Pandangan India Tentang Alam Semesta

Pandangan India Tentang Alam Semesta

Harmoni Semesta


Pada umumnya orang India melihat alam semesta sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari manusia dan Tuhan. Penghargaan terhadap alam semesta itu dapat dilihat dalam berbagai aliran dan paham yang berkembang di India meskipun demikian terdapat juga perbedaan–perbedaan di antara aliran–aliran itu mengenai sumber alam semesta dan sifat alam semesta.

Filsafat India berpangkal pada kenyataan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Harmoni ini harus disadari supaya dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan, sebagai penjara. Seorang anak di India harus belajar bahwa ia harus menyambut air yang mengalir dalam sungai, tanah subur yang memberi makanan, dan matahari yang terbit. Orang India tidak belajar untuk “menguasai” dunia, melainkan untuk”berteman” dengan dunia, (Rabindranath Tagore, 1861-1941)




Alam semesta diciptakan oleh prajapati (Brahma), Brahma ini mengalirkan dunia dari dalam dirinya.Oleh karena itu Brahma adalah asas pertama dari segala sesuatu yang ada. Hubungan antara manusia dan alam semesta (mikrokosmos & makrokosmos) adalah satu kesatuan karena keduanya (segala sesuatu) mengalir dari Brahman. Brahman sebagai asas kosmos adalah sama dengan Atman sebagai asas hidup manusia. Di dalam Atman itulah Brahman menjadi imanen. Yang tak terbatas menjadi terbatas. Yang memiliki seluruh dunia ini sebagai inti sarinya atau akarnya, itulah kenyataan, itulah Atman, itulah kamu (tat twam asi).
Hanya Brahman dan Atmanlah yang nyata, di luarnya tiada sesuatupun yang nyata. Dunia yang tampak ini pada satu  pihak disebut sebagai melulu nama dan bentuk sehingga hanya mewujudkan suatu hayalan (maya) saja.




Jainisme berarti “agama pengikut-pengikut Jina”. Adapun yang disebut Jina ialah orang sudah mendapat kemenangan rohani. Di belakang hari pengikutnya pecah menjadi dua, yaitu aliran Swetambara, yang berjubah putih, dan aliran Digambara yang berpakaian langit atau yang telanjang. Ada dua substansi yang kekal, yang tak dijadikan dan yang masing–masing berdiri secara bebas.Substansi itu ialah: benda atau zat yang tanpa hidup, yang disebut ajiwa, dan roh, atau zat yang hidup yang disebut jiwa. Sifat–sifat alam semesata ini adalah bahwa dunia penuh dengan penderitaan (dukkha), dunia ini fana/tak tetap (anitya). Dan akhirnya dari dalam dunia ini tidak ada jiwa (anatman). Di dalam dunia ini tidak ada yang tetap, sebab segala sesuatu itu menjadi dan menghilang lagi. Sehingga hidup ini adalah suatu rentetan penjadian yang sudah jadi itu, suatu arus atau mengalirnya hal–hal yang terjadi. Jadi tidak sesuatu yang tetap (anitya). Dan oleh karena ketidaktahuan (awidya) kita, maka kita mengira bahwa segala sesuatu yang di dalam dunia ini tetap adanya.

Namun demikian Jainisme juga mempersentasikan sebuah penafsiran ilmiah secara praktis juga ateisme atau ekstensi. Jainisme tidak mengenal dewa–dewa, tetapi yang ada adalah sel kehidupan yang bersifat sementara, semesta yang bersifat material ini tidak diciptakan dan abadi. Menurut Jina, alam semesta itu sendiri tidak bisa dihancurkan, tidak tunduk kepada kehancuran periodik seperti dalam kosmologi Hindu. Dan menurut ilmu pengetahuan kuno, seluruh kosmos itu hidup dan hukum dasar kehidupannya senantiasa tetap. Kita harus mempraktekan nirkekerasan (ahimsa) sekalipun terhadap makhluk terkecil, bisu dan tidak memiliki kesadaran.

Jainisme tidak mengakui adanya Tuhan. Dunia ini sudah berada mulai kekal. Tidak ada sebab pertama dari dunia ini. Perkembangannya disebabkan oleh karena  adanya zat yang tak terbatas bilangannya dan karena antar–aksi substansi–substansi itu. Karena adanya antar–aksi itu timbullah kelompok–kelompok yang baru. Jika unsur–unsur dunia ini berkembang dengan baik maka akan tercapai sifat–sifat ilahi baginya. Menurut Jainisme realitas ialah apa yang senantiasa berubah, tetapi yang menunjukkan identitasnya di dalam segala perubahan itu.



Debendranath Tagore (ayah dari Rabindranath Tagore), sumber pengetahuan tentang Tuhan ialah alam semesta dan intuisi. Selanjutnya ajarannya dikembangkan oleh muridnya. Tuhan adalah zat yang berpribadi yang tidak pernah menjelma atau menitis. Pengenalan akan Tuhan didapatkan dengan perantaraan orang yang mendapat wahyu atau dengan perantaraan alam semesta.

Mahatma (Mohandas Karamchaf) Gandhi, mengatakan bahwa alam semesta ini menjadi ungkapan kebenaran dari Allah, sehingga yang ada ini adalah bagian-bagian dari kebenaran itu. Dia juga mengembangkan ajaran Ahimsa (tanpa kekerasan). Ahimsa berarti tanpa kesalahan di dalam pikiran, kata-kata, dan perbuatan, serta menerima seluruh alam semesta ini di dalam kasih yang tanpa belenggu. Sekalipun Ahimsa yang secara mutlak itu tak mungkin dicapai oleh perorangan tetapi tiap-tiap orang yang mencari kebenaran harus menjadikan Ahimsa menjadi tujuan yang terakhir. Karena kesempurnaan hanya dapat dicapai dengan Ahimsa.

Sri Aurobindo, Brahman adalah saccidananda yaitu keberadaan yang murni, kekuatan kesadaran dan kegirangan keberadaan. Ketiganya mewujudkan alam yang lebih tinggi daripada segala yang ada, sedang alam yang lebih rendah terdiri dari akal, hidup dan benda. Alam yang lebih tinggi dikuasai oleh pengetahuan sedang alam yang lebih rendah dikuasai oleh ketidaktahuan. Dunia ini adalah penjelamaan dari kenyataan yang tertinggi. Yang Mutlak berdiam di dalam segala yang ada. Sekalipun alam semesta ini bukan seluruh kenyataan itu namun alam semesta ini bukan hayalan tetapi nyata karena satu irama dengan Brahmana. Setiap makhluk dan jiwa adalah suatu keseluruhan di dalam keseluruhan yang besar, suatu kenyataan yang mengulangi kenyataan yang tak terbatas itu.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?