih menjadi abdi Negara, jadi yang aktif sebagai pendeta dan melayani jemaat saat ini keseluruhan berjumlah empat puluh tuju orang, terdiri dari 5 pendeta perempuan dan 42 pendeta laki-laki (Simon 2018).

Sejarah mencatat bahwa GKSB suda beberapa kali mengalami pergantian Majelis sinode GKSB. Namun sangat disayangkan bahwa sepanjang perjalanan sejarahnya, GKSB belum memiliki seorang pemimpin perempuan. Dan sampai saat ini tidak didapati seorang perempuan yang pernah menduduki jabatan dalam tingkat sinode dalam posisi apapun.

Dari latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang:

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja

(suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

 

 

 

B.            Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini adalah Apa yang menjadi faktor-faktor penyebab samapai sekarang sehingga Majelis Pekerja Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat belum pernah memiliki pemimpin/katua sinode perempuan.

 

C.           Tujuan Penulisan

Dengan menjawab pertanyaan di atas, maka diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian. Adapun tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisa secara kritis tentang faktor-faktor penyebab sehingga sampai saat ini Majelis Pekerja Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat belum pernah memiliki pemimpin/ketua sinode perempuan.

 

D.           Manfaat Penelitian

Berdasarkan  tujuan penelitian di atas  maka manfaat dari penelitian ini yaitu :

1.      Manfaat akademik

Dari hasil penelitian ini penulis berharap mampu memberi kontribusi dan menambah ilmu pengetahuan dalam hal kepemimpinan seorang Perempuan dalam jemaat serta penelitian ini bermanfaat sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya bagi mahasiswa yang hendak melakukan penelitian tentang kesetaraan jender dalam jemaat.

2.      Manfaat praktis

Secara khusus bagi penulis Penelitian ini diharapkan mampu memberi nilai-nilai hidup masyarakat dalam kehidupan warga jemaat. Kontribusi tersebut dapat mempertajam dan memperkaya makna kepemimpinan seorang Perempuan dalam gereja, sebagai pendekatan sosiologis berbasis budaya sehingga dapat dijadikan model pendekatan di jemaat untuk menyelesaikan untuk menanggapi diskriminasi terhadap kaum perempuan. Dan melalui penelitian ini dapat mengaktifkan kearifan  lokal sebagai pendekatan sosiologis sebagai wujud penerapan ilmu yang ditempuh di Program Study Sarjana (SI) di Sekolah Tinggi Teologia Sulawesi Barat (STT Sulbar) Mamuju. Dan juga sangat berguna bagi penulis agar memiliki kemampuan untuk  kritis dan peka dalam masalah-masalah yang mengancam kesatuan dan persatuan di waktu yang akan datang secara khusus dalam jemaat.

 

E.            Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dimana didalamnya penulis harus mengerti tahap-tahap apa saja yang harus diperhatikan sesuai dengan realitas sosial yang diperlukan dalam mengambil suatu hasil atau pembahasan yang sempurna.

 

 

 

 

F.            Sistematika Penulisan

Dalam penulisan penelitian ini, memetakan bagian pembahasan yang terdiri  atas beberapa bab yakni;

Bab I : memuat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan    penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : penulis akan menguraikan tentang landasan teoretis, dan teori peran yang akan digunakan dalam menganalisa situasi dan kondisi sosial yang menjadi sasaran untuk diteliti.

Bab III : Memuat tentang Metode Penelitian dan gambaran umum lokasi penelitian.

Bab IV : penyajian data yang memuat hasil penelitian, temuan dan analisis data

Bab V  :   penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Pengertian Pemimpin

Kepemimpinan yang baik  juga  dapat berpengaruh terhadap kinerja pegawainya selain memang harus adanya sumber daya manusia yang baik pemimpin juga berperan penting terhadap kinerja pegawainya.

Kepemimpinan bukan milik pribadi sesorang yang hanya bisa ditentukan melalui keturunan melainkan kepemimpinan merupakan proses yang dipakai oleh orang-rang ketika mereka memberikan yang terbaik dari diri mereka dan dan dari orang lain.[1] Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia, didefenisikan pimpinan sebagai hasil dari memimpin, bimbingan, tuntunan. Jadi pemimpin adalah orang yang memimpin : , penuntun dan membimbing.[2] Seperti pendapat Suradinata (1997:11) pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Dan pemimpin jika dialihbahasakan kedalam baha ingris ialah Leader yang memiliki tugas sebagai Lead anggota di sekitarnya.[3]

Dari hasil diskusi dengan seseorang, beliau memberikan pemahaman tentang kepemimpinan bahwa ”kepemimpinan itu merupakan atau karakter yang dimiliki oleh seseorang pemimpin dalam tugasnya sebagai pimpinan, bahkan kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang muaranya berujung pada keberhasilan bersama baik itu dalam keluarga, masyarakat, perusahaan, atau lembaga-lembaga formil pemerintahan, dan model kepemimpinan yang menjunjung tinggi integritas serta mau mendengar segala keluhan dan ikut serta memberi diri dalam pelayanan pun juga bersahabat dengan orang-orang yang dipimpinnya tanpa memandang muka dan RAS, itu cenderung disegani oleh masyarakat bahkan juga cenderung memiliki tingkat keberhasilan yang baik dalam memimpin”.[4]

