Masa Pemerintahan Zedekia

Masa Pemerintahan Zedekia 

Zedekia, raja baru yang diangkat Nebukadnezar menduduki takhta Yehuda, adalah putra bungsu Yosia (Yeremia 1:3) dan adik dari Yoyakim (2 Raja 24: 17; 2 Taw 36: 1 0). Kebenaran berita Perjanjian Lama (PL) mengenai pengangkatan Zedekia oleh Nebukadnezar menggantikan Yoyakhin, sepenuhnya dikukuhkan oleh Sejarah Babel. Pemerintahannya (597-587 sM) memeteraikan hukuman Yehuda (2 Raja 24:19 dab). Wataknya sangat lemah dan plin-plan, para penjabat pemerintahannya adalah orang-orang yang berasal dari lapisan bawah. Penjabat-penjabat ini menggantikan golongan atas yang diboyong ke pembuangan, dan mereka memandang rendah orang-orang yang terbuang itu, tapi Yeremia menganut keyakinannya sendiri tentang buah ara yang 'jelek' dan yang 'baik' (Yeremia 24:1 dab). Dan kepada golongan terakhirlah dia kirimkan suratnya yang termasyhur itu (29:1 dab). Tapi baik di Babel maupun di Yehuda nabi-nabi palsu berusaha supaya Yeremia dibunuh (28:1 dab; 29:24 dab). rokok utama yang menjadi persoalan ialah lamanya pembuangan. Yeremia menubuatkan pembuangan akan 70 tahun lamanya, tapi nabi-nabi gadungan mengatakan pembuangan itu hanya 2 tahun saja.  

Pertentangan utama antara Yeremia dan Zedekia ialah masalah pemberontakan terhadap Nebukadnezar. Pemberontakan sudah direncanakan pada tahun ke-4 pemerintahannya dalam persekongkolan dengan negara-negara tetangga, hal yang sangat keras ditentang oleh nabi Yeremia (pasal 27 dab). Tapi, nampaknya Zedekia berhasil mengurangi kecurigaan Nebukadnezar dengan berkunjung ke Babel tahun itu juga (Yeremia 51:59). 

Akhirnya, pada thn ke- 7 atau ke-8 pemerintahannya, Zedekia tak dapat menghindari timbulnya kecurigaan Nebukadnezar, karena ia mengadakan perundingan-perundingan pengkhianatan dengan Firaun Hofra. Hukuman sudah ditentukan dan pada thn ke-9 (589 sM) pemerintahan Zedekia, Yerusalem dikepung oleh pasukan Babel untuk kedua kalinya. Tapi sebelum pengepungan (Yeremia 21:1-10) dan pada saat pengepungan-itu (34:1 dab, 8 dab; 37:3 dab, 17 dab; 38:14 dab) hanya satu amanat Yeremia bagi Zedekia, yaitu menyerah kepada Babel, sebab Yerusalem pasti akan jatuh ke tangan mereka. Tafsiran Yeremia mengenai pertempuran Karkemis yang terjadi 17 tahun yang lalu (605 sM) sedang dibuktikan sepenuhnya. Pada suatu saat selama pengepungan itu, waktu gerak maju tentara Mesir memaksa tentara Babel mundur, yang melahirkan pendapat bahwa Yeremia salah, segera dipatahkan. Peringatannya bahwa orang Babel akan mengalahkan orang Mesir segera digenapi dan pengepungan segera dimulai (37:1-10).  

Perlakuan buruk beberapa orang Yahudi terhadap budak-budak mereka pada saat yang genting ini, mendorong Yeremia melancarkan kritikan pedas dan kutukan keras (Yeremia 34:8-22). Karena Zedekia terombang-ambing akibat kekecutan hatinya, maka musuh-musuh Yeremia memperlakukan Yeremia semena-mena selama pengepungan itu, sehingga ia hampir putus asa. Ia ditangkap dengan tuduhan lari memihak kepada musuh, ditahan di dalam ruang cadangan air di bawah tanah (37:11-16), kemudian dipindahkan ke penjara di pelataran jaga dekat istana (37:17-21). Lalu ia dituduh mengkhianat dan dijatuhkan ke dalam sumur tua yang kering, di mana dia pasti akan mati seandainya Ebed-Melekh tidak campur tangan. Kemudian ia dipindahkan ke pelataran jaga (38:1-13); di situ raja Zedekia secara rahasia berbicara dengan dia (ayat 14-28). 

Menjelang akhir pengepungan itu, Yeremia - dalam suatu tindakan iman yang luhur - membeli sebidang tanah milik kerabatnya di Anatot (32: 1-15). Pada saat ini juga ia menyampaikan janji-janji pemulihan (32:36-44; 33: 1-26). Dan kepada masa ini juga harus digolongkan nubuatnya yg akbar mengenai perjanjian yg baru (31 :31 dab), yang akhirnya digenapi dalam Kristus, Pengantara perjanjian itu. Tapi cawan kejahatan Yehuda sudah melimpah sekarang dan pada thn 587 sM Yerusalem hancur oleh hukuman (ps 39). Di sini juga perlu diperhatikan bahwa berita tentang penaklukan Yerusalem dalam Sejarah Babel pada garis besarnya cocok dengan berita PL dalam 2 Raja 24: 10-17; 2 Tawarikh 36: 17; Yeremia 52:28. 

Peristiwa ini terjadi pada thn 597 sM, pada thn ke-7 pemerintahan Nebukadnezar. Jadi kehancuran kota itu adalah pada thn 587 sM, bukan pada thn 586 sM, seperti sudah begitu lama diterima. Nebukadnezar memperlakukan Yeremia dengan wajar dan sesudah Gedalya diangkat menjadi gubernur Yehuda, Yeremia tinggal di Mizpa membantu gubernur itu (Yeremia 40:1-6). Tapi Gedalya segera dibunuh (41:1 dab), dan yang tersisa di Mizpa memutuskan lari ke Mesir, walaupun Yeremia keras menentang keputusan itu. Yeremia, bersama Barukh, juru tulisnya, dipaksa mengikuti mereka (42:1-43:7). Masa terakhir dalam hidupnya, Yeremia yang sudah tua itu dan yang sepanjang pelayanannya sebagai nabi penuh pergumulan, tinggal di Takhpanhes di Mesir, tapi belum bungkuk. Ia menubuatkan kekalahan Mesir atas Nebukadnezar (43:8-13) dan menempelak ibadah orang Yahudi yg tinggal di Mesir (44:1 dab), yang dirasuki penyembahan berhala. Tentang peristiwa-peristiwa berikutnya dalam hidupnya atau bagaimana dia meninggal tidaklah diketahui.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?