Laporan Baca PL1 Judul Buku :PENGANTAR PERJANJIAN LAMA 1
JUMLAH HALAMAN : 93-210
INTERAKSI BACAAN
Kelima kitab pertama Perjanjian Lama
– Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan – disebut juga Taurat. Kata
berasal dari bahasa Ibrani tora ( hukum, pengajaran, petunjuk) yang
diterjemahkan dalam Perjanjian Baru oleh kata Yunani nomos. Kelima kitab Taurat
tidak dikarang secara terpisah sehingga masing-masing buku itu berdiri sendiri
dan utuh, melainkan setiap kitab itu merupakan bagian dari suatu kesatuan yang
lebih luas. Peranan utama kisah ini terlihat dalam kejadian – kejadian
Perjanjian Lama yang acapkali dikutip dalam Perjanjian Baru sebagai latar
belakang dan persiapan bagi karya Allah dalam Kristus yaitu karya Allah mulai
dari panggilan Abraham hingga pemerintahan Daud. Khotbah dengan ringkasan
pengajkuan tentang apa yang dilakukan Allah sejak Abraham hingga Daud, lalu
diarahkan secara langsung pada Yesus Kristus. Dengan demikian Paulus menyatakan
bahwa alur sejarah yang mulai dari para Bapak leluhur hingga Daudadalah bagian
terpenting dari kisah Perjanjian Lama. Dan ia menegaskan bahwa Kristus adalah
puncak penggenapan rencana keselamatan Allah itu. Dalam Perjanjian Lama ada beberapa ringkasan yang sangat mirip dengan itu,
terutama dalam kelima kitab Taurat sendiri. Sebagai contoh, pengakuan yang
ditetapkan dalam upacara mempersembahkan hasil pertama (Ul 26:5-10). Dengan
demikian ringkasan ini mengandung rincian pokok yang sama, yang mengakui karya
penyelamatan Allah demi umat-Nya :
(1) Allam
memilih Abraham dan keturunannya (Kis 13:17;Yos 24:3) dan menjanjikan tanah
kanaan kepada mereka (Ul 6:23)
(2) Israel
pergi ke Mesir (Kis 13:17; Yos 24:4) dan hidup dalam perbudakan (Ul 6:21
(3) Allah
membawa Israel ke Mesir (Kis 13:19;Yos 24:11-13;Ul 6:23;29:9)
Ringkisan
ini hanyalah tulang punggung kelima kitab Taurat. Demikianlah rencana yang
menyatukan unsur-unsur dalam kitab-kitab itu: janji, pemilihan, pembebasan,
ikatan perjanjian, hukum dan tanah perjanjian.
Salah
satu unsur yang menjadi pusat semua pengakuan ini adalah peristiwa keluaran
dari Mesir. Peristiwa itu menggambarkan pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan
Allah dan pemilihanNya atas Israel sebagai umatNya sebagaimana diwujudkan dalam
sejarah. Peristiwa keluaran adalah karya pembebasan Allah yang pertama dalam
sejarah Israel dan menjadi contoh perbandingan dengan pembebasan lainnya.
Peristiwa inilah yang merupakan inti dan peristiwa pokok dalam Taurat serta
menunjukkan bagaimana Allah memilih Isarel sebagai harta kesayanganNya sendiri
antara segala bangsa melalui pembebasan yang
dramatis di laut merah. Ia mengikat perjanjian dengan umat Israel sebagai Allah mereka dan
pembebasanNya yang berdasarkan anugrahNya mendorong mereka untuk menerima untuk
menerima perjanjian itu. Ia memberikan pula kepada mereka hukumNya sebagai undang-undang
mereka. Semuanya dicatat dalam kitab Keluaran hingga kitab Ulangan. Kejadian 12
– 50 merupakan pendahuluan sejarah bapak-bapak leluhur. Dalam pendahuluan ini
dikemukakan janji yang di penuhi dalam perjanjian pembebasan dari Mesir dan
pemberian tanah perjanjian. Janji kepada Abraham mengenai tanah dan kedudukan
sebagai bangsa yang merdeka, berada pada awal sejarah para bapak leluhur serta
menandai tujuan dan tema pusat dari sejarah tersebut:
“Berfirmanlah
Tuhan kepada Abram: ‘Pergilah dari negerimu
dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan
Kutunjukkan kepadamu; aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan
memberkati engkau serta membuat namamu masyur; dan engkau akan menjadi berkat”’
(Kej 12:1-2).
