Pentingnya Berkhotbah
Semangat
pelayanan seorang hamba Tuhan tentu akan meningkat ketika ia mengetahui bahwa
khotbah-khotbahnya bukan hanya didengar dengan penuh antusias oleh jemaat,
melainkan juga mendorong jemaat bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan
Yesus Kristus. Mereka yang hidup dalam kekuatiran bertumbuh menjadi jemaat yang
makin beriman, mereka yang dulu tidak peduli dengan pelayanan sekarang menjadi
majelis gereja yang mengasihi Tuhan. Semua itu menjadi tanda bahwa Tuhan
menyertai pemberitaannya dan memberkati segala upaya pelayanannya. Berharap
kelak khotbah-khotbah yang kita sampaikan sungguh-sungguh mengubah kehidupan
jemaat dan tentunya kehidupan kita juga.
Khotbah
yang benar adalah khotbah yang mempunyai kerangka teologi dari seluruh
kebenaran Alkitab. Salah satu keunikan dari pengkhotbah-pengkhotbah besar pada
masa lalu, dan inilah yang membuat khotbah-khotbah mereka tetap hidup ratusan
tahun meskipun mereka telah tiada adalah khotbah-khotbah mereka memiliki bobot
doktrin yang kuat, sehingga jemaat benar-benar berhadapan dengan kebenaran
ilahi yang kokoh, bukan kebenaran parsial dan temporal. Khotbah yang mengubah
kehidupan bukan hanya beritanya berasal dari teks Alkitab dan Aplikasinya
mengena, melainkan juga disampaikan
secara menarik.
Bagaimanapun,
kehidupan pengkhotbah turut membidani khotbah yang mengubah kehidupan, kecuali
khotbah hanya dianggap sebagai suatu seni peran. Bila pendengar percaya pada
integritas seorang pengkhotbah, akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima dan
melakukan apa yang dikhotbahkan. Sebaliknya, bila integritas pengkhotbah
diragukan, maka apapun yang disampaikannya akan sulit diterima, apalagi membuat
perubahan yang berarti. Seorang penghotbah dituntut untuk memiliki integritas
hidup yang berpadanan dengan injil. Beban tuntunan ini lebih besar dirasakan
oleh pengkhotbah yang sekaligus adalah gembala sebuah gereja dimana ia
berkhotbah setiap minggu pada jemaat yang sama. Ia haruslah berupaya keras untuk memupuk
integritas dan karakternya. Untuk itu, hidup bergaul dengan Allah didalam
kekudusannya merupakan syarat yang tidak dapat dihindari.
Dalam
memahami khotbah ekspositori secara lebih menyeluruh penting untuk pengkhotbah
dan pendengar, untuk pengkhotbah
yakni :
Pertama
: dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan integritas. Penyimpangan makna teks
Alkitab bisa menghasilkan iman kristen yang menyimpang, itu sebabnya, tidak ada
jalan lain bagi pengkhotbah kecuali bekerja keras, “mencangkul’ dan “menggali”
teks dalam konteksnya untuk mendapatkan amanat yang sesungguhnya. Tuntutan ini
akan menumbuhkan tanggung jawab dan integritas pengkhotbah menjadi seorang
pemberita firman yang serius, tidak memanupulasi berita, tidak malas, dan tidak
sembarangan.
Kedua
: memupuk rasa percaya diri yang benar. Otoritas yang paling kuat dari seorang
pengkhotbah bukan terletak pada dirinya sendiri, melainkan pada amanat khotbah
yang dibawanya. Bila amanat khotbah yang akan disampaikannya itu
sungguh-sungguh amanat teks firman Tuhan, maka pengkhotbah boleh yakin bahwa
Roh Kudus yang sama, yang telah menginspirasikan penulis untuk menulis teks
tersebut, akan bekerja mendukung firmanNya sendiri. Yang mampu mengubah hati
manusia bukanlah hikmat dan kekuatan manusia, tetapi kekuatan Roh Kudus yang
bekerja melalui firmanNya.
