Manusia Menurut India

Pandangan Orrang India Tentang Manusia


Hinduisme memberikan sumbangan yang cukup besar di dalam memahami manusia. Di dalam Hinduisme, badan atau tubuh adalah bagian dari diri manusia untuk mencapai keselamatan (salvation). Paham semacam ini mau melawan paham klasik yang melihat jiwa dan badan sebagai sesuatu yang terpisah di dalam diri manusia.

Hinduisme dapat memberikan kontribusi pada proses memahami manusia secara lebih menyeluruh. Di dalam Hinduisme, manusia dilihat dengan dua sudut pandang, yakni secara vertikal dan secara horisontal. Secara vertikal, manusia terdiri dari tubuh (body) dan jiwa (soul). Secara horisontal, manusia dapat dilihat sebagai kesatuan dari tiga bagian, yakni elemen-elemen untuk mengetahui (elements of knowing), elemen-elemen untuk merasakan (elements of feeling), dan elemen-elemen untuk berkehendak (elements of willing). Kelima hal ini (unsur vertikal dan horizontal yang disebut lima skandha) adalah inti dari seluruh Hinduisme di dalam upayanya untuk memahami manusia. Kelima hal ini juga dapat dipahami sebagai Yoga, yakni sebagai sebuah jalan untuk bersatu dengan Tuhan (God). Artinya, manusia dapat bersatu dengan Tuhan, jika ia mampu dan mau mengasah kelima bagian di dalam dirinya tersebut.

Hinduisme juga memandang manusia sebagai mahluk yang pada hakekatnya memiliki kebebasan. Akan tetapi, kebebasan di sini lebih dimengerti sebagai kebebasan spiritual (spiritual freedom). Seperti layaknya kebebasan politis, demikian pula di mana orang tidak bisa seenaknya menerobos lampu merah sembarangan, kebebasan spiritual tidaklah berarti orang dapat secara buta mengabaikan norma-norma konvensional yang menjadi landasan dari kehidupan sosial.  Memang, norma-norma yang konvensional tersebut dapat berubah. Akan tetapi, fondasinya tetaplah ada. Dalam arti ini, Hinduisme mirip dengan paham demokrasi di dalam politik. Jika keutamaan dari orang-orang yang hidup di dalam alam demokrasi adalah kebebasan untuk “mengayunkan tangan sesukanya selama itu tidak menyakiti hidung orang lain”, maka di dalam Hinduisme, setiap orang dapat memilih apa yang menjadi penghayatan religiusnya selama penghayatan tersebut tidak menyakiti orang lain.

Di dalam pemerintahan demokratis, setiap orang dapat memilih wakilnya di parlemen. Di dalam Hinduisme setiap orang dapat memilih dewânya sendiri. Jika di dalam pemerintahan demokratis, setiap orang bisa menentukan sendiri apakah ia hendak memilih wakilnya atau tidak, maka di dalam Hinduisme, setiap orang bisa memilih sendiri apakah ia mau mempunyai Tuhan, atau tidak. Jelaslah bahwa di dalam Hinduisme, manusia dianggap sebagai makhluk yang secara esensial memiliki kebebasan.


Pada zaman Brahmana manusia dibedakan antara bagian yang tampak dan yang tak tampak. Yang tampak disebut rupa, yaitu ‘tubuh’, yang tak tampak disebut ‘nama’, yaitu unsur–unsur yang menentukan proses hidup yang disebut pancaprana adalah  bagian manusia yang tak dapat mati; sebagai lawan dari 5 unsur yang dapat mati yaitu: rambut, kulit, daging, tulang dan sumsum. Dari pancaprana itu atman atau napaslah yang menjadi pusat kekuatan hidup. Asas pertama atau pusat  hidup manusia adalah atman. Intisari manusia ini ditemukan dalam atman. Atman mengandung dalam dirinya hakekat manusia yang sebenarnya. Atman meliputi segala sesuatu. Ia diam di dalam lubuk hati manusia.