Tema
ganda ini ditulis berulang kali dalam kisah abraham dan diperbaharui dalam tiap
generasi bapak leluhur, hal tersebut secara khusus dinyatakan telah digenapi
dalam pembebasan yang dimulai dengan peristiwa keluaran (kel 6:6-8) dan pada
akhir taurat dengan firman Allah kepada Musa (Ul 34:1-4).
Seluruh
kisah itu diberi itu diberi arti
teologis dan historis secara khusus dalam hubungannya dengan pendahuluannya,
yaitu riwayat zaman permulaan. Pusat perhatian Kejadian 1 – 11 bersifat
universal dan kekhususan janji dan pemilihan yang menjadi pokok Kejadian 12
hingga Ulangan 34 belum muncul. Riwayat itu dimulai dengan penciptaan segala
sesuatu, khususnya laki-laki dan perempuan, lalu kisah tersebut dikemukakan
dalam istilah teologis, bagaimana keadaan laki-laki dan perempuan sejak dahulu
kala, mereka harus bergumul dengan dirinya sendiri, hidup terasing dan terpisah
dari Allah dan sesamanya, mereka harus hidup dalam dunia yang kacau dan
terpecah di mana bangsa melawan bangsa, masyarakat melawan masyarakat, individu
melawan individu. Mulai dari ketidaktaatan laki-laki dan perempuan di taman
Eden (Kej 1-3). Ia menceritakan pembunuhan saudara sendiri yang dilakukan oleh
Kain (Kej 4:1-16), pembalasan dendam dalam nyanyian Lamekh yang penuh
kesombongan (ay 17-23), penyelewengan manusia pada umumnya yang mengakibatkan
hukuman air bah (Kej 6), sampai runtuhnya kesatuan umat manusia semula sehingga
mereka harus tersebar ke seluruh dunia sebagaimana diceritakan dalam kisah Menara Babel ( Kej 11). Kelima kitab
Taurat sesungguhnya terbuka, karena sejarah keselamatan yang dimulai dari situ,
menantikan penyempurnaanya dalam anak manusia. Jika kelima kitab Taurat dibaca
secara teliti akan nyata bahwa di samping kesatuan tujuan, rencana dan susunan
yang jelas, terdapat keanekaragaman yang rumit dan mencolok. Salah seorang
pelopor utama teori-teori tersebut, memandang Taurat sebagai hasil karya dari
masa pembuangan dan sesudahnya. Karena itu, Taurat hanya merupakan titik awal
sejarah agama Yahudi saja dan bukan sejarah Israel kuno.
Taurat
adalah karya anonim, yang sama sekali tidak memberikan petunjuk tentang
pengarangnya. Musa tidak disebut sebagai pengarangnya, begitu pula orang lain.
Perlu diperhatikan bahwa tidak adanya nama semacam ini merupakan hal yang umum
dalam kebiasaan Perjanjian Lama pada khusunya dan karya sastra kuno pada
umumnya. Namun, meskipun anonim, Taurat memberi petunjuk bahwa penulisnya
adalah Musa. Kitab suci menyebut juga kegiatan Musa dalam menulis cerita, hukum
dan syair. Kegiatan penulisan Musa di perkuat oleh keterangan yang tersebar dan
penting dalam tulisan-tulisan lain sebelum masa pembuangan.
Kitab-kitab sesudah masa pembuangan (Tawarikh,
Ezra, Nehemia, Daniel dll.) sering mengacu pada Taurat teks tertulis yang
mempunyai otoritas, mereka menimba semua undang-undang dalam taurat. Disinilah
sebutan “Kitab Musa” terdapat pertama sekali.