Ketiga
: Memberi dukungan wibawa dalam mengaplikasikan khotbah. Bila aplikasi khotbah
bersumber dari amanat teks, maka wibawa yang muncul dalam diri pengkhotbah
bukan berasal dari dirinya, melainkan semata-mata dari teks Alkitab. Terlebih
lagi, bila pengkhotbah menyusun khotbah berseri dari sebuah kitab, maka
pendengar tidak akan berprasangka bahwa pengkhotbah sengaja memilih suatu topik
tertentu untuk diaplikasikan pada mereka. Semua teguran, imbauan, dan nasihat
akan diterima dengan wajar oleh pendengar sebagai pesan dari Tuhan sendiri.
Keempat : Menumbuhkan pengetahuan dan
pemahaman Alkitab yang lebih menyeluruh. Perangkap yang sering menjerat seorang
penghkotbah dalam mengkhotbahkan hanya teks-teks atau topik-topik tertentu dari
Alkitab yang disukainya. Hal ini jelaslah akan merugikan bukan hanya jemaat,
melainkan juga pengkhotbah sendiri. Kecenderungan ini menghambat pertumbuhan
pengkhotbah dalam pengetahuan dan pemahaman firman Tuhan. Khotbah eksporitasi
mendorong pengkhotbahnya untuk menggali dengan serius kekayaan teks yang akan
dikhotbahkan dengan kesadaran bahwa setiap teks mempunyai amanat dan latar
belakang yang unik. Pengkhotbah diajak untuk melihat apa yang selama ini
mungkin belum pernah diminati atau diperhatikannya. Hasilnya cepat atau lambat
pengetahuan dan pemahaman Alkitabnya akan bertumbuh lebih holistis dan dalam.
Kelima
: Menyediakan bahan khotbah yang tak pernah habis. Sekarang yang menjadi
tantangan pengkhotbah bukanlah soal mencari bahan-bahan khotbah, tetapi soal
menggali teks-teks itu dan membuat beritanya dirakan lagi oleh orang-orang
zaman kini.
Keenam
: Mengurangi stres dalam memilih topik khotbah. Menentukan topik khotbah,
terlebih lagi bagi seorang gembala yang berkhotbah tiap-tiap minggu di depan
jemaatnya, seringkali menimbulkan tekanan yang tidak ringan. Adakalahnya
beberapa hari menjelang berkhotbah, ia masih belum dapat menemukan topik yang
akan ia khotbahkan, atau mungkin juga ia sudah beberapa kali mengganti topik
tanpa kepastian. Bila waktunya makin mendekat, stresnya pun makin meningkat. Ia
hanya perlu menentukan teks apa yang akan ia khotbahkan, bukan topiknya,
kemudian ia menggalinya dengan setia dan tekun.
Bagi pendengar : Pertama
: Firman Tuhan akan menjadi makanan rohani yang sehat. Seumpama makanan,
khotbah ekspositori bukanlah camilan, melainkan makanan sehat yang kandungan
gizinya mampu memenuhi kebutuhan yang diperlukan bagi pertumbuhan rohani yang
murni yang berasal dari firman Tuhan. Ini akan menjamin adanya pertumbuhan iman
jemaat, sebagaimana paulus dituliskan bahwa iman timbul dari pendegaran dan
pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17).
Kedua
: menumbuhkan pemahaman Alkitab yang lebih baik dan utuh. Melalui
penjelasan-penjelasan yang diberikan, jemaat belajar untuk memahami firman
Tuhan berdasarkan konteksnya. Selain mengetahui apa yang Tuhan perintahkan,
mereka juga memahami latar belakang mengapa Tuhan memberi perintah tersebut.