Atman ini adalah subjek yang tetap ada di antara segala yang berubah ialah “aku” yang melihat, bukan yang dilihat, Aku yang tetap di atas dibelakang segala sifat–sifat. Ia bebas daripada dosa, dari pada umur tua, daripada maut dan kesusahan, bebas dari lapar dan dahaga, dsb.

Kesimpulan yang diambil dari uraian di atas ialah bahwa Brahman sabagai azas kosmos adalah sama dengan Atman sebagai azas hidup manusia. Di dalam Atman itulah Brahman menjadi immanen. Yang tak terbatas menjadi terbatas. Yang memiliki seluruh dunia ini sebagai intisarinya atau akarnya, itulah kenyataan, itulah Atman, itulah “kamu” (tat twam asi).

Sebelum manusia mendapat kelepasan, yaitu Atmannya kembali kepada Brahman, hidupnya ditaklukkan kepada samsara atau perputaran kelahiran. Nasib manusia ialah demikian: dilahirkan, hidup, mati dan dilahirkan lagi, hidup, mati demikian tiada putusnya. Inilah sengsara hidup manusia bahwa ia harus menaiki jentera (roda) hidup ini tanpa henti. Hal ini disebabkan karena manusia itu terikat kepada karma.

Kata karma itu berarti perbuatan, kemudian juga dikenakan kepada akibat perbuatan itu. Sebab ajaran karma ini mengemukakan, bahwa barangsipa yang berbuat baik akan mengalami yang baik, yang berbuat jahat akan dihukum. Nasib manusia itu tergantung kepada perbuatannya, kepada karmanya. Yang melakukan baik menjadi baik, yang melakukan jahat menjadi jahat.
Segala sesuatu ditaklukkan oleh karma ini, manusia, dewa, binatang dan pohon–pohon. Bahkan karma ini juga menguasai hidup yang sudah lalu dan hidup yang akan datang. Itu sebabnya maka di antara manusia sudah ada perbedaan sejak kelahirannya, yang seorang dilahirkan sebagai anak raja, yang lain sebagai anak pengemis dll. Di dalam Brhadaranyka Upanisad dikatakan bahwa manusia itu sambil menghabiskan akibat daripada apa yang dilakukan di dalam dunia ini, ia kembali lagi dari dunia akhirat ke dalam dunia ini, untuk perbuatan yang baru lagi. Jadi, sesudah mati jiwa manusia tidak dibinasakan, karena ada kelanjutan hidup.

Manusia dikuasai oleh samsara itu tak lain ialah karena keinginannya. Supaya orang dapat memperoleh kelepasan, ia harus berusaha membinasakan keinginananya. Jika segala keiginan dalam hati dibuang, maka jang dapat mati itu menjadi tidak dapat mati dan mencapai Brahman didalam tubuhnya.
Pembaharu agama Hindu yang sangat berpengaruh, Mahatma Gandhi (1869-1948) mengatakan, kebenaran (Tuhan) adalah azas segala yang ada menjadi tujuan hidup segala sesuatu. Alam semesta adalah ungkapan kebenaran itu. 
Manusia adalah kebenaran itu. Tetapi karena kebenaran itu terbelenggu dalam tubuh  maka manusia tidak dapat merealisaikan keadaanya yang sebenarnya. Tetapi ada jalan untuk lepas dari belenggu itu.

Suatu keuntungan bagi manusia karena dapat mencapai tujuan jiwanya yaitu penyempurnaan. Kesempurnaan itu dapat dicapai dengan ahimsa (tanpa kekerasan). Bagi Gandhi, ahimsa berarti tanpa kesalahan di dalam pikiran, kata–kata dan perbuatan, serta menerima seluruh alam semesta di dalam kasih yang tanpa belenggu. Sekalipun ahimsa secara mutlak itu tak mungkin dicapai oleh perorangan, tetapi tiap–tiap orang yang mencari kebenaran harus menjadikan ahimsa menjadi tujuan yang terakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?