Dari pengertian diatas pemimpin juga dapat dibagi dalam dua bagian yaitu : pertama. kepemimpinan yang transformasional ialah kepemimpinan yang visioner, berkharisma dan memiliki pengaruh yang positif terhadap kepuasan kerja serta dapat mempengaruhi perilaku perkerjanya sehari-hari. Hal ini juga sering kali diidentikkan dengan keefektifan dalam kepemimpinan, mampu berinovasi dan memperbaiki kualitas kepemimpinan.[5] Kedua : kepemimpinan yang situasional merupakan kepemimpinan yang bergantung pada kesiapan para bawahannya dengan melakukan interaksi dan pada tingkat dimana situasi dan kondisi memberikan kendali dan penaguh ke pada sorang pemimpin.[6]

 

B.     Kepemimpinan Kristen

Pada dasarnya, bahkan sampai saat ini sutu kepemimpinan dalam konteks kekristenan jelas bahwa didasari oleh dasar-dasar kristiani yang tak lain ialah Kasih dan dedikasi yang semata-mata untuk melayani. Kasih dan dedikasih ini yang kemudian harus menjadi ciri khas seorang pemimpin dalam konteks kekristenan dalam arti bahwa seorang pemimpin kristiani tidak untuk membedakan manusia dan tidak untuk menindas atau pun mendiskriminasi masyarakat, melainkan kepemimpinan dimaknai dan dilakukan dengan tulus dan tanpa pamri.

Secara teori bahkan dalam kitab suci umat kristiani jelas dipahami sebagai perwujudan campur tangan Tuhan dalam Gereja.[7] Dengan dasar ini, maka suatu kepemimpinan dalam gereja atau secara kristiani juga dapat dipahami sebagai suatu kepemimpinan yang yang murni sebagai panggilan Tuhan bukan duniawi. Hal ini bisa dilihat dalam Kitab perjanjian Baru secara khusus yaitu kepemimpinan seorang Yesus yang memberi teladan atau contoh kepemimpinan yang cukup berdedikasi dan memiliki kepribadian yang menjunjung tinggi cinta dan kasih terhadap semua manusia.[8] Jadi kepemimpinan secara kristiani itu selalu dikaitkan dengan kerohanian seseorang yaitu memiliki hati sebagai seorang hamba atau seoang gembala atau pun Pendeta.

 

C.    Kesetaraan Gender

Sejak awal tahun 80-an teori Gender bulai diperbincangkan dalam pemikiran feminis baik dalam bidang sejarah, antropologi, filsafat, psikologi dan ilmu alam dengan membuat peralihan (perubahan) dari investigasi yang berfokus pada perempuan pada tahun 70-an; seperti investigasi tentang sejarah perempuan, gynocriticism dan psikologi perempuan, kepada studi relasi gender yang melibatkan perempuan dan laki-laki. Perubahan paradigma itu membawa pengaruh yang sangat radikal yang tertransformasi pada beberapa disiplin kajian tentang perempuan. Dari sini dapat dilihat bahwa “gender” termasuk hal yang masih baru.[9]

Gender adalah seperangkat peran, seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa termasuk feminin atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, pekerjaan di dalam dan di luar rumah tangga, sexualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles peran gender. [10]Sedangkan menurut Nasaruddin Umar, Gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis

H.T.Wilson berpendapat bahwa, gender merupakan suatu dasar untuk menjelaskan tentang bagaimana sumbangan laki-laki dan perempuan dalam masalah kebudayaan dan kehidupan bersama, yang berakibat ia menjadi laki-laki atau perempuan.[11]

Seiring berjalannya waktu, kedudukan perempuan sudah mulai diperhatikan, hal ini dibuktikan dengan adanya  Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintah  Daerah khususnya dalam hubungannya dengan Peraturan Pemerintah Republik  Indonesia Nomor 13 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah  Nomor 100 Tahun 2000 Tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Struktural,  dan juga diperkuat dengan  Instruksi Presiden tentang Pengarus utamaan Gender (PUG) yaitu Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2000 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di daerah  dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan kaum perempuan sudah mulai diperhatikan, hal ini dibuktikan dengan adanya keterwakilan Perempuan di Lembaga Pemerintah yaitu Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-undang No.  02 Tahun 2008 Tentang Partai Politik (Parpol), dimana bahwasannyaketerlibatan perempuan dalam dunia politik minimal  sebesar 30 persen, terutama untuk duduk di dalam parlemen. Bahkan dalam Pasal 8 Butir di UU No. 10 Tahun 2008, disebutkan bahwa  sekurang-kurangnya 30 persen keterwakilan perempuan di dalam kepengurusan parpol tingkat pusat sebagai salah satu persyaratan parpol untuk menjadi peserta pemilu.[12]

Menurut Muhtar (2002), gender dapat diartikan sebagai jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelami, ciri jenis kelamin tersebut secara biologis bersifat bawaan, permanen dan tidak dapat dipertukarkan (Abdullah, 2004, 11).[13]

Secara umum pengertian gender berbeda dengan pengertian jenis kelamin, karena Gender juga dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana individu yang lahir secara biologis sebagai laki-laki dan perempuan yang kemudian memperoleh pencirian sosial sebagai laki-laki dan perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan feminitas yang sering didukung oleh nilai-nilai atau sistem dan simbol di masyarakat yang bersangkutan. Lebih singkatnya, gender dapat diartikan sebagai suatu konstruksi sosial atas seks, menjadi peran dan perilaku sosial. Menurut Ilmu Sosiologi dan Antropologi, Gender itu sendiri adalah perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula.[14]