Ketiga
: Memupuk kecintaan dan kekaguman pada firman Tuhan. Karena khotbah ekspositari
memfokuskan pemberitaannya pada amanat teks Alkitab, maka perhatian jemaat
selama khotbah diarahkan terus menerus pada apa yang dikatakan Alkitab. Jemaat
akan melihat kekayaan dan keunikan Alkitab sebagai firman Allah yang tidak
habis-habisnya bagi mereka. Wajarlah jika kesan pendegar setelah mereka
mendengar khotbah ekspositori adalah perasaan kagum pada keindahan dan kuasa
firman Tuhan, bukan pada diri pengkhotbah. Kendati tidak dapat dipungkiri bahwa
seorang pengkhotbah yang baik akan dikagumi oleh jemaatnya, tetapi yang utama
dan pertama adalah kekaguman dan kecintaan jemaat pada firman Tuhan.
Keempat
: Mendapat makanan rohani yang seimbang. Kecenderungan pengkhotbah untuk
mengkhotbahkan topik-topik atau teks-teks favoritnya seringkali didorong oleh
latar belakang teologi yang dimiliknya. Seorang pengkhotbah yang mempunyai
paham teologi kemakmuran akan lebih banyak mengangkat ayat-ayat yang berkenaan
dengan berkat dan kesuksesan. Sebaliknya, seorang pengkhotbah yang mempunyai
paham teologi penderitaan khotbah-khotbahnya kentalvdengan nuansa penderitaan.
Firman
Tuhan yang diilhamkan diberikan dengan maksud agar kiat dapat “diperlengkapi
untuk setiap perbuatan baik” (II Tim 3:16-17). Berangkat dari pernyataan ini,
seorang ekspositor harus dapat merumuskan dalam kata-kata bagaimana suatu
kualitas hidup atau perbuatan-perbuatan baik harus dihasilkan lewat pengajaran
dan mendengarkan khotbahnya
Khotbah
merupakan suatu tugas yang penting, berkhotbah menghantar firman Allah,
memimpin jemaat. Khotbah adalah tugas setiap orang yang beriman. Khotbah
bukanlah suatu tugas yang mudah, karena masalahnya bukan pada sisi persiapan
dan penulisan khotbah tetapi juga pada penyampaian.
Ada
khotbah yang sangat bagus dan bermutu yang telah lama disiapkan, akan tetapi
ketika disampaikan kepada umat, khotbah itu terasa kering, tidaka menarik, atau
pesannya tidak dapat ditangkap oleh pendengar. Tetapi ada khotbah yang
sederhana dan nampaknya biasa-biasa saja malah menarik dan berkesan bagi
pendengar. Mengapa ? para pendengar atau umat sangat berharap akan mendapat
sesuatu dari pengkhotbah, akan tetapi banyak pendengar yang akhirnya gusar dan
menggerutu karena khotbah itu disampaikan layaknya mengajar di perguruan tinggi,
pengkhotbah tidak melihat umat dan terpaku pada teks yang dibuatnya.
Pengkhotbah asyik sendiri dengan khotbahnya, apakah umat dapat mendengar dan
menagkap isinya, itu seperti urusan umat sendiri.
Berkhotbah
atau memberitakan firman Tuhan Yesus tidak harus dalam gereja, seperti anggapan
banyak orang. Yesus sendiri selain berkhotbah di rumah ibadat, ia juga sering
berkhotbah di luar rumah ibadat. Karena pentingnya khotbah dan pemberitaan
firman Allah itu maka wajiblah setiap orang yang terpanggil untuk tugas itu dan
senantiasa memperkembang dirinya sehingga ia dapat melaksanakan tugas itu
dengan sebaik-baiknya. Berkhotbah adalah tugas yang terus menerus berjalan, kita
harus menemukan lebih banyak lagi cara untuk bergabung dengan persekutuan itu,
membuat persekutuan itu nyata, membiarkan kerajaan Allah itu datang kedunia.
Kita adalah bejana-bejana yang fana yang akan ditinggalkan ketika generasi
berikutnya muncul. Namun, sekarang kita mempunyai harta itu berita firman
Tuhan, dan kita harus belajar membritakannya.yang paling banyak dari khotbah
itu adalah ulasan hidup sehari-hari bahkan berbuat baik. Khotbah dikatakan
berhasil kalau dia bisa membuat orang menjadi baik. Ini juga salah, sebab
sebenarnya khotbah haruslah mencakup soteriologi atau keselamatan yang
dikerjakan Yesus bagi kita. Khotbah belum menyentuh intinya kalau belum
berbicara mengenai keselamatan.