Kitab-kitab
pertengahan (yaitu kitab-kitab sejarah sebelum masa pembuangan, Yosua, I-II
Samuel, I-II Raja-raja) sangat jarang menyebut kegiatan penulisan Musa. Semua
acuan yang ada tentang itu menunjuk pada kitab Ulangan.
Kitab-kitab
awal (yaitu kitab-kitab para nabi sebelum masa pembuangan) tidak menyebutkan
apa-apa tentang kegiatan tersebut. Ada dua hal yang harus ditekankan
berdasarkan penelitian bukti-bukti teks tradisi. Pertama, sumber Alkitab dan
berbagai aliran tradisi mengatakan bahwa Musa menulis kisah, hukum dan syair.
Walaupun tidak mungkin Musa menulis Taurat seperti bentuknya yang sekarang,
namun hubungan dan keseragaman bukti memperlihatkan bahwa Musalah perintis,
penganjur dan tokoh terpenting dalam kegiatan yang menghasilkan Taurat itu.
Isi
Taurat yang ada pada kita sekarang pada umumnya jauh lebih tua daripada waktu
penyusunannya yang terakhir, penemuan-penemuan baru menegaskan ketepatan
sejarah tulisan kuno itu dalam rinciannya. Meskipun perlu diperhatikan adanya
penambahan kemudian pada inti tradisi Musa yang asli, namun tambahan itu
mencerminkan pertumbuhan yang wajar dari kebiasaan dan pranata kuno, ataupun
usaha para imam kemudian untuk melestarikan sebanyak mungkin tradisi Musa yang
masih ada. Karena itu merupakan kritik yang berlebihan jika kita menyangkal
bahwa taurat berasal dari Musa.
Dalam
bahasa Ibrani Kitab Kejadian di sebut beresyit ‘pada mulanya’ yaitu kata
pembuka kitab tersebut. Nama ini sesuai, karena Kitab menceritakan awal dari
segala sesuatu yang berhubungan dengan iman umat Allah dalam Alkitab.
Berdasarkan isinya, kitab ini terbagi dalam dua bagian yang dapat di pisah
dengan jelas. Kejadian 1-11, sejarah zaman permulaan dan Kejadian 12-50,
sejarah bapak leluhur. Unsur yang sangat penting dalam kejadian 1 ialah adanya
penegasan bahwa dunia ciptaan Allah itu baik (ay 4,10,12,18,21,25,31) ringkasan
akhir (ayat31). Hubungan manusia yang unik dengan Allah dari antara ciptaanNya,
dinyatakan dengan sengaja dalam ungkapan yang samar-samar, “ gambar dan rupa
Allah”. Latar belakang pemilihan kata-kata ini
pastilah berkenaan dengan sikap
Perjanjian Lama yang tegas dan adanya
larangan khusus terhadap usaha untuk
menggambarkan Allah dengan rupa apapun.
Dalam
setiap kisah, dosa manusia diperhadapkan dengan penghakiman Allah. Dalam kisah
taman Eden, Allah menghakimi pertama-tama ular (kej 3:14-15), lalu perempuan
(ay 16) dan akhirnya laki-laki (ay 17-24). Penghakiman itu berupa keadaan
dimana laki-laki dan perempuan harus hidup dalam dunia yang seudah diwarnai
oleh dosa dan kejatuhan. Ular menjadi makhluk melata yang hina, menjijikkan dan
ditakuti manusia dan ular dengan jelas melambangkan perjuangan berat yang tak
mengenal kasihan antara manusia dan kuasa jahat dalam dunia. Dan ini telah
menjadi keadaan yang tetap sejak saat itu hingga ini. Sebagai hukuman lebih
lanjut atas dosa laki-laki dan perempuan, Allah mengusir keduanya dari taman
Eden dan menutup jalan kemabali ke taman itu. Dengan usahanya sendiri, manusia
tidak akan memperoleh jalan untuk kembali ke dalam persekutuan dengan Allah.