Secara teologis kesetaraan laki-laki dan perempuan itu tidak memiliki perbedaan. Karena dalam ajaran iman kristen dikatakan bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan tidak dibedakan oleh strata sosial dan kedudukan juga kekayaan. Sama dalam arti bahwa baik laki-laki maupum perempuan itu memiliki tugas, tanggung jawab bahkan fungsi masing-masing. Sala satu contoh dalam Alkitab yaitu Ester yang diangkat menjadi seorang Ratu.[15] Pemimpin baik laki-laki maupun perempuan semua bertugas sebagai pemimpin jika ia menjadi seorang pemimpin.[16]

 

D.    Patriarki

Secara historis, patriarki telah terwujud dalam organisasi sosial, hukum, politik, agama dan ekonomi dari berbagai budaya yang berbeda. Bahkan ketika tidak secara gamblang tertuang dalam konstitusi dan hukum, sebagian besar masyarakat kontemporer pada praktiknya bersifat patriarkal.

Dalam pengertiannya, Patriarki merupakan sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda.[17]

 

E.     Gender dalam Budaya Masyarakat Kalumpang

Pada suatu wilayah, Adat-Istiadat merupakan kebiasaan suatu kelompok dalam mempertahankan budaya-budaya di daerah tertentu, dimana adat-istiadat secara khusus terdiri dari nilai-nilai budaya, pandangan hidup, cita-cita , norma-norma dan hukum. Dalam adat-istiadat di suatu kelompok harus ada sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling tinggi dan paling abstrak dari adat-istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai-nilai budaya itu merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran.

Dalam budaya lokal Indonesia secara kusus dalam konteks masyarakat Kalumpang, laki-laki dijadikan sebagai simbol kepemimpinan baik dalam suatu suku maupun dalam setiap kegiatan-kegiatan dalam satu komunitas masyarakat sedangkan perempuan selalu identik dengan kelemahlembutan. Pandangan inilah yang terus menerus menjadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini juga diperkuat dengan pendapat bahwa perempuan itu tidak berfikir secara logika dan tidak mengandalkan naluri sehinggah perempuan tidak ditempatkan pada posisi kepemimpinan.

Begitu pun dengan masyarakat Kalumpang pada umumnya perempuan juga dalam sejarah peradaban masyarakat Kalumpang tidak diposisikan sebagai pemimpin dalam komunitasnya, karena kepemimpinan selalu dilimpahkan bagi kaum laki-laki dimana laki-laki dianggap memiliki kemampuan baik secara fisik maupun secara mental untuk menjaga dan melindungi anggota kelompok mereka seperti kekuatan dan kemampuan seorang laki-laki dalam menghadapi musuh dalam peperangan juga termasuk dalam hal Sibundu’ dimana laki-laki melakukan tugas untuk berperang melawan kelompok-kelompok tertentu yang dianggap sebagai musuh yang mengancam kehidupan kelompok mereka. Salah satu contoh kepemimpinan dalam konteks budaya masyarakat Kalumpang Tobara’ (kepala kampung) yang sampai saat ini masih diduduki oleh kaum laki-laki sekalipun dalam sejarah masyarakat Kalumpang juga pernah di beberapa kampung menjadikan seorang perempuan sebagai Tobara’ namun lambat laun sampai hari ini hal itu tidak lagi nampak di kalangan masyarakat Kalumpang. Hal ini memberi penulis wawasan bahwa dari segi kebudayaan masyarakat Kalumpang sekalipun kaum perempuan tidak diposisikan sebagai pemimpin tetapi peran perempuan juga dalam suatu suku cukup memberi pengaruh bagi kehidupan sosial masyakat suku, dimana karena seorang pemimpin selalu diharuskan untuk memiliki pasangan hidup guna untuk meneruskan keturunan dan mengatur serta mengurus kebutuhan rumah tangga. Jadi hal ini dapat disimpulkan bahwa kaum perempuan juga memberi diri untuk berpengaruh dalam kepemimpinan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sekalipun dalam sejarah peradaban masyarakat Kalumpang, pemimpin selalu diidentikkan dengan posisi yang hanya diduduki oleh laki-laki namun bukan berarti kaum perempuan dalam kontek budaya kalumpang tidak bisa di posisikan sebagai seorang pemimpin dimana karena menurut beberapa tokoh adat, kaumperempuan juga dulu pernah menduduki kedudukan sama dengan kaum laki-laki namun tergantung dari kemampuan dan talenta dari kaum perempuan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.      Jenis Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan penelusuran, penyelidikan bahkan percobaan yang ilmiah di bidang tertentu juga untuk mendapatkan kebenaran yang baru.[18]

Metode penelitian menurut Jujun, S. Suriasumantri adalah cara atau proses yang digunakan dalam mendapatkan data yang lebih akurat dan representative.[19]

Penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, untuk mendapatkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis maupun secara lisan dari objek penelitian.[20] Penulis memilih metode penelitian kualitatif karena metode ini dapat memberikan kejelasan yang dapat diperifikasi dan mengandung makna untuk menjawab masalah dari perangkat data kualitatip.[21]

Dalam metode penelitian kualitatif, informen dijadikan sebagai sumber data serta informasi dengan fokus penelitian yang dikaji, gejala yang saling berkaitan dalam hubungan fungsional, yang dari keseluruhan membentuk satuan bulat yang menyeluruh dan sistemik.[22]

Jenis penelitian ini penulis gunakan untuk menganalisis tentang pentinggnya kesetaraan gender dalam gereja dengan melibatkan kam perempuan dalam kepemimpinan di lingkup GKSB.

