Klaim Atau Legitimasi Yang Dianggap Sebagai Perintah Allah
Klaim Atau Legitimasi Yang Dianggap Sebagai Perintah Allah
Pendahuluan
Tumpas Habis
Pendahuluan
Judul
di atas membuat saya merenung dan mau tidak mau saya harus membuka kembali
beberapa lembaran dalam Alkitab yang sudah lama saya tutup, khusunya Perjanjian
Lama(PL), kemudian mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Judul di atas sengaja saya pilih sekaligus
hendak menegaskan bahwa di dalam Alkitab, ada begitu banyak klaim/legitimasi
yang dianggap sebagai perintah Allah, namun jika ditelisik lebih jauh rupanya
semakin dekatlah ‘kita’ pada kenyataan bahwa nama Allah hanyalah alat
legitimasi dari manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Singkatnya, hal-hal
yang selama ini dihidupi sebagai kitab keagamaan/wahyu Tuhan ternyata adalah
kitab yang syarat akan politisasi kepentingan dan kekuasaan.
Sebut
saja, Yahudi, Kristen dan Islam adalah pewaris, penerus dari doktrin-doktrin
dan menjadikan kitab Ibrani tersebut sebagai sumber inspirasi utama dalam
membentuk keimanan, kepatuhan, plus kekerasan. Mengapa harus ada kepatuhan?
Logikanya, selain agar mudah mengontrol perilaku umat yang menyimpang, tidak
mungkin mengharapkan kemenangan dalam peperangan tanpa adaanya prajurit yang
patuh. Kesemuanya itu ditata atas “tanda tangan atau cap jempol” Tuhan,
sehinggadan seolah-olah Tuhan itu kejam, licik, gila hormat, gila harta, ingin
selalu disembah, pembunuh, sangat baik, sangat bijaksana, maha pengampun, namun
arogan. Di sini kita tidak dapat membedakan mana perintah raja dan mana
perintah Tuhan. Namun kita juga dapat berandai, jika bukan perintah Tuhan,
siapa lagi? Entalah.
Sebagaimana
yang disepakati oleh kaum biblis(sarjana PL), Alkitab ditulis oleh beberapa
sumber yaitu: Y, E, DH dan P. Artinya kitab Ibrani tersebut adalah hasil dari
keroyokan banyak orang sekaligus menjadi kepentingan bagi orang dan bangsa
tertentu. Di sini, saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai
sumber-sumber tersebut, namun yang hendak saya tekankan bahwa sumber-sumber
tersebut masing-masing memiliki kepentingan, dan dari kepentingan tersebut
dijadikan tolak ukur untuk membangun setiap narasi tematik yang kini telah
dijadikan dan dianggap sebagai kata-kata suci(kitab suci) umat beragama.
Sebagai
suatu bangsa baru, tidak ada hal yang lebih penting pada masa itu selain
membangun identitas. Inilah kepentingan utamanya.Kejadian, Keluaran, Imamat,
Bilangan adalah tulisan dari sumber Y, E. Kitab Keluaran adalah tambahan dari P
dan DH. Identitas keyahudian mulai terbentuk dengan kitab-kitab tersebut,
sekaligus menjadi awal dari proses kanonisasi.
Dalam
susunannya kitab Kejadian di tempatkan paling awal dalam Alkitab. Penempatan
ini bukannya tidak beralasan, tetapi menjadi awal sekaligus pembuka karena
bercerita tentang asal-usul dimulainya kehidupan di bumi versi Yahudi. Meski
demikian, namun perlu digaris bawahi bahwakitab Kejadian bukanlah kitab yang
paling tua atau yang paling pertama ditulis. Pengumpulan dan penulisan
teks-teks tersebut diperkirakan pada tahun 485-398 SZB setelah Koresh(raja
Persia) membawa pulang bangsa Yahudi dari Babylonia dan memberi kebebasan untuk
membangun kultus dan kuil(Bait Allah II) di Yerusalem demi ketertiban yang
dikehendaki oleh raja Koresh. Di sinilah cerita penciptaan mulai dirumuskan
bersamaan dengan pembangunan kuil. Kuil merupakan hal yang penting dalam merumuskan
kisah penciptaan tersebut.
