BAB I : Latar Belakang :Studi Pedagogis Pembinaan Anak Berkarakter Kristus di Gereja




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dunia di mana anak-anak bertumbuh sekarang ini adalah dunia yang memiliki tantangan yang besar. Ancaman terhadap iman Kristen pun sangat nyata, godaan untuk menyerah pada tren-tren serta pesan-pesan budaya masa kini hampir tidak dapat dihindarkan. Begitu banyak anak-anak yang bertumbuh tanpa pendidikan karakter atau tanpa keterampilan untuk membedakan apa yang benar dan salah.[1] Kenyataan seperti ini yang menjadi keprihatinan banyak pihak dan kekhawatiran sebagian besar para pendidik.
Dalam berbagai peristiwa, dapat dilihat dengan jelas bagaimana penyimpangan-penyimpangan moral terjadi di kalangan anak-anak yang masih dalam taraf transisi. Meningkatnya perilaku merusak diri seperti kegiatan seks yang terlalu dini, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, juga tindakan bunuh diri, merosotnya etika kerja, meningkatnya ketidakjujuran, kehilangan sikap hormat terhadap orang tua, guru, dan orang lain yang memiliki otoritas. Meningkatnya kekejaman diantara teman sebaya adalah bagian dari penyimpangan moral yang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan ada kecenderungan bahwa anak muda akan merasa terasing atau diasingkan dari dunia mereka. Jika tidak berani melibatkan diri dalam serangkaian perilaku menyimpang tersebut.
Kenyataan lain yang dihadapi, bahwa dunia sekarang adalah dunia yang berbeda dengan dunia satu atau dua dekade tahun yang lalu. Itu berarti ada perbedaan situasi dan peradaban antara anak-anak di zaman ini dengan orang tua mereka  yang mengalami masa kanak-kanak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Atau perbedaan rentang waktu yang cukup mencolok ini, seringkali menjadi persoalan yang besar dalam hubungan orang tua dan anak.[2]
Melihat situasi tersebut, banyak orang tua yang memilih untuk memasukkan anaknya ke dalam pendidikan formal. Sehingga dapat menghindari karakter-karakter yang dapat merusak etika dan moral anak. Pendidikan-pendidikan yang menjadi prioritas utama bagi orang tua untuk membentukannya adalah pendidikan yang berbau religi, dengan harapan mereka dapat mendapatkan karakter yang beretika dan bermoral. Hal ini merupakan pilihan yang baik, tetapi ketika pilihan tindakan itu menghasilkan anak-anak yang mengasingkan diri dari dunia, disinilah letak kesalahannya.
Firman Tuhan menasehatkan “Jangan mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jika orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu” (1 Yohanes 2:15). Banyak orang Kristen yang menyalah artikan Firman ini dengan berusaha menghindar untuk tidak mengasihi dunia dengan mendirikan komunitas-komunitas di daerah terpencil agar mereka tidak tergoda oleh kesenangan dunia, atau dengan cara-cara yang lebih halus seperti menjaga jarak dengan orang yang diangga berbeda dengan dirinya.
Hal yang seringkali dilupakan mengenai kehidupan Kristus yang menunjukkan bahwa meskipun Ia tidak berasal dari dunia ini, Ia hidup di dalam dunia. Yesus Kristus berinteraksi dengan orang-orang buangan dan berdosa, yang seringkali membuat para imam tidak menyukai-Nya. Dalam situasi pelayanan seperti ini Yesus Pun banyak menghabiskan waktu-Nya untuk menyendiri dan berdoa, bukan untuk menghindari tekanan moral, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah sehingga selalu ada kekuatan untuk menjalankan tugas-Nya di tengah dunia yang berbeda.
Karakter teladan yang semestinya menjadi acuan bagi anak-anak yakni Yesus Kristus sudah mulai diabaikan oleh mereka karena pengaruh banyaknya keinginan jasmani dan duniawi dalam masa pertumbuhan anak-anak. sikap yang semestinya tidak terpelihara menjadi terpelihara akibat kurangnya perhatian dari para pendidik dalam lingkup Gereja, sekolah maupun dalam lingkup  keluarga. Padahal ini adalah tanggung jawab mereka sendiri sebagai pendidik.
Inilah yang mendorong penulis untuk menulis Skripsi tentang : Studi Pedagogis Tentang Pembinaan Anak Berkarakter Kristus di Jemaat Moria Angkona.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan Masalah adalah bagaimana Pembinaan Anak Berkarakter Kristus di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Moria Angkona ?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan Rumusan Masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana Pembinaan Anak Berkarakter Kristus di Jemaat Moria Angkona!
D.       Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.      Manfaat Secara Teoritis :
a.       Memberikan masukan kepada guru dan calon guru terhadap ranah pendidikan dalam upaya meningkatkan pembinaan karakter anak yang sesuai dengan karakter Kristus.
b.      Sebagai masukan bagi para pendidik dalam mengembangkan pembinaan terhadap anak.
2.      Manfaat Praktis
a.       Dapat digunakan sebagai referensi dalam penulisan karya Ilmiah yang lain atau penelitian yang lain.
b.      Masukan bagi penelitian yang lain yang bermaksud melakukan penelitian lebih lanjut.
E.       Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah penulisan, penulis membagi beberapa Bab di antaranya :
Bab I         :     Merupakan pendahuluan, yang didalamnya berisi tentang:   Pendahuluan   terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Sistematika Penulisan.
Bab II        :  Merupakan landasan teori  dan kerangka berpikir : Pengertian Pendidikan, Pendidikan Karakter, Pendidikan Agama Kristen, Anak dan karakter, Pengenalan Akan Yesus, Landasan Alkitabiah, Peran dan Fungsi Keluarga.
Bab III      :  Merupakan Metodologi Penelitian yang terdiri dari :      Gambaran Umum Lokasi Penelitian, Jenis Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data.
Bab IV      :  Pemaparan dan Analisis Hasil Penelitian.
Bab V             :  Skripsi ini ditutup dengan Kesimpulan dan Saran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?