 

B.       Lokasi dan Waktu Penelitian

1.         Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di ruang lingkup GKSB Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, yang melibatkan warga pengurus Sinode bahkan sampai pada pengurus Klasis dimana responden yang telah penulis tentukan melalui analisa penulis.

Agar penelitian ini sesuai dengan apa yang diharapkan maka penulis membatasi rung lingkup penelitian, yaitu penelitian dilaksanakan berfokus pada pengurus Sinode dan beberapa Klasis yang penulis telah tentukan

2.         Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini berjalan mulai dari observasi awal yang penulis lakukan untuk pengajuan proposal judul ini. Dan penelitian ini akan dilanjutkan dengan pengumpulan data informasi dengan membagikan kusioner kepada setiap responden untuk menjawab setiap pertanyaan yang telah ditentukan terhadap informan berlangsung selama waktu yang telah ditentukan.

C.      Narasumber/Informan

Penulis menentukan narasumber atau informan dalam penelitian ini yaitu pengurus Sinode dan pengurus Klasis yang terdiri dari Ketua Sinode, Pendeta (majelis), yang terlibat langsung dalam siatuasi tersebut, dengan tujuan agar penulis dapat mendapatkan informasi yang akurat tentang penelitian ini

 

D.      Fokus Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis fokus pada Apa yang menjadi faktor-faktor penyebab samapai sekarang sehingga Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Barat belum pernah memiliki pemimpin/katua sinode perempuan.

 

E.       Jenis Data

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan berbagai data dari lokasi penelitian, seperti data primer yang penulis kumpulkan dari lokasi penelitian melalui responden seperti individu, kelompok fokus dan kelompok responden dengan cara membagikan kusioner kepada responden. Selain jenis data primer, penulis juga mengumpulkan jenis data sekunder yaitu jenis data yang diperoleh dari sumber-sumber pustaka seperti media cetak, buku, dan jurnal ilmiah.[23]

 

 

 

F.       Teknik Pengumpulan Data

Menurut Arikunto teknik pengumpulan data adalah metode atau cara yang dipakai oleh peneliti guna mengumpulkan data dari sesuatu yang abstrak tetapi hasilnya dan fungsinya dapat dipertontonkan.[24]

Dalam teknik pengumpulan data ini penulis terjun langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan berbagai informasi yang dapat dijadikan sebagai data yang valid. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dalam beberapa prose, yaitu :

1.    Wawancara

Wawancara merupakan suatu percakapan yang dilakukan oleh dua pihak dimana pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee). Pewawancara memberikan pertanyaan terhadap pihak yang diwawancarai untuk mendapatkan informasi sekaitan dengan maksud dan tujuan pewawancara.[25] Untuk mendapatkan unformasi atau data yang lebih akurat dalam proses wawancara, peneliti harus menciptakan suasana dan hubungan yang baik antara pewawancara dan informan agar informan dapat bekerjasama dengan pewawancara dengan tujuan sehingga informan dapat memberikan informasi secara terbuka dan jelas. Peneliti menggunakan teknik wawancara yang terstruktur agar proses wawancara berjalan dengan baik dan dapat memberikan suasana yang santai bagi informan dalam mamberikan informasi namun tetap fokus dan terarah pada tujuan yang hendak dicapai.

Dalam proses wawancara, peneliti menggunakan wawancara yang  terstruktur, dengan tetap menggunanakan pedoman wawancara berupa pertanyaan penting yang kemudian dapat dikembangkan selama proses wawancara. Berikut pedoman wawancara dalam penelitian :

1)   Apakah kamu tahu adanya pemimpin seorang perempuan di Jemaat anda ?

2)   Bagaimana sikap anda terhadap kehadiran seorang pemimpin perempuan ?

3)   Bagaimana penilaian anda terhadap atas kehadiran seoang pemimpin perempuan ?

4)   Apakah anda setuju dengan kehadiran seorang pemimpin atau pelayan perempuan di jemaat ?

5)   Apakah anda setuju jika dalam gereja juga banyak pemimpin perempuan ?

6)   Menurut anda, apakah Alkitab juga menghargai kepemimpinan perempuan ?

7)   Apakah anda setuju jika seorang perempuan menjadi seorang pemimpin ?

8)   Apakah anda tahu tentang kelebihan seorang perempuan dalam pemimpin ?

9)   Apakah anda tahu tentang kekurangan seorang perempuan dalam pemimpin ?

10)                        Menurut anda, apakah suatu jemaat akan memiliki kemajuan jika dipimpin oleh seorang perempuan?

 

2.    Instrumen penelitian

Dalam penelitian ini yang menggunakn teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara, oleh karena itu penulis menggunakan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data dari lokasi penelitian. Instrumen penelitian yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

a.       Telepon genggam

Instrumen ini digunakan untuk merekam setiap wawancara yang dilakukan oleh pewawancara untuk menyimpan informasi dalam bentuk audio sehingga dapat memudahkan penulis dalam mengolah informasi yang berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai. Selain untuk merekam wawancara instrumen ini juga penulis gunakan untuk mendokumentasikan kejadian-kejadian yang penting yang dapat memberikan informasi baik dalam bentuk video maupun dalam bentuk foto.

b.      Alat tulis

alat tulis berupa polpen, pensil dan buku catatan penulis gunakan untuk menulis atau mencatat poin penting atau hal utama dalam penelitian selama proses pengumpulan data dari lokasi penelitian.

