Tugas Laporan Baca Sosiologi Agama (Buku: Agama dan Masyarakat)
-
Tylor dan Spencer menganggap agama
sebagai suatu hasil pemikiran manusia dan hasrat-hasrat untuk mengetahui. (Hal
) saya setuju jika dikatakan bahwa agama merupakan hasil pemikiran dan
hasrat-hasrat untuk mengetahui karena kita mengetahui suatu agama sekarang dari
orang-orang terdahulu, waluapun kita mengetahui jika sekarang ada beberapa agma
yang ada.
Uraian
Umum
Dalam
buku ini mencoba memberikan kepada pengkaji sosiologi dan orang awan awam yang
berminat, suatu pandangan dasar mengenai peranan agama dalam berbagai masyarakat.
Agama disini dibicarakan dalam
pengertian luas dan universal, dari sudut pandangan sosial dan bukan dari sudut
pandangan individual atau teologis. Keuniversalan tingkah laku keagamaan
diantara umat manusia untuk alasan-alasan yang praktis bisa diterima
kebenarannya. Agama adalah gejala yang begitu sering “terdapat dimana-mana”
sehingga sedikit menbantu usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari
keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan
khayalnya yang paling luas dan yang digunakan untuk membenarkan kekejaman orang
yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan
batin yang paling sempurna, dan juga perasaan takut dan ngeri namun demikian
agama juga berfungsi melepaskan belenggu-belenggu adat atau kepercayaan manusia
yang sudah usang bagi orang-orang yang hidup dalam masyarakat macam apapun,
konsepsi tentang agama merupakan bagian tak terpisahkan dari pandangan mereka
dan sangat diwarnai oleh perasaan mereka yang khas terhadap apa yang dianggap
sakral (suci) sehingga bagi kita sendiri sebagai orang-orang modern untuk
melihat agama dengan kacamata ilmiah yang jujur. Tetapi agama dalam pengertian
umum tidak dapat disamakan dengan pengertian kita sendiri atau bahkan dengan
pola pemikiran manapun. Kewajiban pengkaji adalah mencari kebenaran meskipun
demikian dalam mencari kebenaran tersebuat dia harus mengendalikan dan
menggunakan semua perasaan dan emosinya dan tidak malah merasa bebas sama
sekali.
Para
pemeluk agama dan bukan pemeluk agama sama-sama mengalami kesulitan dalam
melakukan penelitian tentang peranan agama dalam masyarakat tanpa dipengaruhi
oleh perasaan terikat kepada keturunan dan ketidakjujuran penulis-penulis
terdahulu seperti Tylor dan Spencer menganggap agama sebagai suatu hasil
pemikiran manusia dan hasrat-hasrat untuk mengetahui. Ini adalah bagian, dan
bukan hakikat dari kebenaran itu. Durkheim dan belakangan Freud mengemukakan
landasan-landasan agama itu sendiri tidak dapat dianggap sebagai “sesuatu yang
semata” didorong kelahirannya oleh kegembiraan kelompok khalayak ramai (seperti
sering disebut-sebut oleh Durkheim) atau seperti dikatakan Freud, sebagai
akibat dari dorongan nafsu seksual yang mendapatkan saluran. Whitman mempunyai
persepsi, sebagai penyair, bahwa kebutuhan manusia mencapai keserasian dengan
kecemasannya ada kalahnya terkait dengan kesadaran beragamanya yang mendalam.
Agama yang dianut manusia, tidak seperti perekonomiannya, tidak dapat diambil
dari salah satu anugerah yang dimiliki bersama dengan binatang-binatang lainnya
yang tidak dapat dianggap bahwa ia berasal dari salah satu aspek dari
sifat-sifat khusus manusia. Istilah fungsi seperti kita ketahui, menunjuk
kepada sumbangan yang diberikan agama, atau lembaga sosial yang lain, untuk
mempertahankan (keutuhan) masyarakat sebagai usaha-usaha yang aktif dan
berjalan terus menerus. Karena nilai-nilai keagamaan merupakan landasan bagi
sebagaian besar sistem nilai-nilai sosial maka pelajaran-pelajaran yang paling
penting bagi anak-anak adalah dalam lapangan yang sekarang sering kita sebut
pendidikan agama (religius education). Malinowski berpendapat bahwa fungsi
paling penting yang dimainkan oleh mag-keagamaan adalah menguatkan kepercayaan
kepada diri sendiri dalam menghadapi situasi-situasi ketegangan. Berdasarkan
penelitiannya terhadap orang Trobriand Malinowski berkesimpulan bahwa apabila
ketidakpastian yang besar mengenai hasil itu berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
yang vital bagi masyarakat maka penggunaan cara-cara magi. Keagamaan atau
cara-cara lain yang serupa sebagai sarana untuk menghilangkan ketegangan dan
meningkatkan penyusuaian diri itu tidak dapat dihindarkan. Tujuan-tujuan agama
terarah kepada hal-hal yang non empirik, atau dunia lain yang gaib
(adikodrati). Meskipun agama seringkali berkaitan dengan kesejahteraan jasmani
manusia dan sosial umat manusia, namun
agama selalu mempuyai titik acuan yang transendental. Tidak demikian halnnya
dengan magi. Tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh para pelaku magi adalah
dunia manusia sehari-hari. Ketidaksamaan dalam nasib untung dan malang manusia