Ada tema Teologi yang ke empat yang mengherankan melalui riwayat zaman
permulaan, yakni anugerah Allah yang menopang dengan tidak berkesudahan.
Anugerah itu ada di dalam dan sepanjang setiap penghakiman kecuali penghakiman
terakhir. Dalam kisah ditaman Eden, hukuman akibat memakan buah terlarang adalah kematian pada hari itu. Meskipun
demikian Allah menunjukkan kesabaranNya sehingga kematian itu, sekalipun sudah
pasti akan dialami, di tunda hingga waktu yang tertentu pada masa yang akan
datang. Semua tradisi Perjanjian Lama sama-sama menempatkan kisah bapak-bapak
leluhur sebelum peristiwa keluaran Israel dari Mesir. Ada bukti bahwa kisah
bapak-bapak leluhur mencerminkan keadaan Timur Tengah kuno pada awal abad ke 20
sM. Garis besar bukti itu diberikan di bawah ini:
1. Nama-nama
para bapak leluhur mirip dengan nama orang Amori pada zaman itu dan dapat
dikenal dengan nama-nama Semit Barat Awal, yaitu sesuai dengan bahasa Semit
Barat yang dipakai sekitar abad ke-18 sM.
2. Perjuangan
Abraham dari mesopotamia barat laut (Haran) ke Kanaan cocok dengan keadaan yang
diketahui dari Zaman Perunggu Tengah II A. Pada zaman ini berkembanglah suatu
keadaan yang baru, mantap, damai, dan makmur, walaupun tidak di ketahui secara
pasti apakah pendirinya berasal dari Siria atau penduduk asli Palestina yang
hanya di pengaruhi oleh kebudayaan besar dari utara itu.
3. Cara
hidup para bapak leluhur sebagai peternak yang mengembara, sesuai dengan
lingkungan kebudayaan pada awal abad ke 20 sM. Pemahaman tentang hidup nomad di
Timur Tengah kuno telah di ubah secara radikal melalui penelitian akhir-akhir
ini oleh para ahli antropologi modern tentang hakikat hidup nomad.
4. Berbagai
adat istiadat dan hukum yang terdapat dalam kisah bapak leluhur dapat
dibandingkan dengan berbagai adat istiadat dan hukum Timur Tengah kuno.
Perbandingan ini memperlihatkan bahwa kisah ini secara otentik mencerminkan
kebiasaan masyarakat Timur Tengah kuno yang telah berlangsung lama.
5. Gambaran
umum tentang agama bapak-bapak leluhur termaksud gambaran yang tua dan otentik.
Secara khusus Allah digambarkan sebagai Allah bapak leluhur dan keluarga
besarnya secara pribadi, tidak seperti Allah tempat-tempat suci dan kuil-kuil
orang kanaan. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa hal, misalnya nama El dipakai
untuk menyebut Allah, bukan nama Yahweh, nama Baal sama sekali tidak disebut,
apalagi dipakai, ada hubungan langsung antara Allah dan bapak leluhur tanpa
perantara imam, nabi atau upacara, dan Yerusalem sama tidak disebut. Apa yang
telah di suguhkan disini cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa bapak-bapak
leluhut adalah tokoh-tokoh sejarah yang benar-benar pernah ada.
Ada
dua masalah pokok dalam kaitan antara peristiwa-peristiwa ini dengan apa yang
disebut “sejarah”. Yang pertama adalah masalah pengetahuan . dan masalah kedua
adalah masalah makna,adalah mustahil untuk mencatat sebagala peristiwa yang
terjadi
Tentang
kehidupan keagamaan dan ibadat bapak-bapak leluhur, Alkitab hanya memberikan
sedikit keterangan. Mereka berdoa acapkali bersujud, suatu adat yang Lazim di
Timur Tengah. Mereka membuat mezbah dan mengadakan persembahan-persembahan ,
tetapi tidak ada tempat yang khusus dan tanpa imam yang resmi.