3.    Observasi

Teknik observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis pada gejala-gejala yang nampak pada objek penelitian. Dalam melaksanakan teknik observasi peneliti terlibat langsung dengan informan sebagai sumber data dan informasi yang penulis teliti. Peneliti melakukan pengamatan terhadap situasi yang terjadi di kalangan masyarakat di lokasi penelitian untuk mengetahui dan melihat gejala-gejala yang ada sekaitan dengan tujuan yang hendak dicapai.

 

4.    Dokumentasi

Teknik dokumentasi dilakukan dengan menyelidiki tulisan-tulisan, dokumen, buku-buku, majalah, notulen rapat, dan catatan harian yang sehubungan dengan apa yang penulis teliti. Teknik dokumentasi ini peneliti, peneliti gunakan untuk menyelidiki data-data yang berkaitan dengan tujuan penelitian di lokasi penelitian yaitu data-data yang ada di ruang lingkup GKSB secara khusus data tentang kepemimpinan dalam GKSB.

 

G.      Teknik Analisis Data

Proses analisis dimulai sejak penulis merumuskan hasil observasi awal sampai saat ini, tetapi pada penelitian kualitatif analisis data dilakukan secara terfokus selama penulis berada di lokasi penelitian untuk mengumpulkan data.[26] Dan dalam proses analisis data menurut Miles dan Huberman, ada tiga bentuk kegiatan dalam proses analisis data, yaitu :[27]

a.      Proses Reduksi

Proses ini adalah proses yang paling utama dalam proses analisis data, dimana proses ini sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transpormasi data yang masih kasar dari catatan lokasi penelitian. Reduksi mulai dilakukan pada saat pengumpulan data dimulai dengan pembuatan ringkasan, penelusuran tema, dan penulisan memo dengan tujuan untuk memisahkan data atau informasi yang tidak menguntungkan lalu kemudian melakukan verifikasi data.

b.      Proses penyajian data

Mendeskripsikan setiap informasi tersusun yang memiliki kemungkinan untuk menarik kesimpulan. Data kualitatif disajikan dalam bentuk naratif dengan tujuan untuk merancang dan menggabungkan informasi yang tersusun secara sistematis sehinggah mudah dipahami

c.       Proses penarikan kesimpulan atau veripikasi

Proses ini adalah proses yang terakhir. Penarikan kesimpulan dan verifikasi dari segi kebenaran dan makna yang dirumuskan oleh penulis harus diuji kebenaran dan keabsahannya.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan ketiga teknik analisis data yang dijelaskan Miles dan Hubermer, dengan mengikuti setiap tahap dalam prosenya untuk  mendapatkan keabsahan data dengan menganalisis setiap data seperti hasil wawancara, naskah, catatan lapangan, dan dokumen yang penulis dapatkan dari lokasi penelitian untuk memperjelas fakta-fakta terkait dengan apa yang penulis teliti, sehingga peneliti dapat menarik sebuah kesimpulan.

BAB IV

PEMAPARAN HASIL PENELITIAN

 

A.      Gambaran Umum Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

1.         Letak Geografis dan Gambaran Umum

Dalam sejarahnya Gereja Kristen Sulawesi Barat ini awalnya merupakan organisasi yang terbentuk di bawah naungan Sinode Gereja Toraja Mamasa (GTM) yang didirikan oleh seorang penginjil dari Zending. Setelah kekristenan mulai tumbuh dan berkembang di tengah agama suku terjadi peralihan dari Gereja Toraja Mamasa (GTM) menjadi Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS). Setelah beberapa tahun Jemaat tersebut kembali hidup dalam masa peralihan  menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB). Dengan alasan pertimbangan pengurusan Administrasi maka Gereja Toraja Mamasa (GTM) mengeluarkan rekomendasi untuk Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB).

Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB) mendirikan Kantor Sinode berada tepat di kota Mamuju, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, yang dimana lokasi pelayan atau pusat terbesar pelayanan  berada di dua kecamatan yaitu Kecamatan Bonehau dan kecamatan Kalumpang Kab. Mamuju, Provinsi Selawesi Barat yang dihuni oleh sub suku Toraja-Kalumpang.  Masyarakat Kalumpang awalnya adalah masyarakat primitif yang sangat inklusif dengan kebudayaan, adat serta tradisi yang menata kehidupan mereka di bawa jagat raya ini. Dalam pandangan mereka konsep Tuhan tidak mesti rasional yang penting bisa menata segenap aspek kehidupan manusia.

Masyarakat Kalumpang merupakan masyarakat yang berhimpun sebagai simbol masyarakat yang mengedepankan persatuan dan persaudaraan yang sekalipun setiap perkampungan berjarak namun di setiap kampung tersebut, jarak rumah yang berdekatan yang tertata rapi, serta kehidupan masyarakat yang rama, menjung tinggi toleransi, sikap lapang dada terhadap pendatang.

2.         Ekonomi

Warga Jemaat atau masyarakat Kalumpang, jika ditinjau dari segi ekonomi mereka termasuk kategori kuat karena pada umumnya adalah petani yang hasil pertanian mereka mencapai kira–kira 98%, yang memproduksi beras, jagung, coklat, kopi dan kemiri, bahkan di beberapa daerah yang ada di kecamatan Kalumpang dan Bonehau mengandung kekayaan alam yaitu emas, batu bara, rotan dan kayu yang berkelas yang cukup tinggi sehingga kehidupan perekonomian jemaat/masyarakat cukup produktif menunjang kebutuhan pokok (Primer) dan untuk menjual hasil pertanian dan mendapatkan kebutuhan sehari-hari itu mereka bisa dapatkan di pasar dan penjual atau kios-kios yang ada di setiap perkampungan. Dari sisi lain masyarakat di kecamatan Kalumpang dan Bonehau juga tergolong maju di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) hal ini terlihat dari  jumlah penduduk secara khusus generasi muda dengan pendidikan rata-rata lulusan Strata Satu (SI) dan yang paling rendah lulusan SMA.

