Pengharapan Mesianis Dalam Perjanjian Baru


     
GelarMesias
Dalam membahas Kristologi, wajarlah kalau kita mulai dengan istilah “Mesias”, karena istilah yang searti dalam bahasa Yunani, yaitu khristos berarti “Yang diurapi”, banyak sekali dipakai dalam Gereja Kristen. Hal ini nyata dengan adanya fakta bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus pada masa-masa permulaan disebut sebagai orang-orang kristen, dan hal ini merupakan kesaksian yang mengesankan karena dari sini kita dapat melihat bagaimana pentingnya konsep kristus dalam pikiran mereka. Mereka begitu yakin bahwa Yesus adalah mesias dan mereka begitu giat dalam meberitakan hal itu sehingga orang-orang lain menyebut mereka “pengikut-pengikut Kristus”. Hal ini pertama kali terjadi di Antiokhia. Ini merupakan hal yang penting karena disanalah jemaat pertama-tama dibangun di tengah-tengah orang-orang bukan Yahudi (Kis 11:26). Orang-orang Yahudi tidak akan menyebut orang-orang percaya sebagai pengikut Mesias, karena mereka tidak pernah mengakui bahwa jemaat Kristen memiliki hak untuk mempergunakan istilah itu bagi Yesus. Tetapi bagi orang-orang bukan Yahudi tidak ada keberatan seperti itu dan mereka sebenarnya tidak memperdulikan dampak dari nama itu. Pemakaian kata “Kristus” secara terus menerus kelihatannya tidak berarti bagi mereka. Memang seharusnya pada sumber-sumber orang Yahudilah kita mencari keterangan tentang pentingnya gelar itu bagi Yesus dan bagi orang-orang pada zamannya. Barulah setelah itu keterangan dari kitab-kitab Injil akan dimengerti dengan benar.[1]

     PengharapanMesianis dalam Perjanjian Baru
Tulisan- tulisan dari masa Perjanjian Baru menggambarkan adanya pengharapan mesianis orang-orang Yahudi. Didalam pemahaman mereka, Mesias adalah seorang yang diurapi oleh Allah. Mesias mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Allah sehingga kehidupannya menjadi sangat suci. Mesias adalah seorang yang sangat kuat didalam Allah sehingga kata-katanya sangat beribawa serta penuh dengan kuasa. Ketika orang-orang Yahudi mendengar khotbah yang penuh kuasa dan menggetarkan hati dari Yohanes Pembaptis, mereka membayangkan seorang Mesias telah datang dan berharap bahwa Yohanes Pembaptis adalah Mesias yang telah lama mereka harapkan (Y0h 1:20-25).[2] Lukas mencatat kebingungan orang banyak apakah Yohanes Pembaptis adalah Mesias itu. (Luk 3:5), dan hal ini merupakan suatu hal yang menyatakan secara tidak langsung tentang pengharapan mereka. Injil Yohanes memberikan keterangan yang lebih khusus lagi. Dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis dengan tegas menyangkal bahwa dialah mesias (Yoh 1:20). Kemudian terdapat keterangan yang menceritakan bahwa murid-murid Yesus yang pertama justu pada pertemuan mereka dengan Yesus pada pertama kalinya, merasa mereka bahwa mereka telah menemukan Mesias (Yoh 1:41), menurut pengertian mereka sendiri. Yohanes juga melaporkan bahwa kebingungan timbul dalam pikiran beberapa orang di Yerusalem karena tradisi mengatakan bahwa asal usul Mesias tidak akan diketahui, sedangkan asal-usul Yesus diketahui ( Yoh 7:26 dst). Disamping itu, ada kepercayaan umum bahwa Mesias akan mengadakan tanda-tanda dan hal ini membawa orang-orang untuk percaya kepada Yesus, yang sudah mereka anggap sebagai Mesias.[3]
Bila seseorang membaca kitab-kitab Injil itu untuk menemukan pengharapan yang dimiliki oleh orang Yahudi, ia akan mendapati pengharapan yang serupa dengan yang direfleksikan dalam mazmur Salomo. Cukup jelaslah bahwa orang-orang mengharapkan kedatangan seorang mesias (Yoh 1:20,41; 4:29: 7:31; Luk 3:15). Ia akan menjadi seorang keturunan Daud (Mat 21:9; 22:42), dan Ia dilahirkan di Betlehem (Yoh 7:40-42; Mat 2:5), ada satu tradisi bahwa Ia akan muncul tiba-tiba di antara manusia dengan asal-usul yang tidak jelas (Yoh 7:26-27). Unsur yang paling penting dalam pengharapan ini ialah bahwa Mesias itu adalah raja keturunan Daud. Orang-orang majus dari timur datang mencari Raja orang Yahudi yang baru lahir. Para ahli taurat memahami pentingnya pertanyaan orang-orang majus mengenai raja yang seperti itu dan mengarahkan mereka ke Betlehem dimana penguasa yang dijanjikan itu akan dilahirkan.
Pada puncak popularitanya, ketika Yesus menyatakan kuasa ilahiNya dengan melipatgandakan roti dan ikan untuk memberi makan lima ribu orang, menimbulakn satu gerakan spontan dimana orang banyak berusaha memaksa Yesus untuk menjadi raja Mereka (Yoh 6:15), dengan harapan bahwa Ia dapat dibujuk untuk memakai kuasanya yang luar biasa itu untuk menumbangkan Kuk bangsa kafir dan membebaskan umat Allah dari perbudakan yang mereka benci dan dengan demikian mendirikan Kerajaan Allah.[4] Pentingnya harapan ini bahwa Yesus akan menjadi seorang pembebas mesianis politis dapat dipahami bila orang mengingat kembali serangkaian pemberontakan mesianis yang mewarnai masa ini. Seandainya maksud Yesus ialah menawarkan satu kerajaan dan politik keturunan Daud kepada bangsa Yahudi, maka mereka akan menerimanya saat itu juga dan bersedia mengikut Dia bila perlu sampai mati untu kmelihat pembentukan kerajaan yang demikian. Namun ketika Yesus menolak hal ini, dan menyatakan bahwa misiNya memiliki karakter yang berbeda sama sekali, dan bahwa kerajaanNya adalah kerajaan rohani dimana manusia akan makan dagingNya dan minum darahNya, maka orang banyak itu berbalik melawan Dia, dan popularitasNya memudar (Yoh 6:66). Mereka menginginkan seorang raja yang akan memerdekakan mereka dari Roma dan bukan seorang Juruselamat yang akan menebus mereka dari dosa mereka.
     
Kesimpulan 
Pengharapan Mesianis dalam Perjanjian Baru tidak terlepas dari pengharapan Mesianis orang Yahudi dimana mereka mengharapkan seorang Mesias yang dapat memerdekakan mereka dari penjajahan bangsa Romawi bukan seorang Juruselamat yang menebus mereka dari dosa, serta mereka mengharapkan bila mesias datang Ia akan hidup selama-lamanya (Yoh 12:34). Namun kenyataanya Yesus yang seorang Mesias yang datang itu mati.


[1] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta:BPK Gunung Mulia),2011,hal 266
[2] Dr. S. Tandiassa, M.A, Teologia Perjanjian Baru, (Yogyakarta:Jelajah Nusa), 2010, hal 67
[4] George Eldon Ladd, Teologi Pejanjian Baru Jilid 1, (Bandung:yayasan kalam hidup),2002, hal 180-181

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?