Tugas Menanggapi Buku : Bimbingan Praktis Bagi Anak
Ketika menanggapi
perilaku anaknya, orangtua harus membedakan antara penyimpangan dan
ketidakdewasaan, melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan usia anak, dan
bereaksi dengan penuh pertimbangan sehingga tidak membuat anak kecil hati.
Orangtua harus secara bertahap menyesuaikan keketatan caranya bertindak sebagai
orangtua dengan usia si anak. Sebagian orangtua merasa bahwa konsistensi berarti
selalu mengharapkan hal yang sama dari anak mereka dan bereaksi yang sama pula.
Namun anak membutuhkan sikap orangtua yang berbeda pada saat ia baru di Taman
kanak-kanak dan waktu ia masuk ke SMA. Pada usia yang amat dini anak harus
belajar bahwa kehendaknya bukanlah satu-satunya di dunia, dan bahwa ia bukanlah
orang satu-satunya yang memilki kehendak dan pilihan. Secara khusus, seorang
anak kecil perlu belajar bahwa kehendak dan pilihan. Secara khusus seorang anak
kecil perlu belajar bahwa kehendak orangtuanya (artinya, keputusan orangtua)
sering mengatasi kehendaknya sendiri. Ia perlu belajar menerimanya sebagai
suatu fakta kehidupan.
Bagi anak yang kecil, sikap orangtua yang relatif ketat
amatlah tepat. Sebaliknya, seorang remaja perlu memiliki banyak kesempatan
untuk mengambil keputusannya sendiri, dan bahkan melakukan kesalahannya
sendiri, yang membutuhkan sejumlah kebebasan dan dorongan dari orangtua.
Kebebasan remaja sampai taraf tertentu harus dipandang sebagai suatu hal yang
positif, kalau remaja tidak belajar mengambil keputusannya sendiri dan
menanggungnya, ia tidak akan pernah menjadi sungguh-sungguh dewasa. Bila ia
tidak pernah belajar hidup dengan kata “Tidak” pada waktu kecilnya, dapat
dipastikan bahwa ia akan menemukan lebih
banyak kesulitan dengan kata “Tidak” ketika ia makin besar. Namun inilah makna
Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu. Banyak orang yang
menafsirkan ayat ini sebagai janji kepada orangtua bahwa, bila anak didik benar
sejak kecilnya, ia akan hidup sesuai akan didikan itu dalam hidupnya
selanjutnya. Namun dalam bahasa Ibrani ayat ini secara harafiah berkata,
“didiklah anak menurut jalannya,” dan kemungkinan besar “nya” yang dimaksudkan
disini adalah “anak” itu. Dengan demikian, inti dari ayat ini ialah, bila kita
mencoba mendidik anak dengan membiarkan ia mengambil jalannya sendiri, bila ia
besar ia akan selalu bertindak sesuai dengan kehendaknya.
Orangtua harus membedakan antara penyimpangan dengan
ketidakdewasaan dan bersikap berbeda kepada masing-masing sikap. Bila ingin
menyederhanakannya, kita dapat mengatakan bahwa semua perilaku dapat dibagi ke
dalam dua bagian (dari sudut pandangan orangtua) yaitu perilaku yang diingini
dan perilaku yang tidak diingini. Perilaku yang menyimpang adalah perilaku yang
tidak diingini terhadap suatu petunjuk atau larangan yang jelas dari orangtua.
Dengan kata lain, bila orangtua dengan jelas berkomunikasi dengan anaknya bahwa
ia tidak boleh melakukan suatu hal tertentu, tetapi anak itu toh melakukannya,
itulah penyimpangan. Orangtua dapat membangkitkan kemarahan anak-anak atau
menyakiti hati mereka dalam banyak cara. Salah satunya ialah dengan menciptakan
terlalu banyak aturan. Biasanya kita hanya memerlukan sejumlah aturan dasar
saja yang dengan jelas disampaikan dan dengan konsisten diterapkan. Hukuman
harus diberikan dengan penuh pertimbangan, bukan sekedar sebagai reaksi
emosional. Pertama-tama kita harus membicarakan apakah hukuman fisik itu memang
perlu. Banyak psikologi dan ahli anak merasa bahwa orangtua tak boleh
menggunakan hukuman fisik terhadap anak. Mereka menganggap, orangtua yang
memukul anaknya itu memberikan contoh kekerasan dan bahkan menganjurkannya.