B.       Sejarah Gereja

Dinamika kehidupan Gereja Kristen Sulawesi Barat  di latar belakangi oleh agama leluhur sub-suku Toraja Mamasa. Di tengah  masa pengenalan injil bagi mereka yang masih hidup dalam kepercayaan agama leluhur pra kekristenan, terjadi pemberontakan  yang menawarkan dua agama wajib untuk dipilih yakni agama Kristen dan Islam, maka penduduk berbondong-bondong pinda masuk agama Kristen dengan pertimbangan bahwa agama Kristen memperbolehkan mereka makan daging babi. Namun terlepas dari itu Masyarakat kalumpang juga pada umumnya memiliki sejarah suku atau asal usul tersendiri tentang keberadaan masyarakat kalumpang. Kalumpang sebelum mengenal kekristenan masyarakat tinggal serta menetap di kampung-kampung yang sebagian besar terletak di daerah pegunungan. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan masyarakat sangatlah pesat sehingga memaksa mayarakat untuk mencari lokasi perkampungan yang baru yang lebih luas, sehinggah sekitar tujuh puluh tahun silam masyarakat yang berada di pegunungan sebelumnya pindah ke kaki gunung mencari dataran rendah untuk menetap dan tinggal disana.

 

C.      Struktur Dasar GKSB

Berikut susunan struktur Dasar Gereja Kristen Sulawesi Barat :

Ketua Umum : Pendeta Simon M. Topangae, M.Th

Wakil Ketua : Pendeta Sirjon B. Sitoena, M.Th

Sekum : Pendeta Kalvin Barangan, S.Th

Wasekum : Pendeta Pilatus Mananora, S.Th

Bendahara : Pendeta Feiber Tombokan, SH, S.Si Teol

Majelis Pertimbangan :

Pendeta Robert P. Borrong, Ph.D

Pendeta Kalvin Kalambo, M.Th

Pendeta Dr. Yotham P. Timbonga, S.Th, MH

 

D.      Visi dan Misi GKSB

“ Mandiri dalam Teologi Daya dan Dana”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

E.       Program Kerja GKSB

Jadwal kegiatan MPS-GKSB mulai dari bulan Agustus sampai pada bulan September 2021

No

Kegiatan

Pelaksanaan

Pelaksana

1

Pembinaan Pertanian

Tambing-tambing 23-24 Agustus 2021

MPS GKSB

2

Pembinaan Pertanian

Pasangkayu 26-27 Agustus 2021

MPS GKSB

3

Ujian Skripsi

Mamuju, 6-7 September 2021

STT Sulbar

4

Kuliah Penyetaraan

Mamuju, 8-10 September 2021

MPS GKSB

5

Rapat MPS-GKSB

Mamuju, 11 September 2021

MPS GKSB

6

Rapat BPK. PKB Sinode

Batu isi, 13-15 September 2021

Ketum GKSB

7

Penyusunan Renstra GKSB

Mamuju, 28-29 September 2021

MPS GKSB

8

Pemeriksaan BPP Sinode

Mamuju, 16-17 September 2021

MPS BPP

9

Pengadaan Patung

Mamuju, September 2021

MPS GKSB

 

 

F.       Pemaparan hasil penelitian

Setelah penulis melakukan obsevasi dan penelitian di lapangan sesuai yang dijadwalkan melalui wawancara kepada setiap informan yang penulis anggap sebagai masyarakat yang berpengaruh terhadap situasi ataupun keadaan yang terjadi di lokasi penelitian, guna untuk menjawab setiap masalah yang ada dalam karya tulis ini, oleh sebab itu penulis dalam bab ini memaparkan hasil penelitian yang telah penulis kumpulkan dari informan, dan sebagai informasi awal penulis perlu tegaskan bahwa yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh atau pejabat Sinode dan sampai pada pengurus Klasis. Berikut hasil penelitian dari lokasi penelitian :

1.    Apakah kamu tahu adanya pemimpin seorang perempuan di Jemaat anda ?

Dari hasil wawancara di lokasi penelitian terhadap informan, maka peneliti mendapatkan jawaban yang tidak jauh beda dengan jawaban dari narasumber lain, atas pertanyaan di atas seperti yang dijelaskan oleh bapak Yoel (ketua BPK Kaum Bapa), bahwa mereka mengetahui tentang adanya beberapa pemimpin seperti Pendeta dan majelis dalam jemaat di GKSB dengan alasan bahwa dalam satu jemaat juga perlu adanya pemimpim seorang perempuan dimana karena dalam satu jemaat memiliki Organisasi Intra Gerejawi seperti misalkan BPK Perempuan secara otomatis yang memimpin OIG tersebut ialah perempuan begitu juga secara jemaat banyak bukti yang telah kita lihat di beberapa jemaat-jemaat secara kusus dalam GKSB bahwa kepemimpinan seorang perempuan dalam membawa suatu jemaat juga memiliki tingkat keberhasilan yang cukup baik. Hal ini juga ditegaskan oleh ibu Hesti dengan jawaban bahwa “selaku warga jemaat yang secara langsung ikut dalam pemilihan MPJ di jemaat juga mengetahui setiap pemimpin-pemimpin perempuan dalam jemaat mereka”.[28]

