PENGERTIAN DAN DEFINISI HERMENEUTIK
Sebelum membahas secara lengkap prinsip-prinsip Hermeneutik,
perlu terlebih dahulu dibahas beberapa istilah dan pengertian Hermeneutik
dan juga hal-hal yang berhubungan dengan pengertian tsb.
1.
Arti Kata Hermeneutik
a.
Dalam Bahasa Ibrani. Kata Hermeneutik
dalam bahasa Ibrani adalah pathar , yang artinya adalah
menafsir" (to interprete). Sedangkan kata bendanya adalah pithron,
artinya "tafsiran" (interpretation). Kata ini paling umum
digunakan dalam konotasi menafsirkan mimpi, karena mimpi berwujud simbol yang
artinya tidak jelas.
b.
Dalam Bahasa Yunani. Kata Hermeneutik
dalam bahasa Yunani adalah hermeneutikos, berasal dari kata hermeneuo,
artinya "menafsir" (to interprete). Kata benda yang dipakai
adalah hermeneia, artinya "tafsiran" (interpretation).
Kata ini ambil dari kata Hermes, yaitu nama dewa Yunani yang
tugasnya membawa berita-berita dari dewa-dewa kepada manusia.
2.
Definisi Hermeneutik
a.
Non-Kristen. Hermeneutik
dimengerti sebagai ilmu umum tentang linguistik; atau peraturan-peraturan yang
dipergunakan untuk mencari arti sesungguhnya atau menafsir/menjelaskan suatu
pengertian yang tidak jelas artinya.
- Kristen. Hermeneutik adalah bagian dari ilmu Teologia Biblika yang dalam perkembangannya memiliki tiga pengertian:
o Ilmu yang mempelajari teori-teori, prinsip-prinsip
(aturan-aturan) dan metode-metode penafsiran Alkitab.
o "Hermeneutics is the science that teaches us the
principles, laws, and methods of interpretations."(L.Berkhof)
o "Hermeneutics is the science of correct interpretation
of the Bible." (Bernard Ramm)
- Seni yang menguji kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab.
- Ilmu yang mempelajari keseluruhan proses penafsiran (konsep keseluruhan dari tugas penafsiran), terutama dalam dimensi spiritual bagi kepentingan pertumbuhan rohani penafsir.
Sebagai
ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip dan aturan-aturan dalam menafsir Alkitab.
Hermeneutik biasanya dibedakan menjadi dua:
- Hermeneutik Umum: yaitu prinsip-prinsip menafsir yang digunakan secara umum untuk menafsir segala macam bentuk karya sastra umum.
- Hermeneutik Khusus: yaitu prinsip-prinsip menafsir yang dikembangkan secara khusus sehubungan dengan jenis gaya sastra tertentu, misalnya: puisi, perumpamaan, cerita, dsb.
3.
Keterbatasan
Hermeneutik
Hermeneutik didefinisikan sebagai "ilmu" karena uraiannya
bisa dirangkumkan secara ilmiah dan sistematis dalam hukum-hukum,
prinsip-prinsip dan dalam seperangkat rumusan-rumusan. Namun demikian, Hermeneutik
juga disebut sebagai "seni" karena pengaplikasian dari
rumusan/prinsip-prinsip itu sangat membutuhkan ketrampilan dari penafsirnya.
Itu sebabnya seorang yang menguasai rumusan/prinsip-prinsip Hermeneutik
belum tentu dapat menjadi seorang penafsir yang handal (baik).
Oleh
karena itu Hermeneutik dibedakan dengan Eksegesis dan Eksposisi.
Hermeneutik adalah ilmu yang mempelajari tentang prinsip-prinsip
penafsiran Alkitab, sedangkan Eksegesis adalah penerapan prinsip-prinsip
tsb. terhadap teks dalam Alkitab dan Eksposisi adalah penguraian
hasil eksegesis yang telah dilakukan, pada umumnya berupa kotbah.
4.
Tempat Hermeneutik
Hermeneutik bukanlah ilmu yang berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat
dengan ilmu-ilmu lain yang tergabung dalam Teologia Biblika (Teologia yang
berurusan dengan penelaahan isi naskah Alkitab dan alat-alat bantunya).