ini tidak dapat dijelaskan begitu saja menurut ukuran baik buruk manusiawi oleh
karena itu (salah satu) fungsi agama yang penting adalah “menerapkan
penilaian-penilaian Tuhan kepada manusia” dengan perkataan lain, agama
berfungsi memberikan makna moral dalam pengalaman-pengalaman kemanusiaan yang
boleh jadi dianggap sebagai igauan seseorang bebal yang tidak waras dan
menimbulkan kemarahan dan sekaligus tidak mempunyai makna apa-apa. Agama
kristen, sebagaimana halnya dengan agama Yahudi, dan sama sekali berbeda dengan
agama-agama Hindu dan Budha, memberikan nilai yang positif kepada dunia
material yang bersifat kodrati. Meskipun orang kristen mempunyai tujuan
tertinggi didunia lain, namun dunia ini termaksud aspek-aspek material yang ada
padanya, dinilai secara positif sebagai tempat untuk melakukan usaha-usaha giat
secara aktif. Sifat lainnya yang dominan dari agama kristen adalah bahwa ia
menganggap ajaran-ajarannya sebagai nilai-nilai yang bersifat universal oleh
karena itu orang-orang kristen menganggap kepercayaan-kepercayaan mereka
merupakan kebenaran juga bagi semua
orang disegala tempat dan di sepanjang masa. Sifat selanjutnya dari
agama Kristen, sifat yang mendapatkan penekanan khusus pada aliran Protestan,
adalah penekanannya pada individu. Lagi pula agama Kristen Protestan secara
khusus menekankan tanggung jawab setiap individu untuk paling tidak mengambil
beberapa inisiatif sendiri dalam kakitannya dengan keselamatan jiwanya sendiri.
Biasanya nilai-nilai
dari aktivisme, universalisme dan individualisme telah berfungsi secara positif
di dalam masyarakat Amerika, membantu membentuk suatu tradisi yang telah
menciptakan persatuan, keterpaduan dan stabilitas kepada masyarakat yang
terdiri dari berbagai macam bangsa itu. Meskipun terdapat banyak
perbedaandiantara kita, namun nilai-nilai bersama ini meningkatkan kesadaran
kita tentang bagaimana seharusnya kita bertindak terhadap satu sama lain
sebagai sesama bangsa Amerika. Tingkatan martabat pada masyarakat apapun juga
selalu berkaitan erat dengan nilai-nilai yang sangat dihormati oleh masyarakat
yang bersangkutan. Tetapi juga perlu diberikan aturan dasar tentang orang yang
maju atas usaha sendiri tersebut. Agama memainkan peranan penting dalam
pemberian aturan dasar ini dan pleh
karena itu ia membantu memoralisasikan keseluruh sistem kelas kita, sebagaimana
halnya denganagama yang telah membantu umat Hindu untuk menginterprestasikan
kelakuan sistem kasta mereka. Kita telah melihat bahwa kepercayaan-kepercayaan
keagamaan dari para pendatang pertama yang beragama Protestan tersebut sesuai
sekali dengan tipe interpretasi ini, karena agama mereka mengajarkan bahwa
Tuhan memberikan pertolongan istimewa kepada orang-orang yang paling aktif dan
rajin berusaha dalam aktivitas-aktivitas mereka di dunia ini, dengan demikian
keberhasilan itu dapat dianggap sebagai ganjaran yang pantas diterima atas
kegiatan orang yang bertujuan, mengorbankan kepentingan diri sendiri, dan yang
diberi petunjuk oleh Tuhan. Jadi orang yang berhasil dapat menganggap dirinya,
dan dianggap oleh orang lain, sebagai orang yang budiman.
Kepercayaan-kepercayaan ini juga berfungsi menciptakan kesadaran moral terhadap
wabah yang disebut kegagalan itu. Kebanyakan di antara orang-orang yang
mempunyai pekerjaan mengaggap keberhasilan mereka sebagai hasil jerih payah
usaha mereka sendiri, yang berarti setiap orang sebenarnya dapat memperoleh
hasil sebanding dengan usahanya. Walaupun sifat kesukarelaan dan kemajemukan
dalam keanggotaan denominasi agama terasa cocok bagi perekembangan suatu
masyarakat demokratis dan industrial, namun dari sudut pandangan keagamaan
terdapat hal lain yang tidak menguntungkan. Suatu sistem organisasi keagamaan
yang majemuk serta pemisahan yang tegas antara gereja dan negara memperlemah
kedudukan agama pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang lain.
Pertentangan-pertentangan antara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi yang jauh
lebih kecil dibandingkan dengan pertentangan-pertentangan antara orang-orang
Katolik dan bukan Katolik dilandasioleh perbedaan-perbedaaan dalam organisasi
keagamaannya. Pada sisi positifnya, ketegangan-ketegangan dan ketidakserasian-ketidakserasian
dalam struktur sosial tersebut bisa dianggap sebagai dorongan untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian secara kreatif yang memungkinkan timbulnya banyak
variasi dalam struktur sosial tersebut. Jika kita mampu menjaga sistem sosial
kita dengan cukup fleksibel dan dinamik, kita dapat mengekang
ketegangan-ketegangan ini. Jadi kita bisa berharap untuk mempertahankan
nilai-nilai yang paling luhur dalam masyarakat kita.
Komentar
Posting Komentar