Ringkasan Mengenai Pengangkatan Raja-Raja
PengangkatanRaja-raja
Allah
mengangkat raja-raja Israel, ini bererti bahwa Ia mengikut sertakan tokoh-tokoh
manusia tertentu di dalam pemerintahanNya sendiri atas umat itu. Semua raja dan
pemerintah di bumi memperoleh kuasanya dari atas, raja-raja Israel selebihnya
diangkat sebagai penyelamat, pembela keadilan dan pembawa damai sejahtera di
bumi, pertama-tama di dalam lingkungan umat itu sendiri. dengan Daud dan Saul
sebagai contoh utama didalam hal keberhasilan maupun dalam kegagalan, raja-raja
Israel dihargai dan diuji menurut sikap dan perbuatannya masing-masing,. Allah
mendatangkan orangNya, yakni raja Mesias yang dalam penderitaannya akan
mengubah kegagalan menjadi kemenangan, serta menegakkan keselamatan, keadilan
dan damai sejahtera dibumi.
Caradan makna pengangkatan raja-raja
a. Mengangkatraja-raja, hak prakarsa bagi Tuhan
Dengan
pengankatan raja-raja dimaksudkanlah suatu tindakan kenegaraan, dimana seorang
warga umat diserahi pangkat seorang raja, yakni dengan cara resmi dan sah :
suatu upacara yang berlangsung dengan penuh khidmat, dengan para tua-tua, para
pemimpin suku-suku, para imam dan nabi atau lain-lain instansi pimpinan
masyarakat hadir sebagai pelaksana atau saksi, sesuai dengan adat setempat pada
suatu zaman tertentu. Sebelum instansi-instansi masyarakat itu mengangkat
rajanya, maka TUHAN dikatakan secara diam-diam, tersembunyi bagi umum, telah mengambil
prakarsa, telah memilih dan telah mengangkat seseorang, dengan cara, maksud dan
wibawanya sendiri.
Pengangkatan
seorang raja ada segi dan tahapnya yang tersembunyi pada pemandangan mata
orang. apabila Allah melihat atau memilih orangnya, pun apabila Ia mengurapinya
dengan perantaraan seorang nabi, dan terutama sekali apabila rohNya mulai
berkuasa atas orang yang terpilih itu, maka semuanya ini merupakan
tindakan-tindakan yang bersufat rahasia. Keistimewaan orang Isrel tidak
terletak didalam adat penobatan yang
mereka pakai, kita harus mencarinya didalam pengertian mereka yang terdapat
adat itu. Ternyata tiga cara yaitu: penyerahan piagam, pengurapan dan unsur
duduk di atas takhta menunjukkan dengan sejelas-jelasnya letak perbedaan Isrel,
bangsa yang telah diasingkan deri tengah-tengah bangsa-bangsa lain.
Pertama, upacara
pengurapan raja-raja menjadi suatu adat orang Osrael yang tetap berlaku
disepanjang zaman kerajaan. Kedua menarik sekali pengurapan raja-raja itu
selalu mempunyai makna politis. Para tua-tua, para kepala atau wakil suku-suku,
para iman dan seluruh rakyat yang turut hadir dalam upacara itu, semuanya
bertindak sebagai warga masyarakat. Yang diurapi Tuhan seolah-olah Tuhan sendirilah yang telah
mengurapinya. Namun titik beratnya dalam upacara itu jatuh pada pengangkatan
seorang kepala negara, seorang pejabat pemerintahan sipil dengan tugas dan
tanggung jawab dibidang kesejahteraan masyarakat.
Isi piagam pelantikan
raja-raja orang Israel ternyata menyimpang sedikit banyak dari pada pola piagam
seperti yang terkenal dari kerajaan pada Firaun. Piagam orang Mesir menyatakan
bahwa raja yang baru telah berwujud anak Allah sejak kelahirannya, bahwa sejak
pengandungannya dirahim ibunya.
Upacara penobatan
dihalaman suci telah selesai, maka raja itu dituntun dengan sorak sorai ke
istananya, lalu dipersilahkan duduk di atas takhta-tanda mulai diterimanya
tugas pemerintahan. Bahan Alkitabiah mengenai naik takhta oleh raja-raja Israel
menunjukkan beberapa gejala keistemawaan yang cukup menarik, kedua raja Israel
dipernankan dudk disuatu tempat yang sangat luar biasa : disebelah kanan Allah.