Misalnya: Ilmu Pembimbing/Pengantar Alkitab (PL & PB), Ilmu Tafsir Alkitab
(PL & PB), Ilmu Teologia Alkitab (PL & PB) dan Ilmu Bahasa Asli Alkitab
(Ibrani & Yunani).
Hal
yang tidak dapat dihindari setelah mengaplikasikan prinsip-prinsip Hermeneutik
adalah bagaimana menyampaikan kebenaran yang kita dapatkan dari hasil
penafsiran itu kepada orang lain dengan cara yang benar dan menarik. Oleh
karena itu Homelitik (Ilmu berkotbah) adalah ilmu yang juga tidak
dapat dilepaskan dari Hermeneutik.
Selain
dengan Teologi Biblika, Hermeneutik juga berkaitan dengan Teologi
Sistematika, yaitu pengajaran Alkitab yang sudah diformulasikan secara
sistematis dalam doktrin-doktrin. Hermeneutik akan menjadi dasar yang
kuat bagi doktrin-doktrin yang dipelajari.
5.
Pentingnya
Hermeneutik
Setiap
orang Kristen harus mempelajari Alkitab karena Alkitab adalah Firman Allah yang
diinspirasikan oleh Allah sendiri, yang berisi segala pengetahuan tentang Allah
dan hubungannya dengan semua karya dan ciptaanNya. Namun demikian untuk
mengerti isi Alkitab tidaklah selalu mudah karena ada gap komunikasi yang besar
sehingga perlu dijembatani.
Allah menyampaikan FirmanNya kepada seluruh manusia
sepanjang sejarah melalui para penulis Alkitab. Untuk Firman itu sampai kepada
manusia dengan baik, khususnya kepada manusia yang hidup di abad ini, ada gap
yang sangat besar yang harus dijembatani. Firman Tuhan itu ditulis ribuan dan
ratusan tahun y.l., oleh banyak penulis Alkitab yang hidup pada jaman yang
berbeda-beda dan dari latar belakang yang berbeda-beda, dan ditulis dalam
bahasa-bahasa yang tidak kita kuasai. Bagaimana cara orang percaya abad ini
mengerti Firman Tuhan agar Firman itu diterima sama seperti ketika para penulis
Alkitab mula-mula menerimaNya? Inilah tugas Hermeneutik!
6.
Tujuan
Mempelajari Hermeneutik
Setelah
melihat pentingnya peranan Hermeneutik bagi kebutuhan kita untuk
mengerti Firman Tuhan maka dapat dijelaskan tujuan mempelajari Hermeneutik
sbb.:
a.
Sebagai Ilmu.
Tujuannya adalah mempelajari seperangkat prinsip-prinsip (aturan-aturan) untuk
memungkinkan kita mengerti apa yang dikatakan Alkitab sesuai dengan apa yang
dimaksudkan oleh para penulisnya.
b.
Untuk Tujuan Aplikasi.
Namun tujuan mempelajari Hermeneutik tidak berhenti sebagai ilmu.
Setelah memahami Alkitab dengan benar sesuai dengan maksud penulisnya, maka
perlu kita menempatkannya pada konteks dimana kita sekarang berada sehingga
kita tahu apa artinya bagi kita sekarang dan bagaimana mengaplikasikannya dalam
konteks kita sekarang.
c.
Untuk Pertumbuhan Rohani.
Setelah mengerti Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan kebenarannya dalam
hidup kita sehari-hari maka kehidupan iman kita akan bertumbuh menjadi dewasa.
Dan inilah yang menjadi tujuan utama kita mempelajari Hermeneutik.
d.
Sebagai Tindakan Preventif. Apabila tujuan di atas tercapai maka kita akan sekaligus
terhindar dari pengajaran-pengajaran sesat yang mencoba menafsirkan Alkitab
secara salah dan tidak bertanggung jawab.
e.
Untuk Tujuan Eksposisi. Bagian utama dari tugas hamba Tuhan adalah memberi makan
makanan rohani kepada orang-orang yang dilayani, oleh karena itu menguasai Hermeneutik
adalah kebutuhan utama yang harus diusahakan.