Sejarah
bapak-bapak leluhur mulai dari pemannggilan dan pemilihan Abraham dalam
Kejadian 12:1-3. Pemanggilan itu bersifat mendadak dan digambarkan dengan
singkat saja. Pemanggilan itu datang pada Abraham begitu saja, tanpa petunjuk
waktu, tempat atau acara komunikasi dan tanpa keterangan tentang Abraham selain
silsilah singkat dan data keluarga dari ayat-ayat sebelumnya. Apabila panggilan
Abraham dipahami dengan jelas, arah kisah tersebut menjadi jelas. Abraham akan
menjadi bangsa yang besar, tetapi sarah mandul, tanah itu akan menjadi
keturunannya, tetapi orang kanaan mendudukinya. Tetapi tak satupun dari kedua usaha
itu memenuhi janji Allah melalui seorang putra melalui Sara. Akhirnya ketika
usia lanjut membuat janji itu menjadi mustahil menurut ukuran manusia, Tuhan
memperhatikan Sara seperti yang difirmankanNya, dan Tuhan melakukan kepada Sara
seperti yang dijanjikanNya, Lalu lahirlah Ishak. Janji yang serupa diperteguh
pada setiap generasi bapak-bapak leluhur sesudah itu, kepada Ishak, kepada
Yakubdi Betel ketika ia meninggalkan Kanaan karena takut pada Esau setelah
mencuri hak kesulungannya, kemudian kepada Yakub lagi d Betel sewaktu ia hendak
kembali, lalu kepada Yusuf dan putra-putranya. Hal ini merupakan tema utama
sebagaimana dapat dilihat dalam cara janji itu dipenuhi dalam peristiwa
pembebasan Israel dari Mesir oleh pertolongan Allah. Jadi sejarah keselamatan
dalam masa bapa-bapak leluhur adalah waktu pemilihan Abraham dan keturunannya
oleh Allah dan waktu janji Allah. Kisah Yusuf merupakan tahap pertama dalam
peralihan dari keluarga bapak leluhur yang semi nomad menuju bangsa yang
merdeka, sesuai dengan janji Allah. Anak kesayangan itu bi benci oleh saudanya
sendiri dan dijual menjadi budak dan
dibawa ke Mesir.
Dalam
kisah Abraham janji Allah mengenai keturunan yang tak terbilang banyaknya,
telah menjadi masalh memperoleh seorang anak laki-laki. Pemenuhan janji itu di
tunda secara aneh dan hampir-hampir bertentang dengan janji itu sendiri. Puncak
peristiwa mengenai imam Abraham terdapat dalam kejadian 22, yakni pengurbanan
Ishak. Kisah itu bukanlah kisah pengurbanan Ishak tetapi ujian untuk Abraham .
abraham dapat melalui ujian itu dengan satu cara saja, iman yang sepenuhnya
kepada Allah yang menjanjikan Ishak kepadanya dan memenuhi janji tersebut
melampaui batas kemampuan manusia. Abraham lulus ujian itu dan menjadi teladan
iman bagi umat Allah.
Perjanjan
merupakan salah satu gagasan utama dalam kitab. Di dunia kunoperjanjian
menghasilkan suatu hubungan yang tidak berdasarkan ikatan darah atau kebiasaan
masyarakat. Perjanjian adalah peneguhan hubungan khusus atau komitmen pada
suatu perbuatan tertentu yang tidak terjadi secara alamiah.
Keluaran
orang Israel dari Mesir adalah peristiwa utama sejarah keselamatan dalam
perjanjian Lama. Melalui peristiwa itu Allah menggenapi janjiNya kepada para
bapak leluhur Isrel bahwa Ia akan memberikan tanah kepada mereka dan keturunan
mereka akan menjadi bangsa besar. Peristiwa keluaran tak dapat di bantah
kebenarannya. Meskipun itdak terdapat bukti sejarah yang langsung baik mengenai
penindasan di Mesir maupun peristiwa keluaran , namun bukti tak langsung amat
banyak. Rute yang di ambil orang Israel yang keluar dari Mesir, maupun lokasi
Gunung sinai, masih kurang pasti, dalam hal ini kita berhadapan dengan
kemungkinan-kemungkinan, karena tidak terdapat bukti langsung.
