Makalah : RelevansiHermeneutik Untuk Gereja Masa Kini



 BAB I

A.    Latar Belakang

Hermeneutik didefinisikan sebagai "ilmu" karena uraiannya bisa dirangkumkan secara ilmiah dan sistematis dalam hukum-hukum, prinsip-prinsip dan dalam seperangkat rumusan-rumusan. Namun demikian, Hermeneutik juga disebut sebagai "seni" karena pengaplikasian dari rumusan/prinsip-prinsip itu sangat membutuhkan ketrampilan dari penafsirnya. Itu sebabnya seorang yang menguasai rumusan/prinsip-prinsip Hermeneutik belum tentu dapat menjadi seorang penafsir yang handal (baik). Dalam kaitannya dengan Gereja masa kini, hermeneutik sangatlah berhubungan erat dengan Gereja tentang bagaimana relevansinya. Maka dari itu dalam makalah ini membahas tentang relevansinya hermeneutik dalam Gereja masa kini.
B.     Rumusan Masalah
Adapun yang ingin dibahas dalam makalah ini ialah :
1.      Apa definisi dari Hermeneutik ?
2.      Bagaimana Relevansi Hermeneutik untuk Gereja masa kini ?

C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah :
1.      Agar mengetahui definisi dari Hermeneutik
2.      Agar mengetahui Relevansi Hermeneutik untuk Gereja masa kini


Bab II
Pembahasan
A.    Definisi Hermeneutik
Hermeneutik adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interprestasi makna. Nama Hermeneutik diambil dari kata kerja dalam bahasa Yunani Hermeneuien yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman atau menerjemahkan. Kata “Hermeneutik” pada umumnya menunjuk proses teoritis dan metodologis yang ingin memahami makna yang terdapat dalam tanda-tanda dan simbol-simbol yang dipakai dalam komunikasi tertulis atau komunikasi lisan. Hermeneutik berperan penting dalam penafsiran Alkitab, karena merupakan disiplin yang memikirkan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang dipakai secara universal untuk memahami dan menafsir Alkitab. Boleh dikatakan, Hermeneutik biblikal merupakan salah satu bagian dari penafsiran yang bersifat umum ini.   
Hermeneutik didefinisikan sebagai "ilmu" karena uraiannya bisa dirangkumkan secara ilmiah dan sistematis dalam hukum-hukum, prinsip-prinsip dan dalam seperangkat rumusan-rumusan. Namun demikian, Hermeneutik juga disebut sebagai "seni" karena pengaplikasian dari rumusan/prinsip-prinsip itu sangat membutuhkan ketrampilan dari penafsirnya. Itu sebabnya seorang yang menguasai rumusan/prinsip-prinsip Hermeneutik belum tentu dapat menjadi seorang penafsir yang handal (baik).

B.     Relevansi Hermeneutik untuk Gereja masa kini
Menurut Kamus Bahasa Indonesia. Relevansi berasal dari kata “relevan” yang berarti kait mengait, bersangkut-paut. Adapun relevansi artinya hubungan; kaitan.
            Masa periode ini adalah tahun 1800-sekarang. Semua metode penafsiran yang pernah  dilakukan Masih terus dilakukan hingga sekarang. Walaupun dari waktu ke waktu penekanan terus bergeser dari satu ekstrem kepada ekstrem yang lain. Dalam era modern ini serangan yang palin tajam akhirnya ditujukan pada otoritas Alkitab, sebagai fondasi dalam menafsir.
 Pada awalnya, hermeneutika digunakan oleh kalangan agamawan. Pada abad ke 17 kalangan Gereja menerapkan telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks injil. Karena terdapat kesulitan dalam memahaminya maka oleh para pendeta pada saat itu menjadikan Hermeneutik sebagai solusi pemecahannya. Memasuki abad 20, kajian hermeneutic semakin berkembang. Oleh bapak hermeneutik modern Fredrich Schleiemacher menjadikan objek daripada hermeneutik tak sekedar pada sastra dan teks suci, ia memperluas cakupannya sebagai metode interpretasi karena sangat besar artinya bagi keilmuan dan bisa diadopsi oleh semua kalangan. Cakupannya meliputi Kitab Suci, Sastra, Sejarah, Hukum dan Filsafat.   
Maka untuk memahami bagaimana sikap Gereja terhadap pendekatan Hermeneutik untuk menginterprestasikan kitab suci, baik jika mengacu kepada Ekshortasi Apostolik Paus Benediktus XVI. Kerangka dasar bagi interprestasi Kitab Suci adalah kehidupan Gereja. Ini bukan untuk mempertahankan konteks gerejawi sebagai ketentuan dari luar yang harus dipatuhi para ahli kitab suci, tetapi sebagai sesuatu yang dituntut oleh kodrat kitab suci itu sendiri dan bagaimana kitab suci itu secara berangsur dapat terwujud. Pandangan yang ingin mengiliminasi mukjisat segala yang yang ilahi dalam kitab suci, berbahaya bagi kehidupan Gereja, sebab orang percaya kepada pandangan ini dapat menganggap bahwa kitab suci hanya mempunyai arti rohani saja, sehingga tidak menghargai sifat historis yang sungguh terjadi pada pewahyuan Allah tersebut. Pendekatan Hermeneutik haruslah menunjukkan hubungan yang layak antara iman dan akal budi.

Bab III
        Penutup
A.    Kesimpulan
Hermeneutik sangat berhubungan erat dengan Gereja masa kini, karena dapat membantu Gereja untuk menafsirkan bahan-bahan Alkitab yang rumit. Dan memudahkan pendeta-pendeta di jemaat untuk memudahkan membuat khotbah.
B.     Saran
Saran dan kritiknya sangatlah diperlukan dalam membenahi makalah ini.

                                                    Daftar Pustaka
Herman Yohanis, relevansi liturgi bagi pertumbuhan gereja, tim terang hidup, 2013
Sutanto, Hasan, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1993
Bahan dari internet


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?