7.
Kualifikasi
Seorang Penafsir
Kualifikasi seorang penafsir (interpreter) memegang peranan yang sangat penting dalam memberikan hasil
interpretasi (penafsiran) yang tepat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,
seseorang yang memiliki teori (pengetahuan) Hermeneutik tidak membuatnya
otomatis menjadi seorang penafsir yang baik (handal). Ada tiga macam penafsir
yang disebutkan dalam Alkitab:
- Penafsir resmi. Dalam Kisah Para Rasul 13:27, yang dimaksud para pemimpin agama, pada jaman Tuhan Yesus hidup di dunia, adalah para imam, ahli Taurat, dan Farisi. Sedangkan yang dimaksud dengan penafsir resmi adalah para ahli-ahli kitab (PL). Tetapi cara penafsiran harafiah dan legalisme telah membuat mereka menyalah-tafsirkan kata-kata para nabi sehingga mereka justru menyalibkan Yesus.
- Penafsir palsu. Dalam beberapa ayat Alkitab kita juga melihat ada penafsir palsu, misalnya; 2Kor. 4:2; Ef. 4:14 2Pet. 3:16. Mereka ini adalah penafsir-penafsir yang dengan sengaja menafsirkan secara salah dan mereka adalah orang-orang yang tidak akan sampai pada pengetahuan akan kebenaran, 2Timotius 3:7.
- Penafsir Yang Benar. Lukas 24:27 menunjukkan bahwa Yesus adalah gambaran seorang penafsir yang sempurna: "...Ia menjelaskan..." (dalam bahasa Yunani diermeneuo artinya "menjelaskan/menafsir dengan cermat"). Yesuslah Sang Penafsir, penafsir yang benar harus meneladani Dia. 2Timotius 2:16-18 adalah pujian Alkitab yang diberikan kepada penafsir yang benar.
Apakah setiap orang bisa menjadi "Penafsir dengan
benar"? Tidak! Berikut ini adalah ciri-ciri yang harus dipunyai untuk
seorang penafsir dapat menafsir dengan benar:
- Hati yang baru. 1Kor. 2:14 seorang penafsir haruslah seorang yang sudah lahir baru. Sebagai mediator/komunikator antara Allah dan manusia, seorang penafsir harus hidup sebagai manusia rohani yang sanggup melihat hal-hal rohani yang Allah sampaikan kepada manusia. Dengan demikian ia akan menggantungkan sepenuhnya pada pekerjaan Roh yang memberikan pencerahan dalam hatinya.
- Hati yang lapar. 1Pet. 2:2 menafsir Firman Allah tidak dilakukan sebagai suatu kebiasaan atau karena kebetulan, tapi karena kerinduan. Tanpa kerinduan, seorang penafsir tidak akan sampai pada kepuasan menikmati berkat rohani dari Firman Tuhan. Kerinduan akan didapatkan apabila ia percaya bahwa Firman Tuhanlah yang memberikan makanan bagi kehidupan rohaninya.
- Hati yang taat. Maz. 119:98-100 Alkitab adalah otoritas tunggal, tertinggi dan mutlak bagi iman dan kehidupan pengikut Kristus. Oleh karena itu Firman Allah menuntut ketaatan. Apabila tidak ada tekad untuk melaksanakan apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan maka tidak akan Tuhan akan membukakannya lagi pada kita.
- Hati yang disiplin. Yes. 50:4 hati yang tidak mudah putus asa oleh kesulitan dan kelelahan. Mempelajari Alkitab membutuhkan tekad dan ketekunan dan disiplin. Hanya dengan kerja keras dan kesungguhan akan dihasilkan buah yang baik.
- Hati yang mau diajar dan rendah hati. Mat. 7:7 seorang penafsir tidak pernah merasa cukup belajar. Kekayaan Firman Tuhan mendorongnya untuk mau rendah hati dan selalu belajar. Keinginannya belajar membuktikan bahwa ia setiap saat mau untuk dikoreksi dan ditegur oleh Firman Tuhan..
Komentar
Posting Komentar