Makalah Pembinaan Warga Gereja

                                                                                Bab I 
                                                                           Pendahuluan

    A. Pendahuluan
Gereja adalah suatu kehidupan bersama religius yang berpusat pada penyelamatan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. Kehidupan bersama itu dibentuk oleh orang-orang yang atas pertolongan Roh Kudus menerima dengan percaya terhadap penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Pengertian demikian menunjukkan bahwa Gereja memiliki segi ilahi dan segi manusiawi. Segi ilahi Gereja adalah sebagai buah penyelamatan Allah, maka Pemilik dan Penguasa Gereja adalah Allah. Segi manusiawi Gereja adalah sebagai kehidupan bersama religius, yang oleh pertolongan Roh Kudus diciptakan dan diselenggarakan secara lembagawi oleh manusia. Sebagai suatu kehidupan bersama religius yang lembagawi, Gereja membutuhkan kepemimpinan. Kekhasan kepemimpinan Gereja di dasarkan pada segi ilahi dan segi manusiawi Gereja. Dari segi ilahi gereja, Gereja adalah buah penyelamatan Allah, yang hidupnya dipimpin oleh Allah melalui bekerjanya Roh Kudus dengan Alkitab sebagai alat-Nya. Dari segi manusiawi, Gereja adalah suatu kehidupan bersama religius yang dipimpin oleh manusia yang atas kehendak Allah dalam kebijaksanaan-Nya dipanggil secara khusus untuk melaksanakan tugas kepemimpinan. Oleh karena itu, apa yang diputuskan dan atau yang dilakukan oleh manusia dalam memimpin Gereja, harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Setiap Gereja adalah Gereja Allah yang mandiri yaitu Gereja yang memiliki kewenangan dan mampu mengatur diri sendiri, mengembangkan diri sendiri, dan membiayai diri sendiri. Dalam mewujudkan kemandiriannya setiap Gereja wajib mengembangkan kebersamaan dengan Gereja lain baik secara klasikal maupun sinodal. Sebaliknya, dalam kebersamaan klasikal dan sinodal wajib mengembangkan kemandirian setiap Gereja. Semua pelayanan gereja adalah pembinaan warga gereja agar mampu melaksanakan tugas panggilan Tuhan. Pembinaan merupakan usaha gereja untuk mendewasakan warga gereja, agar melalui proses belajar dan mengalami perubahan diri yang terus menerus, warga gereja mau dan mampu bersaksi, bersekutu dan melayani di tengah-tengah gereja dan masyarakat.
      
B. Rumusan masalah 
C. Apa pengertian Pembinaan Warga Gereja ?
D. Apa saja Model-model Pembinaan Warga Gereja ? 
 E. Apa tujuan Pembinaan Warga Gereja ?
F. Apa pentingnya Pembinaan Warga Gereja ?




Istilah “pembinaan” berasal dari kata dasar ”bina”. Bila melihat ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dapat ditemukan bahwa kata “bina” berarti “mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna, dan sebagainya)”. Sedangkan arti dari kata “pembinaan” adalah “proses, cara, usaha, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik”. Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan yang diberikan oleh Poerwadarmita (1987). Menurut beliau pembinaan adalah “suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna berhasil, untuk memperoleh hasil yang lebih baik.”
 Istilah “warga gereja” dalam bahasa Yunani ialah “laikoi”, yang berarti “semua anggota dalam tubuh Kristus, yaitu gereja secara rohaniah, yang telah menerima Kristus sebagai Juruselamat, terdaftar sebagai anggota dalam sebuah gereja lokal, dan juga yang turut mengambil bagian dalam pelayanan gerejawi”. Dengan demikian semua orang yang telah dibaptis adalah warga gereja, termasuk pendeta dan semua pelayan Tuhan lainnya yang ada dalam gereja.

Pengajaran Firman Tuhan adalah dasar dari semua program dalam Pembinaan Warga Gereja. Pemberitaan Firman harus menjadi pusat pembinaan iman warga gereja, karena iman datang dan bertumbuh dari mendengar akan Firman Tuhan (Roma 10:17).
Adanya pelayanan khusus (kategorial) ini adalah karena melibatkan warga yang mempunyai kesamaan minat dalam bidang-bidang tertentu seperti kewanitaan, kepemudaan, pendidikan anak-anak dan remaja, kebapaan. Warga gereja dibina sesuai dengan kelompok usia dan jenisnya masing-masing agar tujuan pembinaan dapat diterima dengan kontekstual dan prosesnya dapat berjalan efektif.
Banyak gereja yang menawarkan berbagai “program pemuridan” seperti kelas-kelas, seminar-seminar, kelompok-kelompok kecil pemuridan. Apabila diamati lebih seksama, ternyata “program-program pemuridan” yang demikian tidak efektif dalam menghasilkan perubahan hidup yang kokoh. Perubahan hidup yang nampak hanya bersifat sementara bila tidak ditindaklanjuti secara berkelanjutan. Esensi dari pemuridan yang sebenarnya adalah memberikan contoh atau model dalam menuntun orang lain untuk mencapai potensi maksimalnya.
Pembentukan persekutuan warga jemaat dalam kelompok-kelompok kecil merupakan strategi yang baik untuk menyediakan komunitas yang sehat kepada mereka, hal ini dimaksudkan agar antar warga jemaat dapat saling memperhatikan dan membangun sehingga sama-sama mengalami pertumbuhan jasmani dan rohani. Perlu ditegaskan bahwa memperhatikan antar warga jemaat di dalam kelompok kecil tidak hanya sebatas masalah rohaninya saja, tetapi juga masalah lain yang menyangkut seluruh segi kehidupan (kesehatan, ekonomi, pendidikan, keluarga, dll).   
Gereja yang benar sesungguhnya tidak pernah membatasi fungsinya hanya sebagai pengelola program-program pembinaan bagi warga jemaat yang erat kaitannya dengan hal-hal rohani saja. Gereja dapat mengadakan pelatihan keterampilan hidup sesuai dengan kebutuhan warga jemaatnya. Misalnya pelatihan memasak bagi jemaat wanita, ini dapat membekali mereka yang hendak membuka usaha kuliner untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


·         Upaya meperlengkapi orang-orang kudus bagi pelayanan dan pembangunan Tubuh Kristus.
·         Mempersiapkan warga gereja untuk hadir dan berperan serta agar menjadi berkat di tengah-tengah masyarakat


·         Di bidang persekutuan




a.       Supaya warga jemaat memiliki pengenalan yang jelas tentang Allah.
b.      Alkitab adalah satu-satunya yang dapat mengubah kehidupan
c.       Agar hidup orang-orang percaya semakin diperlengkapi dalam menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah.
d.      PWG adalah sebuah proses dimana seseorang dilayani berdasarkan apa yang digariskan dalam II Tim 3:15-17 memperkenalkan kitab suci bahwa mengajar tentang kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang didalam kebenaran.




“pembinaan warga gereja” adalah “suatu usaha pembinaan yang berpusat pada Kristus, berdasarkan pengajaran Alkitab, dan merupakan proses untuk menghubungkan kehidupan warga jemaat dengan Firman Tuhan, melalui membimbing dan mendewasakannya dalam Kristus melalui kuasa Roh Kudus.”
           


Dr. O. E. Ch. Wuwungan, Bina Warga; Bunga RampaiPembinaan Warga Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2012, hlm 127.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?