Bila ketidaktaatan diikuti oleh hukuman, hal-hal lainnya
pun harus mengikuti ketidaktaatan. Agar hukuman itu memperoleh dampaknya yang
terbaik, ia harus digabungkan dengan tindakan-tindakan seperti koreksi,
pengajaran, teladan, dan dorongan. Tugas orangtua belum selesai dengan
pemberian hukuman saja. Ingat bahwa disiplin adalah bimbingan praktis – positif
tapi juga negatif. Orangtua tidak boleh selalu menjawab penyimpangan dengan
hukuman. Kalau orangtua memandang dirinya sebagai pemberi bimbingan praktis
bagi anak-anaknya ketimbang seorang polisi di rumah, maka bimbingan itu
mencakup petunjuk-petunjuk yang positif maupun negatif.
v
Tanggapan
Sejak kecil sampai
dengan remaja, anak mendapatkan banyak pengaruh dalam setiap minggu hidupnya
sehari-hari. Masing-masing pengaruh mempunyai dampaknya yang khas dalam
membentuk sifat dan masa depan individunya, oleh karena itu dari kecillah
anak-anak di didik dengan baik dan juga sudah diterapkan aturan-aturan yang
sesuai dengan umur si anak. Dalam materi diatas dikatakan bahwa anak
membutuhkan sikap orangtua yang berbeda pada saat ia baru di Taman kanak-kanak
dan waktu ia masuk ke SMA, ini sering terjadi dalam keluarga, orangtua biasanya
selalu bersikap ketat dan terus bersikap ketat sampai si anak menjadi remaja,
ini biasanya membuat anak menjadi tidak nyaman dan akan memberontak, karena ia
berfikir bahwa ia tidak seharusnya diperlakukan terus menerus seperti ini, dan
dari situ juga terjadilah penyimpangan. Orangtua juga sering menganggap bahwa
apa yang dia lakukan itu sudah benar tanpa mengerti dan memahami apa yang
diinginkan oleh anak. Anak juga membutuhkan kebebasan agar ia bisa
mengekpresikan apa yang ia ketahui.
Jika orangtua
melaksanakan wewenangnya hanya sekedar
untuk menunjukkan siapa bos sebenarnya, biasanya ia hanya memenuhi kebutuhan
egonya saja dan bukan kebutuhan anak, anak juga harus belajar mengatur
perilakunya sendiri, ia perlu mempelajari alasan-alasan bagi pilihannya maupun
batasan-batasan tertentu.
Dalam materi di atas
yang menjelaskan bahwa banyak psikologi
dan ahli anak merasa bahwa orangtua tak boleh menggunakan hukuman fisik
terhadap anak. Mereka menganggap, orangtua yang memukul anaknya itu memberikan
contoh kekerasan dan bahkan menganjurkannya, saya sepaham akan hal itu,
harusnya jika anak-anak melakukan kesalahan jaganlah orangtua langsung
melakukan kekerasan, hendaklah ia melakukan teguran kepada anaknya itu agar
tidak melakukan perbuatan yang sama, tetapi terkadang juga anak tidak pernah
kapok jika ditegur orangtuanya dan malah dia selalu mengulangi
perbuatan-perbuatan yang tidak baik, inilah juga membuat orangtua gusar kepada
anaknya, dan juga ada anak yang apabila sudah mengalami kekerasan pada
orangtuanya ia baru sadar bahwa apa yang ia lakukan sebenarnya perbuatan yang
salah.
Komentar
Posting Komentar