2.    Bagaimana sikap anda terhadap kehadiran seorang pemimpin perempuan ?

Dari semua narasumber yang penulis jumpai dalam suatu wawancara mereka memberikan jawaban mereka bahwa mereka sangat menyukai kehadiran seorang pemimpin perempuan dalam jemaat, dengan alasan bahwa untuk memberi suasana yang lebih baik lagi sekalikus memberi ruang dan bukti bahwa dalam gereja/jemaat kesetaraan Gender itu sudah berlaku, dan dengan kehadiran seorang pemimpin perempuan tentu akan memberi suasana yang baru tentang kebersihan dan kerapian baik rumah ibadah maupun dalam pola pelayanan.[29]

3.    Bagaimana penilaian anda terhadap atas kehadiran seoang pemimpin perempuan ?

Jawaban dari narasumber di lokasi penelitian, dengan kehadiran seorang pemimpin perempuan dalam suatu jemaat tentu akan memberi dorongan dan motivasi bagi generasi muda secara khusus bagi generasi muda kaum perempuan untuk juga memiliki persaingan dalam mengejar ilmu karena perempuan dalam suatu gereja juga dapat menduduki kedudukan yang sama dengan kedudukan kaum laki-laki.  Hal ini dipertegas oleh bapak Lhot dengan mengatakan bahwa pemimpin prempuan dalam satu jemaat itu juga diperlukan dan sangat dibutuhkan karena sorang perempuan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap tugasnya sebagai seorang pemimpin/Pendeta.[30]

4.    Apakah anda setuju dengan kehadiran seorang pemimpin atau pelayan perempuan di jemaat ?

Semua narasumber memberi jawaban bahwa sangat setuju dengan alasan bahwa kaum perempuan juga dapat memberi diri dengan talenta dan kemampuannya di dalam melayani Tuhan dan kemudian hal itu telah diterapkan dalam beberapa Organisasi Intra Gerejawi.[31]

5.    Apakah anda setuju jika dalam gereja juga banyak pemimpin perempuan ?

Atas pertanyaan ini narasumber memberi jawaban bahwa mereka setuju jika dalam satu gereja/jemaat banyak pemimpin/pdt perempuan dengan alasan bahwa manusia itu semua sama di mata Tuhan tidak ada perbedaan baik secara strata sosian, budaya dan jenis kelamin melainkan setiap manusia diberi talenta sesuai dengan kemampuang masing-masing jadi tidak jadi masalah jika dalam jemaat kaum perempuan juga dilibatkan. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Tandeng Sibela bahwa sudah banyak bukti tentang kepemimpinan seorang perempuan baik sebagai pemimpin dalam pemerintahan maupun dalam gerejawi kaum perempuan juga sudah banyak memberi diri untuk melayani lewat kepemimpinan.[32]

6.    Menurut anda, apakah Alkitab juga  menghargai kepemimpinan perempuan ?

Tentu jawaban atas pertanyaan ini cukup beragam ada yang setuju adanya juga yang sangat setuju namun tidak ada yang tidak setuju karena menurut mereka Alkitab itu tidak pernah membedakan kedudukan seorang manusia melainkan mengangkat semua manusia. Bapak Yoel memberi alasan bahwa didalam Alkitab tidak ada larangan tentang perempuan tidak boleh memimpin dalam gereja. Dan dilanjutkan oleh ibu Hesti bahwa dalam Alkitab juga banyak Tokoh perempuan yang menjadi pemimpin dan perjuangan seorang perempuan seperti misal[33]kan ratu Ester.

7.    Apakah anda setuju jika seorang perempuan menjadi seorang pemimpin ?

Setiap narasumber yang penulis jumpai dalam wawancara mereka memberi jawaban bahwa mereka setuju ketika seorang perempuan menjadi pemimpin dengan alasan yang paling menonjol bahwa di era sekarang pemimpin itu tidak ditentukan oleh jenis kelamin melainkan ditentukan oleh sikap dan kemampuan seseorang baik itu laki-laki maupun perempuan.

8.    Apakah anda tahu tentang kelebihan seorang perempuan dalam pemimpin ?

Narasumber memberi jawaban dengan memberi penjelasan tentang pengalaman-pengalaman baik itu dalam ruang lingkup GKSB maupun di lingkup pemerintahan, tidak sedikit juga kaum perempuan yang memberi diri untuk menjadi seorang pelayan dalam gereja dan juga cukup memiliki bangak pengaruh terhadap perkembangan suatu jemaat yang dipimpinnya. Begitupun juga dalam konteks pemerintahan, di bidang tertentu kaum perempuan juga menunjukkan kemampuan dan kebolehan mereka dalam memimpin ataupun menduduki satu kursi seperti misalkan Bupati, DPR dan sampai pada instansi-instansi. Dengan begitu kita bisa melihat kelebihan atau pun kemampuan seorang perempuan dalam satu kepemimpinan. Apakah anda tahu tentang kekurangan seorang perempuan dalam pemimpin ?

9.    Menurut anda, apakah suatu jemaat akan memiliki kemajuan jika dipimpin oleh seorang perempuan?

Dari semua acuan pertanyaan di atas responden memberikan jawaban ke pada penulis dalam wawancara tersebut, responden memberikan jawaban dan alasan yang tidak jauh berbeda bahwa setiap pemimpin dalam suatu organisasi itu, baik laki-laki maupun perempuan tentu akan memberi sumbangsih namun tergantung pada pribadi mereka masing-masing dan juga tujuan membangun dalam suatu organisasi secara kusus dalam lingkup gerewi.

