Tugas Laporan Baca : Apa Itu Teologi ?
Judul Buku : Apa Itu Teologi ?
Berbicara tentang istilah Teologi, tentu tidak terlepas dari yang namanya sudut pandang serta paham yang berbeda-beda, namun tentunya pandangan-pandangan tersebut memiliki tujuan serta penjelasannya masing-masing. Namun dalam buku yang berjudul “apa itu Teologi ?” ini membahas bagaimana kita untuk masuk ke dalam yang namanya Teologi, serta memberikan penjelasan tentang sejarah ilmu Teologi, bidang atau bagian-bagian Teologi, serta kontektualisasi antar bidang-bidang tersebut. istilah Teologi sudah lama dikenal dikalangan masyarakat terkusus di Indonesia yang secara formal diakui oleh pemerintah sebagai suatu ilmu (1996). Dan inti dari istilah Teologi ini ialah ia berbicara tentang eksistensi Allah, atau dengan kata lain wacana tentang Allah atau Ilah, istilah teologi ini adalah istilah yang sudah lama dipakai oleh orang Yunani jauh sebelum munculnya Gereja Kristen.
Teologi dalam sejarahnya, dialam buku ini memberikan informasi tentang lahirnya serta berkembannya istilah Teologi dimana dalam perjalanan istilah tersebut tidak terlepas dari yang namanya kontek atau keadaan dimana Teologi itu dibicarakan. Dalam berteologi penting untuk ,mengetahui dan dan memahami serta menyakini bahwa tidak aka nada Teologi Kristen tanpa ada keyakinan bahwa tindakan Allah serta Firman yang secara kusus dalam Yesus Kristus. Ini memberikan gambaran bahwa Alkitab menjadi suatu penunjang u tuk menjelaskan tentang karya-karya Allah melalui Yesus. Teologi juga tampil untuk memberikan suatu pendangan yang jernih atau memberikan kritikan terhadap visi dan misi gereja ketika gereja tidak lagi memaknai serta menghidupi apa dan bagaimana gereja diutus kedalam dunia ini, namun terlepas dari kedudukan teologi sebagai ilmu yang mampu mengkritisi tindakan penyimpangan gereja teologi juga harus mampu memberikan resolusi yang jelas.
Dalam konteks Indonesia sangat penting untuk memperhatikan kultur pribumi yang sudah lama muncul, dimana karena dalam suatu kontek atau ketika teologi diperjumpaka terhadap agama-agama yang diluar kekristenan bahkan penolakan-penolakan harum mampu memberikan suatu pandangan yan kontektual. Seperti pada kultur barat bukan sekedar mengacu pada posisi atau letak geografis, melainkan lebih kepada mentalitasnya. Dalam pembahasan kultur barat persoalan lebih sederhana karena kultur merupakan ekspresi eksplisit dari mentalitas. Disisi lain istilah Teologi berakar dari Wahyu Allah, bukan dari pergumulan kontektual, nemun bukan berarti bahwa Teologi bersifat in-kontekstual sebab Wahyu Allah juga diberikan dalam konteks, namun Teologi harus mulai dari teks bukan konteks.
Terlepas
dari kerancuan historis serta kekuran jelasan batasan Teologiyang dibahas dalam
buku ini, semangat yang dibalikya tetap menjadi milik bersama para Teolog dunia
ketiga, termasuk teolog-teolog Indonesia. Maka pertanyaan yang logis bagi saya
muncul ialah apakah pembentukan Teologi kontektual tersebut realistis serta
apakah itu bukan hanya sekedar wacana atau utopia ?. dan data sejarah tersebut
tidak membedakan secara tegas akomodasi, indigenisasi, maupun kontekstualisasi.
Perbedaan antara kontekstualisasi Injil dan Teologi juga tidak terlalu
diperhatikan.
Berbicara tentang istilah Teologi, tentu tidak terlepas dari yang namanya sudut pandang serta paham yang berbeda-beda, namun tentunya pandangan-pandangan tersebut memiliki tujuan serta penjelasannya masing-masing. Namun dalam buku yang berjudul “apa itu Teologi ?” ini membahas bagaimana kita untuk masuk ke dalam yang namanya Teologi, serta memberikan penjelasan tentang sejarah ilmu Teologi, bidang atau bagian-bagian Teologi, serta kontektualisasi antar bidang-bidang tersebut. istilah Teologi sudah lama dikenal dikalangan masyarakat terkusus di Indonesia yang secara formal diakui oleh pemerintah sebagai suatu ilmu (1996). Dan inti dari istilah Teologi ini ialah ia berbicara tentang eksistensi Allah, atau dengan kata lain wacana tentang Allah atau Ilah, istilah teologi ini adalah istilah yang sudah lama dipakai oleh orang Yunani jauh sebelum munculnya Gereja Kristen.
Teologi dalam sejarahnya, dialam buku ini memberikan informasi tentang lahirnya serta berkembannya istilah Teologi dimana dalam perjalanan istilah tersebut tidak terlepas dari yang namanya kontek atau keadaan dimana Teologi itu dibicarakan. Dalam berteologi penting untuk ,mengetahui dan dan memahami serta menyakini bahwa tidak aka nada Teologi Kristen tanpa ada keyakinan bahwa tindakan Allah serta Firman yang secara kusus dalam Yesus Kristus. Ini memberikan gambaran bahwa Alkitab menjadi suatu penunjang u tuk menjelaskan tentang karya-karya Allah melalui Yesus. Teologi juga tampil untuk memberikan suatu pendangan yang jernih atau memberikan kritikan terhadap visi dan misi gereja ketika gereja tidak lagi memaknai serta menghidupi apa dan bagaimana gereja diutus kedalam dunia ini, namun terlepas dari kedudukan teologi sebagai ilmu yang mampu mengkritisi tindakan penyimpangan gereja teologi juga harus mampu memberikan resolusi yang jelas.
Dalam konteks Indonesia sangat penting untuk memperhatikan kultur pribumi yang sudah lama muncul, dimana karena dalam suatu kontek atau ketika teologi diperjumpaka terhadap agama-agama yang diluar kekristenan bahkan penolakan-penolakan harum mampu memberikan suatu pandangan yan kontektual. Seperti pada kultur barat bukan sekedar mengacu pada posisi atau letak geografis, melainkan lebih kepada mentalitasnya. Dalam pembahasan kultur barat persoalan lebih sederhana karena kultur merupakan ekspresi eksplisit dari mentalitas. Disisi lain istilah Teologi berakar dari Wahyu Allah, bukan dari pergumulan kontektual, nemun bukan berarti bahwa Teologi bersifat in-kontekstual sebab Wahyu Allah juga diberikan dalam konteks, namun Teologi harus mulai dari teks bukan konteks.
Tanpa bermaksut mengecilkan arti serta menyurutkan
semangat beberapa pemikiran baru tentang proses berteologi terkusus di
Indonesia mungkin perlu untuk memberikan pemikiran-pemikiran, serta
mengekspresikan kepedulian terhadap konteks dan semangat berteologi secara
nyata, sehinggu teologi tidak hanya sekedar menjadi wacana yang sipang siur
melainkan mampu untuk memberikan sumbangsih-sumbangsih pemikiran.
Komentar
Posting Komentar