Kata
Keluaran adalah terjemah dari Bahasa Yunani exodus ‘keluar’ (Kel19:1), nama
yang diberikan kepada kitab itu dalam septuaginta. Meskipun tidak seluruhnya
menggambarkan isinya, namun nama ini tepat untuk kita itu, karena salah satu
bagian terpenting adalah peristiwa “Keluaran dari Mesir”. Kitab ini berpusatkan
pada dua peristiwa penting, yaitu pembebasan orang Israel dari perbudakan di
Mesir melalui karya penyelamatan Allah yang penuh kuasa di laut Teberau. Dan
pengukuhan diriNya sebagai Tuhan mereka melalui perjanjian di Gunung Sinai.
Peristiwa keluaran merupakan peristiwa yang paling pokok dari sejarah
keselamatan dalam Perjanjian Lama. Melaui peristiwa itu Allah membuat Israel
menjadi alatNya untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.
Banyak
yang dikatakan mengenai Musa dala kisah-kisah kelima kitab Taurat, mulai dari
pasal kedua Kitab Keluaran hingga pasal terakhir Kitab Ulangan. Di dalam
perjanjian Lama ia digambarkan sebagai pendiri agama Israel, orang yang
mengumumkan undang-undang secara resmi, organisator suku-suku bangsa itu dalam
bekerja dan beribadat, pemimpin kharismatik mereka dalam peristiwa pembebasan,
perjanjian di Sinai dan pengembaraan di padang gurun, sampai Israel siap
memasuki tanah perjanjian dari dataran Moab.
Kesembilan
tulah pertama merupakan rangkaian yang berkesinambungan dan di pisahkan dari
tulah kesepuluh, yaitu kematian anak sulung. Kisah sembilan Tulah dibentuk
dengan menggolongkannya dalam tiga kelompok itu, dalam tulah pertama Musa di
perintahkan untuk menghadap Firaun di tepi sungai, dalam tulah kedua ia
diperintahkan datang menghadap Firaun di tepi sungai, dalam tulah kedua ia
diperintahkan datang menghadap Firaun di istananya. Dan dalam tulah ketiga ia
diperintahkan membuat gerak isyarat yang menimbulkan tulah itu tanpa
pemberitaukan kepada Firaun.
Perjamuan
malam yang dirayakan Yesus dengan murid-muridNya tentu mengikuti suatu pola
perjamuan paskah dan mungkin justru Paskah itu sendiri yang dimaksud. Dengan
peristiwa ini paskah diubah bentuk-bentuk dalam kepercayaan Kristen menjadi
perjamuan Tuhan, lagi-lagi dengan tekanannya sebagai peringatan akan pribadi
dan kematian Yesus, sang Mesias, yang melalui Dia segala arti Paskah dan
Perjanjian Lama telah digenapi.
Kemah
suci adalah tempat suci yang dapat di bawa terdiri dari rangka kisi-kisi
persegi dari kayu akasia yang ditutupi dua tabir yang besar dari kain lenan,
sebagai lambang kehadirannya, kemah Suci menantikan penggenapannya ketika Allah
dalam diri anakNya benar-benar hadir di tengah-tengah umatNya, yakni ketika
Firman itu menjadi daging dan diam di antara kita, penuh dengan kasih karunia
dan kebenaran.
Di
dalam buku Pengantar Perjanjian Lama 1 yang telah saya baca begitu banyak
informasi-informasi yang saya dapatkan yakni dalam kelima Kitab Taurat, yang
dijelaskan dalam dua kitab Taurat yaitu kitab Kejadian dan kitab Keluaran, di
dalam buku juga sangat di dijelaskan dengan baik mengenai awal penciptaan
Tuhan, dan kata-kata yang digunakan dalam buku tidak terlalu rumit sehingga
mudah di mengerti.
Komentar
Posting Komentar