Tugas : Dogmatika 1 (Perbandingan Materi Kuliah)



A. Agama Buddha,
            Jalan Kelepasan; dari materi yang di berikan dosen, perbandingan yang saya temukan di dalam buku (Dr. Harun Hadiwijono, .Aama Hindu dan Buddha, hal. 79-85) . Sesuai dengan buku yang saya baca samadi terdiri dari 2 bagian, yaitu: persiapan atau upacara; Di dalam persiapan orang harus berusaha supaya perhatiannya jangan sampai terpecah-belah. Untuk itu harus mempergunakan alat-alat sebagai berikut: Merenungkan, bahwa makan-minum membawa banyak kesusahan, selanjutnya merenungkan, bahwa tubuhnya terdiri  dari 4 anasir: bumi, air, api, dan angin, sehingga pada hakikatnya tubuh itu sama dengan bangkai binatang di perjagalan. Jika orang tersebut sudah yakin orang tersebut merenungkan kebajikan dan kesabaran Buddha, dharma dan sangha, akibat yang baik dari sila, dari bersedekah, dan sebagainya. Kemudian orang harus merenungkan jenazah manusia, bahwa jenazah itu tidaklah sempurna, dan akhirnya merenungkan tubuh orang yang hidup, yang pada hakikatnya sama denan jenaza tadi. Di dalam aryasatyani ada 4 tingkatan yang mengikat orang kepada dunia antara lain;
1.      Srotapana atau pertobatan, yaitu tingkatan orang yang  sudah di tempatkan pada arus yang benar, yang di sebabkan karena pergaulannya baik, karena mendengarkan hukum, berbuat baik  dan sebagainya.
2.      Sakrdagamin, yaitu tingkatan orang yang masih harus di lahirkan kembali sekali lagi.Sesudah itu ia akan mencapai kelepasan yang sempurna.
3.      Anagamin, yaitu tingkatan orang yang sudah tidak akan di lahirkan kembali dan yang sudah mendapat kelepasan di dalam hidup sekarang ini.
4.      Arhat, yaitu tingkatan orang yang sudah bebas dari segalah keinginan untuk dilahirkan kembali, baik di dalam dunia yang berbentuk, maupun di dalam dunia yang tidak berbentuk. Ia juga sudah bebas dari segala ketinggian hati, kebenaran diri, dan ketidaktahuan. Dalam tingkatan ini orang mencapai nirwana.
 Pokok ajaran Buddha Gautama ialah, bahwa hidup adalah menderita. Seandainya di dalam dunia tidak ada penderitaan, Buddha tidak akan menjelma di dunia. Orang di lahirkan menjadi tua, dan mati; tiada hidup yang tetap. Segala macam kerugian jasmani maupun rohani adalah penderitaan. Bahkan kesenangan itu sendiri adalah penderitaan. Sebab kesenangan atau kegirangan bergantung pada ikatannya dengan sumber kesenangan itu.
            Ajaran Tentang anitya atau anicca
Kata anitya berarti tidak kekal. Agama Buddha berlawanan dengan Hindu, di mana Agama hindu mengajarkan tentang samsara yang dapat dikatakan kekal. Hidup dalam agama Buddha dapat di gambarkan sebagai nyala api, nyala api tampak seolah-olah tetap ada. Mata kita melihat api yang tetap menyala. Tetapi hal itu tidaklah benar. Sebab sebenarnya tiap kali ada nyala yang baru, yang kemudian hilang, dan segera disusul oleh nyala yang baru, yang kemudian juga menghilang demikian seterusnya.
            Ajaran tentang anatman atau anatta
Kata anatman berarti tiada jiwa. Ajaran ini tidak dapat di pisahkan dari ajaran tentang anitya, yang mengajarkan bahwa tiada sesuatu yang tidak berubah. Jika tiada sesuatu yang tidak berubah maka juga tiada jiwa yang kekal. Manusia adalah suatu kelompok yang terdiri dari unsur-usur jasmani dan rohani.  Di dalamnya tiada suatu pribadi yang tetap. Selain itu manusia juga dapat di pandang terdiri dari lima skandha yaitu, rupa, wedana, samjna, samskara, dan wijana. Rupa ialah segala yang bersangkutan dengan tubuh. Wedana adalah perasaan yang terdiri dari perasaan yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Samjna adalah pengamatan, dari segala macam, baik jasmania maupun rohani, yang dengan perantaraan indra masuk ke dalam kesadaran. Samskara adalah suatu skandha yang sangat kompleks, yang di dalamnya mengandung kehendak, keinginan dan sebagainya . Wijana adalah kesadaran. Yang biasanya disebut “jiwa” ialah kelima skandha ini bersama-sama, atau satu persatu.