 

G.      Analisis Hasil Penelitian

Faktor yang mempengaruhi MPS GKSB belum pernah melibatkan atau memiliki Pemimpin seorang Perempuan di tingkat Sinode.

1.      Pengaruh Doktrin Gereja yang Mengunggulkan Laki-laki

2.      Masih Kuatnya Budaya Patriarki dalam Kehidupan Jemaat

3.      Pendidikan

4.      Pengaruh Pandangan Stereotipe Terhadap Laki-laki dan Perempuan

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Barri Z. Possner dan James M. Kouzes, Tantangan Kepemimpinan (Jakarta Erlangga. 2004).

https://www.google.com/search?client=opera&q=pengertian+pemimpin&sourceid=opera&ie=UTF-8&oe=UTF-8 (diakses pada tanggal 5 mei 2021)

Jony Oktavian Haryanto, Kepemimpinan Yang Melayani (Salatiga : UKSW 2004).

Sondang P. Siagian, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992).

S, Pamudji. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia (Jakasta PT. Bina Aksara, 1986). Hal.

Eka Darma Putra, Kepemimpinan dalam Persfektif Alkitab(Jakarta. STT 2001).

Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-undang No. 02 Tahun 2008 Tentang Partai Politik

https://www.google.com/search?q=pengertian+gender+menurut+para+ahli&client=opera&ei=k61IYfXaFJfaz7sPq5ChoAo&oq=pengertian+gender&gs_lcp=Cgdnd3Mtd2l6EAEYADIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQRxCwAzIHCAAQsAMQQzIHCAAQsAMQQ0oECEEYAFAAWABguB9oAXACeACAAQCIAQCSAQCYAQDIAQrAAQE&sclient=gws-wiz. (Diakses pada tanggal 15 September 2021).

https://elearning.menlhk.go.id/pluginfile.php/854/mod_resource/content/1/analisis%20gender/pengertian_gender.html. (diakse pada tanggal 17 mei 2021)

Marwah Ibrahim., Perempuan Indonesia (Jakarta : Pustaka Harapan). Hal.

Bressler, Charles E. Literary Criticism: An Introduction to Theory and Practice 4th-ed. Pearson Education, Inc. 2007. ISBN-13: 978-0-13-153448-3

Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Reneka Cipta, 1993),

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005).

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007).

Mattew B. Milles dan Michael A. Huberman, Analisis Data Kualitatif (Jakarta: UI Press, 1992),

Hamid Patilima. Metode Penelitian Kualitatif. (Jakarta: ALFABETA.2011).

Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2012),

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,(Jakarta : Rineka Cipta, 2002, Cet.XII).

Sugiyono dan R&D, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6. 335-336.

Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009).



[1] Barri Z. Possner dan James M. Kouzes, Tantangan Kepemimpinan (Jakarta Erlangga. 2004). Hal. 24

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia.

[4] Wawancara dengan Yulfandri H. Siayan Dusuk. S.Th (pada tanggal 6 mei  2021)

[5] Jony Oktavian Haryanto, Kepemimpinan Yang Melayani (Salatiga : UKSW 2004). Hal. 5

[6] Sondang P. Siagian, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1992). Hal. 42

[7] S, Pamudji. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia (Jakasta PT. Bina Aksara, 1986). Hal. 5

[8] Eka Darma Putra, Kepemimpinan dalam Persfektif Alkitab(Jakarta. STT 2001). Hal. 82.

[9] (Showalter 1989:1).

[10] (Mosse 1996:3).

[11] ( Umar 1999:35).

[12] Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Undang-undang No. 02 Tahun

2008 Tentang Partai Politik

[15] Alkitab

[16] Marwah Ibrahim., Perempuan Indonesia (Jakarta : Pustaka Harapan). Hal. 23.

[17] Bressler, Charles E. Literary Criticism: An Introduction to Theory and Practice 4th-ed. Pearson Education, Inc. 2007. ISBN-13: 978-0-13-153448-3

[18]  Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Reneka Cipta, 1993), 23

[19] Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2005). 88

[20] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007).2,

[21] Mattew B. Milles dan Michael A. Huberman, Analisis Data Kualitatif (Jakarta: UI Press, 1992), 278

[22] Hamid Patilima. Metode Penelitian Kualitatif. (Jakarta: ALFABETA.2011). 1-9

[23] Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2012), 289

[24] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,(Jakarta : Rineka Cipta, 2002, Cet.XII). 134.

[25]Lexy, J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:  Remaja Rosdakarya,2000)135

[26]Sugiyono dan R&D, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2008), Cet. 6. 335-336.

[27]Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009). 85-89.

 

[28] Wawancara bersama Ketua BPK Kaum Bapak dan  beberapa narasumber lainnya, tgl 20-30 juni 2021

[29] Wawancara bersama narasumber di lokasi penelitian, tgl 20-30 juni 2021

[30] Wawancara bersama bapak Lhot dan  beberapa narasumber lainnya, tgl 20-30 Juni 2021

[31] Wawancara bersama narasumber, tgl 20-30 Juni 2021

[32] Wawancara bersama bapak Tandeng Sibela dan  beberapa narasumber lainnya, tgl 20-30 Juni 2021

[33] Wawancara bersama bapak Yoel dan  ibu Hesti serta beberapa narasumber lainnya, 20-30 Juni 2021

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?