Kepribadian
pengkhotbah banyak sekali sangkut pautnya dengan berhasil tidaknya pemberitaan
yang dilakukan. Khotbah adalah bagian dari diri pengkhotbah, serta haruslah
merupakan pelahiran seluruh hidup dan pengalamannya. Jika tidak demikian, maka
yang disebut berkhotbah itu tidaklah lain daripada “gong yang berkumandang,
atau canang yang gemerencing. Kepribadian adalah tergolong suatu unsur khotbah,
itulah sebabnya, membaca suatu khotbah adalah lain kesannya, jika dibanding
dengar mendengar khotbah itu. Tidak hadirnya pengkhotbah itulah yang menjadi
sebab. Tentu saja ada beberapa pengecualiannya, ada khotbah yang tidak
jemu-jemunya kita membacanya, akan tetapi biasanya seringkali tidak lebih dari
gema saja. Bukanlah berulang kali kita merasa heran, mengapa suatu khotbah
terasa hampa, pada waktu kita membacanya, padahal diwaktu kita mendengarkannya,
kita merasa terpesona sekali ! apakah yang kurang ? lain tidak, karena
kepribadian pengkhotbah yang tidak ada itulah ! alangkah banyak yang
tersembunyi dalam kepribadian pengkhotbah ini.
Dalam
khotbah pendengar terus menerus diajar dalam kebenaran Allah. Kalau dibanding
dengan mendengarkan khotbah yang berdasarkan nats, mereka lebih banyak menerima
Firman dan kehendak Allah. Dengan terus terang boleh dikatakan, bahwa khotbah
itu rata-rata kurang mengandung pengajaran Alkitab. Seringkali yang merupakan
pengajaran Alkitab hanyalah nats itu saja. Andaikata khotbah beberapa tahun
yang lampau lebih banyak diisi dengan pengajaran Alkitab, jumlah anggota yang
meninggalkan Gereja kita dan menggebungkan diri kepada bidat-bidat yang keliru
dan sesat, akan tidak sebanyak yang ada sekarang.
Khotbah
itu adalah kabar kesukaan. Kesukaan ini diperoleh dari Kitab suci. Bukanlah di
dalamnya didapati secara sentral kesukaan. Kabar kesukaan itu laksana intan
yang beraneka warna cahayanya. Pelayanan khotbah tidak diberikan secara umum,
tetapi ditujukan kepada kelompok-kelompok manusia tertentu. Jemaat yang
terpanggil oleh TUHAN. Khotbah itu firman Allah untuk manusia yang ada dalam
kehidupannya sehari-hari dengan segala suka dan dukanya. Jemaat menghayati
berbagai persoalan secara sadar ataupun tidak sadar. Khotbah merupakan penyorot
pada keadaan sehari-hari. Khotbah adalah firman Allah bagi orang-orang. khotbah
berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan jemaat baik yang disadari atau tidak
dengan menunjuk kepada yang diketahui dan dijanjiakn oleh kitab suci.
Suatu
khotbah juga harus mengandung ajakan. Maksud khotbah bukanlah sekedar menambah
pengetahuan. Memang pengetahuan itu berguna dan perlu, namun tidak cukup. Rasul
Paulus senantiasa memberi peringatan tentang pengetahuan yang tidak mengubah
susuatu. Khotbah bukanlah ceramah atau kulaih, tetapi suatu ajakan supaya
aktif.
Suatu
khotbah tentang lemah lembut, hendaknya disertai petunjuk-petunjuk yang jelas,
bagaimana lemah-lembut dalam lingkungan sindiri itu dapat diterapkan dalam
praktek, bila perlu dengan menyatakan dengan terang-terangan kekurangan yang
sangat mencolok.
Berkhotbah
itu suatu tugas yang sangat penting. Berkhotbah adalah menghantarkan Firman
Allah, memimpin jemaat.
Komentar
Posting Komentar