Unsur penobatan ini hanya disebut sekali dua kali saja didalam Perjanjian Lama,
tetapi naskah-naskah yang sedikit dan singkat itu dan mendasar suatu tradisi
yang amat besar pengaruhnya sampai kedalam kitab-kitab perjanjian baru,
sehingga memainkan suatu peranan yang dahsyat didalam pengakuan percaya umat
kristen pada segala abad.
Pangkat
dan tugas raja Israel menunjukkan banyak kesamaan dengan pengertian raja diluar
Israel. Umat yang terdesak oleh bangsa Filisti itu justru meminta seorang raja
‘seperti pada segala bangsa yang lain’! kesamaan-kesamaan ini harus diakui
sepenuhnya, barulah unsur-unsur kelainan akan nampak juga.
Raja-raja
biasanya ditugaskan untuk memerintah. Janganlah dengan sewenang-wenangnya atau
dengan lalim, melainkan demi kepentingan dirinya atau demi kepentingan golongan-golongan
yang tertntu, melainkan demi kepentingan seluruh masyarakat yang ingin hidup
aman, makmur dan berbahagia.
Allah
telah mengangkat raja-raja dari tengah-tengah
umatnya pokok kesaksian ini masih ada suatu segi yang belum diteliti
dengan sewajarnya. Perhatian kita selama ini secara berat sebelah diarahkan ke
masa lampau. Memang benarlah bahwa tindakan-tindakan Allah berupa pengangkatan
atau penolakan raja-raja itu telah berlangsung di dalam suatu babak waktu yang
terbatas.
a. Nubuat-nubuat
pengukuhan raja yang sedang memerintah
Menarik sekali
nubuat-nubuat dari kelompok-kelompok yang tertua ini, semuanya terarah kepada
seorang raja yang telah ada, yang hidup sezamannya dengan nabi yang pernah
mengucapkan nubuat itu. Bukannya kedatangan raja itu, tetapi pengukuhannya
sebagai raja yang benar-benar diangkat oleh TUHAN itulah yang dinubuat. Biarpun
raja itu sudah ada, bahkan mungkin mungkin sudah berhasil dalam
pemerintahannya, tetapi belum tentu juga TUHAN sendiri menopang dia. Pengukuhannya
yang berwibawa penuh, pernyataan rahasia penyertaan ilahi itu tetap merupakan
keakanan, harus tetap diminta, dinanti-nantikan, dinubuatkan dan diyakini baik
kepada raja itu sendiri, maupun kepada bangsanya dan kepada umat manusia
seluruhnya.
b. Nubuat-nubuat
mengenai pemulihan takhta Daud
Jatuhnya kota
Yerusalem, runtuhnya Bait Suci, berakhirnya rangkain raja-raja keturunan Daud,
keadaan mayoritas umat Israel/Yahudi sudah terpencar ditempat-tempat pembuangan
yang jauh-semuanya ini menjadi fakta yang pedih sejak tahun 587 s.M.
nubuat-nubuat pertama tentang pemulihan takhta Daud berasal dari pada nabi-nabi
zaman pembuangan yang tidak berani tampil dimuka umum, sehingga nama-namanya
pun tidak diketahui. Nabi-nabi itu bekerja sebagai penulis-penulis anonim.
Mereka mencantumkan nubuat-nubuatnya kedalam kumpulan-kumpulan nubuat yang
lebih tua. Dengan peristiwa penghakiman atas Israel dan Yehuda sudah jauh
dibelakangnya, firman ini dinubuatkan bahwa Tuhan akan memulihkan kembali
umatnya, Israel. Istana, ibukota dan kerajaan Daud akan dibangun kembali dalam
segala kejayaannya, malah keadaan yang baru akan melampaui yang lama, sedangkan
raja damai itu sendiri tidak disebut sebut
c. Nubuat-nubuat
tentang tokoh penyelamat gaya baru
Naskah-naskah yang
telah dibahas sampai sekarang semuanya berkisar pada tema kedatangan seorang
raja adil, berkat tindakan TUHAN yang ajaib, biar pada masakini atau pada masa
depan yang dekat. Ada kalanya sang nabi bernubuat tentang seorang raja yang
sedang memerintah, dimana firman TUHAN mengukuhkan pemerintahan raja itu
sedemikian rupa, sehingga akhirnya nubuat itu dianggap berkenaan dengan suatu
tokoh penyelamat yang masih diharapkan kedatangannya, yakni masa depan yang
dekat atau jauh.
Komentar
Posting Komentar