Seluruh
gagasan tentang penciptaan “dunia” bergantung pada seberapa jauh jangkauan
dunia menurut pemahaman seseorang. dalam tradisi penciptaan di Timur Tengah
kuno, konsep penciptaan yang paling umum adalah penciptaan dunia dengan kuil di
perkotaan sebagai pusat dan sebagai unsur terpentingnya. Hal ini menandakan
bahwa kisah penciptaan sama-sekali tidak bisa digeneralisasikan untuk semua
suku bangsa yang ada di dunia ini. Setiap suku bangsa memiliki mitos
penciptaanya masing-masing. Kisah penciptaan akan selalu kontekstual dengan
keseharian, kehidupan dari bangsa tersebut.
Selain
berpusat pada kuil, lantas bagaimana bangsa Yahudi merumuskan kisah penciptaan
tersebut? Dalam buku David B. Coote, pertanyaan ini dijawab. Cerita penciptaan
dari Mesopotamia, Mesir dan Ugarit adalah referensi utamanya.Atas kenyataan
ini, Erich Fromm, seorang filsuf psiko-sosialis angkat bicara, katanya, di arus
zaman ini, terasa sekali betapa sulitnya mempertahankan argumentasi bahwa
Alkitab Ibrani masih bisa relevan.Di sini saya hendak menegaskan bahwa kisah
penciptaan dalam Kejadian hanyalah suatu Mitos dari suku bangsa, alias bukan
sejarah.
Tumpas Habis
Dalam
Perjanjian lama banyak ditemukan perintah-perintah Tuhan kepada bangsa Israel
untuk melakukan pembunuhan kepada bangsa yang tidak menyembah Tuhan mereka
(Kafir), dengan kata lain musuh Tuhan adalah musuh bangsa Israel juga. Sehingga
bangsa Israel menjadi alat Tuhan untuk menumpas setiap bangsa – bangsa
kafir. Pertanyaanya dapatkah kita percaya bahwa ini murni langsung dari
mulut Tuhan? Jawabnya simpel “tidak mungkin”.
Bukanlah
sesuatu yang mengherankan pada zaman itu ketika suatu bangsa hendak berkuasa
atas bangsa yang lainnya walau perang adalah caranya. Tujuannya jelas, hendak
memperluas kekuasaan, mendapatkan tanah yang subur dengan istilah yang biasa
kita dengar berlimpah madu dan susu.
Secara
politis religius, bangsa Israel memainkan konsep hukum rimba “yang kuat adalah
penguasa”. Bangsa Israel hendak memproklamirkan dirinya bahwa hanya Allah
merekalah yang paling kuat dan berkuasa. Di sinilah pula permulaan Monoteis
dikenal. Meski tak bisa disangkali bahwa banyak Allah atau Dewa pada saat itu.
Tidak hanya itu, perintah Allah tersebut sekaligus hendak mengatakan bahwa
mereka adalah adalah satu-satunya bangsa pilihan Tuhan, sehingga setiap bangsa
yang tidak percaya kepada Allah mereka akan dianggap kafir dan harus ditumpas
habis. Kemudian, doktirn sebagai umat pilihan dan atas perintah Allah dipakai
untuk menambah rasa serta membakar semangat untuk menumpas habis bangsa-bangsa
lain yang dianggap kafir. Di sinilah pulalah, ekslusivisme itu muncul.
Parahnya,
paham eklusive itu telah menular secara tidak kritis di dalam sanubari para
penerus agama Yahudi(Islam, Kristen). Alhasil, pengkafiran disana-sini terjadi,
syiar agama dan penginjilan mengalir seperti air sungai tiada hentinya.
Kesemuanya dilakukan hanya demi kepentingan kuantitas umat. Kemudian,Tuhan
dibela sampai mati, tanpa melihat sisi kemanusiaan. Segala bentuk kekerasan
dilakukan atas nama Tuhan, tapa berfikir apakah Tuhan setuju akan kekerasan
tersebut dilakukan? Di sini pula konsep eskatolgi memainkan fungsinya untuk
meredam suara-suara kritis. Artinya, pera pelaku kekerasan dijanjikan surga,
dan yang tidak mengikuti perintah Tuhan akan masuk neraka.
Dalam
kondisi saat ini dimana dunia kita membutuhkan kedamaian, keamanan,
persaudaraan. Maka, masih relevankah mempercayai konsep Allah ala Yahudi yang
mendukung kekerasan? Jika memang ada, mungkinkah orang-orang yang melakukan
‘kekerasan’ atas nama Allah dapat masuk surga?
