Tantangan Teolog Feminis Terhadap Teologi Tradisional
Teologi
feminis Kristen lebih mencakup pada sejumlah besar pandangan yang berupaya
memperbaharui tradisi Kristen dari berbagai segi. Menurut pandagan ini, Alkitab
telah ditulis oleh laki-laki yang hidup dalam budaya tertentu yang menekankan
wibawa dan dominasi figure bapak atau patriarki. Teologi yang muncul sebagai
suatu refleksi atas Kitab suci hamper seluruhnya diciptakan oleh kaum
laki-laki. Teologi feminis menegaskan bahwa teologi yang diciptakan perempuan
haruslah berbentuk lain. Yang mereka tekankan ialah teologi yang muncul dari
pengalaman perempuan dalam kerangkah kesederajatan sosial.semua teolog,
laki-laki dan perempuan, dapa mengambil struktur-struktur sosial yang egaliter
sebagai titik pijak. Perbedan antara teologi tradisilonal dan teologi feminis
yaitu :
-
Bahwa
menurut keyakinan kaum feminis pandangan-pandangan tradisional masyarakat struktur social yang
menindas perempuan.
Sama
seperti kaum laki-laki dapat menerima perspektif, feminis beitu pula kaum
perempuan dapat saja memakai sudut pandang patriarkis. Ada beberapa orang
penganut paham feminisme yang agak radikal percaya bahwa agama Kristen terikat
dengan suatu budaya patriarkis begitu kuat
sehingga kita perlu menggantinya dengan agama yang sama sekali lain.
Ketidakadilan
terhadap perempuan tercermin dalam sikap tak bertanggung jawab terhadap
bumi.baik laki-laki maupun perempuan, sebagai mana dijadkan menurut gambar dan
rupa Allaah, bersama-sama bertanggung jawb atas pemeliharaan bumi. Kesimpulan
logis ialah, jika laki-laki dan perempuan hendak memperbaiki kerusakan yang di diderita bumi,
pertama kita perlu mengatasi sikap laki-laki yang selalu memilah-milah jenis
kelamin. Ada satu hal yang menarik masalah keadilan dan model-medel pembangunan
merupakan bagian teologi feminis yang muncul di belahan selatan bumi.
Benang merah dalam teologi-teologi feminis dari
belahan bumi uatara dan selatan adalah mengambil pengalamana yang lahir dari
hubungan-hubungan antar manusia sebagai titik berangkat refleksi teologis.
Berakarnya kit dalam pengalaman terutam merupan kepedulian kita untuk membangun
kehidupan bersam yang adil. Menurut para penulis feminis, wawasan yan lebih
luas inimutlak perlu agar masyarakat kitabenar-benar manusiawi. Sumbanga kaum
perempuan pada masyarakat luas mebarui keseimbangan dan mendorong baik pria maupun wanita untuk berupaya supaya
hubungan-hubangan sosial bertambah harmonis.
Wawasan-wawasan
ini bermakna besar bai ilmu teologi. Bagi banyak teolog feminis mustahil
memahami Allah dengan cara yang sama seperti ortodoksi nasional. Menurut
meereka ortodoksi itu muncul dari cara bicara mengenai Allah yang dipakai untuk
laki-laki dan oleh laki-laki. Sikap
dominan kaum laki-laki terhadap perempuan membawa serta sikap yan serupa
terhadap bumi.
Komentar
Posting Komentar