Ajaran tentang Karma 
Agama Buddha juga mengajarkan, bahwa karma menyebabkan kelahiran kembali. Tetapi yang dilahirkan kembali bukanlah jiwa bukan “aku” manusia, sebab tiada “aku” yang tetap. Yang di lahirkan kembali adalah watak atau sifat-sifat manusia, atau boleh juga di sebut “kepribadian”nya, namun kepribadian yang tanpa pribadi, yang tanpa “aku”.Ajaran ini meneguhkan, bahwa suatu perbuatan tentu diikuti oleh akibatnya, tiap perbuatan ada buanya. Perbuatan-perbuatan itu di sepanjang hidup di kumpulkan atau di timbun sebagai watak, yang kelak di dalam hidup berikutnya akan menentukan keadaan orang. Orang akan berbaring pada tempat tidur yang sudah di buatnya sendiri. Inilah karma. Segala usaha kita yang berulang-ulang kita kerjakan dan kita beri arah di dalam hidup sekarang ini tentu akan menimbulkan suatu macam “tempat tidur” yang baru, yang harus menjadi tempat berbaring kita.Oleh karena itu jelaslah, bahwa sejarah manusia bukan dimulai dari kelahirannya. Orang dilahirkan sudah laksana sebuah lading yang siap untuk ditanami dan disebari benih.

B.Agama islam(non Kristen)
   Pada masa awal di Yathrib (kemudian Madina) setelah hijrah, Muhammad rupanya tidak enggan tetap mengakui umat Yahudi juga sebagai umat ber-din, sesuai dengan ungkapan yang direkam dalam perjanjian madina: “li-l- Yabud dinubum”, mereka boleh saja menjalankan ritusnya sendiri terpisah dari kaum muslim, tetapi sebagai penyembah Allah (waktu itu istilah ibada) mereka tetap anggota satu ummatu llab (umat Allah) bersama dengan muslimin dan Kristen; Kristen tidak disebut karena tidak ada penganutnya yang menetap di Yathrib/Madina. Jadi, kata din waktu itu mempunyai makna inklusif dan umum serta dapat di gunakan untuk mereka yang bukan muslim, selama mereka menyembah kepada Allah yan benar (sebagai ibadu llab). Istilah ini, ibadu llab, penyembah Allah, telah menjadi sebutan orang-orang Kristen yang berbahasa arab sebelum islam.
            Di dalam Agama islam juga mengajarkan tentang cara-cara hidup orang islam yang sebenarnya, yaitu mereka berbuat baik,bersedeka, mencari pahalah, kesemuanya itu mereka lakukan untuk mencapai keselamatan, khususnya pada aktu berpuasa mereka dengan penu semangat dalam bersedekah, mencari pahala, agar supaya pahalanya besar di surge.
 2. Bagaimana dengan iman saudara
            Menurut pemahaman Iman saya sebagai seorang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus, bahwa hidup tanpa bersandar ke pada Tuhan Yesus sama artinya dengan hidup sia-sia/ mati, jadi sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus jangan mudah terombang-ambing dengan agama-agama/kepercayaan lainnya, karena sumber keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, dan firmannyalah yang dapat meneguhkan Iman kita ababilah kita melakukan Firman tersebut dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi.
3. Apa kata Alkitab
Jelas bahwa di dalam Alkitab firman Tuhan berbunyi demikian “Tidak ada seorang pun yang dapat sampai ke pada Allah Bapa kalau tidak melalui Aku” kata Aku di sini menunjuk kepada Yesus Kristus, selanjutnya Firman Tuhan “Karena begitu besar kasi Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunnggal supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal(Yohanes 3:16). Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anaknya. Barang siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barang siapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?