Salah satu ayat favorit yang sering dijadikan
landasan untuk mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan untuk mengumpulkan
perpuluhan ialah, Maleakhi 3:10 “Bawalah
seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada
persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam,
apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan
berkat kepadamu sampai berkelimpahan”.
Tema perpuluhan adalah tema yang sengaja
dirumuskan untuk menambah pundi-pundi keuangan kuil. Seperti pada
kerajaan-kerajaan lainnya dimana setiap masyarakat yang tinggal dalam kawasan
pemerintahan raja, berkewajiban untuk membayar pajak. Begitupun yang dilakukan
oleh umat Israel, mereka juga membayar pajak dengan istilah lain yaitu
perpuluhan. Perpuluhan tidak melulu berupa uang, ternak yang gemuk, hasil
ladang berupa sayur dan gandum juga menjadi perpuluhan yang harus diberikan
setiap waktu yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan, selain untuk mempercepat
pembangunan istana, juga untuk keperluan makan minum orang-orang yang berada di
dalam istana. Sehingga dalam Maleakhi 3:10 di atas, Tuhan seolah-olah di
gambarkan memiliki mulut dan perut yang khawatir akan kekurangan makan dan
minum di dalam rumahnya.
Jika menulusuri ayat ini maka, perintah di atas
tidak lain adalah hasil dari rumusan para imam-imam yang dianggap memiliki
otoritas dalam menyampaikan perintah Tuhan. Imam selalu dianggap wakil Allah,
apapun yang dikatakan oleh para imam selalu dipercaya bahwa Tuhanlah yang
berkehendak seperti itu, walaupun pada kenyataannya tidaklah demikian. Sekali
lagi, perpulan jelas bukan perintah Allah, semuannya disetir hanya untuk
kepentingan tertentu. Dengan melekatkan nama Tuhan dalam perintah tersebut,
sama sekali bukan perintah yang bersifat religius melainkan usaha politasisi
kerajaan.
Hari sabat dalam tradisi kekristenan masa kini
dikenal sebagai hari istirahat dan hari ini dipakai untuk memfokuskan diri
beribadah kepada Tuhan. Kejadian 2:2-3, sering dipakai sebagai alasan bahwa . .
.Tuhan berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang dibuatnya” dan Ingat dan
kuduskanlah hari sabat(Kel.20:8).
Konsep sabbat telah dikenal seajak awal Israel.
Awalnya sabbat diperingati saat bulan purnama saja. Namun karena berbagai
pertimbangan-pertimbangan para imam, sabat direduksi sekali dalam seminggu
harus diperingati. Sabbat diperingati pada hari ketujuh, ada begitu banyak
penjelasan mengapa sabat jatuh pada hari ketujuh.Salah satu alasan mengapa
sabat diperingati seminggu sekali diungkapkan Lamaire dalam Coote bahwa, hal
tersebut memperkuat posisi sebagai kaum para elite yang memilki hak istimewa
untuk menyantap daging secara reguler, karena hari sabat adalah kesempatan
untuk bersantai dan khususnya untuk korban syalem
yang merupakan hidanagan yang juga dinikmati oleh para imam. Mungkin saja para
imam tidak mampu lagi menunggu sebulan sekali untuk menyantap daging dan lemak dari ternak-ternak yang tambun,
sehingga sabbat harus dilakukan emapat kali dalam sebulan. Peringatan, atau
konsep acara dari hari sabat sangat erat kaitannya dengan ketetapan-keteapan
yang dibuat oleh para imam. Jika dalam suatu even yang biasa kita gelar di
kampus atau di kantor, maka dalam konteks sabbat para imam adalah seksi
acaranya.
Di sini kembali ditegaskan bahwa, unsur-unsur
yang ada di dalam hari sabbat masih mengandung rumusan yang sifatnya religius
politis.
Tidak dapat dipungkiri
bahwa, kitab-kitab keagamaan selalu memiliki sisi baiknya juga, termasuk kitab
Ibrani. Hanya saja, yang menjadi masalah pada saat ini, para pengkomsumsi kitab
tersebut diibaratkan seperti orang yang meminum miuman keras lalu mabuk
sehingga melupakan dirinya dan kebaikan-kebaikan yang harus diusahakannya
terhadap sekitarnya. Terlebih lagi, setiap tindakan yang dilakukan salalu
melegitimasi Tuhan, mabuk adalah perintah Tuhan, efek dari mabuk tersebut
dianggap sebagai perintah Tuhan. Tidak baik untuk ditiru.
Komentar
Posting Komentar