Pandangan Masyarakat India Tentang Dewa
Pandangan Masyarakat India Tentang Dewa
Dewa–dewa ini seperti manusia, tetapi mereka adalah adimanusia yang dikarunia dengan kekuasaan–kekuasaan kosmos dan dapat diundang sebagai tamu untuk berpesta dalam upacara persembahan. Para dewa itu dimohon, dipuji, disanjung dan dibuat senang.
Dapat disimpulkan bahwa, kenyatan yang tertinggi (dewa; Tuhan) adalah Zat yang mutlak yang secara filosofis berarti kenyataan yang tertinggi itu bebas dari segala hubungan, segala sebutan dsb. Akal manusia tak dapat menerobos kenyataan itu. Zat yang Mutlak itu beremenasi menjadi azas atau lapisan dasar dari alam semesta ini. Oleh karena itu tak ada perbedaan yang asasi antara Zat yang mutlak dan dunia, antara Tuhan dan dunia.
Filsafat India ortodoks lahir dari
agama Arya kuno yang ajarannya termuat di dalam Veda (Weda). Aslinya, kuil Vedik
(kuil orang yang percaya pada kitab suci Weda) dengan banyak dewanya
menggambarkan alam semesta yang terisi dengan proyeksi–proyeksi pengalaman dan
ide manusia tentang dirinya sendiri.
Dewa–dewa ini seperti manusia, tetapi mereka adalah adimanusia yang dikarunia dengan kekuasaan–kekuasaan kosmos dan dapat diundang sebagai tamu untuk berpesta dalam upacara persembahan. Para dewa itu dimohon, dipuji, disanjung dan dibuat senang.
Konsep tentang dewa–dewa tidak
mengalami kemunduran bagi para pemikir Hindu kuno. Dewa–dewa pemelihara dunia
tidak mati, tetapi disatukan dalam sebuah visi yang kuat dan mendalam seperti
raja–raja boneka lokal di sebuah kekaisaran yang dapat diatur dan diperintah
oleh seorang raja yang lebih kuat. Raja tunggal ini, adalah Diri (atman), atau kekuasaan suci (brahman) yang merepresentasikan seluruh
hasrat dan keinginan orang india. Dewa-dewa yang awalnya begitu transenden
dengan ritual penyembahan yang begitu kompleks, secara bertahap berubah menjadi
lebih karib dengan ritual yang lebih sederhana dan mendalam.
Dewa, manusia dan alam semesta
merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.
Dunia adalah penjelmaan zat mutlak yang tertinggi. Zat yang tertinggi
itu masuk ke dalam alam semesta ini, mendukungnya dan berada di dalam segala
yang ada. Tuhan berada di dalam segala sesuatu, dan segala sesuatu juga berada
di dalam Tuhan. Ia menjadi azas dan hakekat segala sesuatu. Oleh karena itu
Tuhan yang imanent juga berada dalam manusia.
Sekalipun Tuhan berada di dalam jiwa
manusia, namun Tuhan tidak turut serta dalam segala tindakan manusia, sebab purusa di situ hanya berfungsi sebagai
penonton saja. Ia digambarkan sebagai berdiam di dalam kota yang berpintu
gerbang Sembilan, yaitu tubuh manusia. Di situ ia berada di dalam ketenangan
yang sempurna, sehingga tidak ada hubungan antara purusa itu dengan segala aktivitas manusia.
Dalam diri manusia terdapat azas
keakuan yang disebut ahamkara, yang
membuat manusia tergoda dengan dunia ini sehingga terikat pada karma dan samsara. Kelepasan dapat
diperoleh melalui pengetahuan akan Brahman serta bhakti yaitu kasih dan
penyembahan kepada Tuhan, karma-marga
atau perbuatan amal. Tujuannya yaitu menjadi Brahman atau bersatu dengan yang
kekal. Tuhan adalah sat, cit, ananda;
realitas, kebenaran, dan kebahagiaan. Yang mencari kelepasan melalui
pengetahuan, Tuhan menyatakan diri sebagai terang yang kekal, yang mencari
Tuhan dangan perbuatan amal, Tuhan menyatakan diri sebagai keadilan yang teguh,
tak memihak. Akhirnya yang mencari kelepasan melalui bhakti, Tuhan menyatakan
diri sebagai kasih yang kekal, keindahan serta kesucian (bhagawadgita).
Dalam nyaya (salah satu dari enam sistem filsafat India yang percaya
kedaulatan Weda), keberadaan Tuhan
berusaha dibuktikan secara kosmologis dan teleologis. Secara kosmologis dunia
ini adalah suatu akibat, maka harus ada suatu sebabnya, sebabnya adalah Tuhan.
Secara teleologis, dikatakan bahwa dalam dunia ini ada tata tertib, sehingga
dunia menampakkan suatu rencana dan tujuan tertentu. Yang membuat rencana dan
tujuan itu adalah Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan termasuk golongan jiwa, jiwa yang
tertinggi, kekal berada di mana-mana, dan kesadaran yang agung.
Dapat disimpulkan bahwa, kenyatan yang tertinggi (dewa; Tuhan) adalah Zat yang mutlak yang secara filosofis berarti kenyataan yang tertinggi itu bebas dari segala hubungan, segala sebutan dsb. Akal manusia tak dapat menerobos kenyataan itu. Zat yang Mutlak itu beremenasi menjadi azas atau lapisan dasar dari alam semesta ini. Oleh karena itu tak ada perbedaan yang asasi antara Zat yang mutlak dan dunia, antara Tuhan dan dunia.
Komentar
Posting Komentar