Kepribadian Nehemia



Kepribadian dari semua nabi PL, kepribadian Yeremia-lah yang paling jelas dilukiskan. Dan tidaklah berlebihan mengatakan, bahwa untuk mengerti maksud PL dengan istilah 'nabi', maka haruslah diteliti Kitab Yeremia. Pemanggilan Yeremia, tugasnya melayankan firman Allah (Yeremia 15:19), otoritas yang dikaruniakan tugas ini kepadanya, cara menyatakan Firman Allah kepadanya, pembedaannya yang jelas tegas sebagai nabi yang benar dari nabi yang palsu, amanatnya dan kepahit-getiran dilema yang dihadapinya karena kesetiaannya kepada tugasnya - semuanya itu terlukis dalam nubuat-nubuat Yeremia. Hubungan pengalaman rohani dan gugahan hatinya dengan jabatan kenabiannya memberi Kitabnya kualitas yang tak ada taranya. 

Emosinya sangat jelas terungkap bahkan dalam percakapan-percakapannya, Dari isi tuturannya nyata jelas bahwa Yeremia adalah orang yang senantiasa dirundung pergumulan. Ia lembut hati sekaligus keras, penuh kasih tapi pantang menyerah. Dalam dirinya kelemahan daging bergumul dengan daya roh. Keinginan-keinginan alami kawula muda tidak diberikan kepada nabi muda ini (16:2).  

Ia mendesak bertobat suatu umat yg tidak tahu lagi hati yang remuk karena penyesalan. Ia menelanjangi dosa-dosa bangsanya dan menyatakan hukumannya, walaupun dia tahu bahwa usahanya itu akan sia-sia. Umat yg dikasihinya membenci dia. Patriot sejati yang setia taat tanpa pamrih ini dicap pengkhianat. Nabi yang dirasuki pengharapan yg tak terpadamkan ini harus memamerkan kepalsuan pengharapan umatnya. Pendoa syafaat ini dilarang mensyafaati umatnya. Pencinta Yehuda ini difitnah oleh Yehuda.  

Sukar merasakan betapa dalamnya dukacita Yeremia mengalami keadaan ini. Tanpa berharap lagi akan penghiburan (Yeremia 8:18, 21), air matanya hendak berderai meratapi Yehuda yang terhukum (9:1; 13: 17) dan membiarkannya hancur akibat ulahnya sendiri (9:2). Karena yakin bahwa kegagalan sudah mutlak, ia mengutuki hari lahirnya (15: 10; 20:14-18), dan menuduh Allah membujuknya (20:7a); mengeluh karena kehinaan menimpa dia (20:7b-10), dan memohon pembalasan atas orang-orang yg menyiksa dia (18: 18,21-23). 

Dalam arti inilah Yeremia, yg hatinya tergugah dan tercabik-cabik itu adalah insan tragis. Kepahit=getiran hidupnya timbul karena gejolak pertentangan dalam batinnya dan sekelilingnya; cita-citanya yang luhur agung bentrok dengan kehinadinaan, semangatnya yg membara bentrok dengan hatinya yang kecut, keberjayaan tertentu bentrok dengan kekalahan telak, desakan hatinya untuk meninggalkan panggilannya keok oleh ketidakmampuannya menyingkirkan panggilannya itu (bandingkan 5:14; 15:16, 19-21 dengan 6:11; 20:9, 11; 23 :29). 

Tapi pertentangan-pertentangan batin yg sangat pelik ini dan kehinaan yang menimpa dia karena panggilannya itu (15:17 dab; 16:2,5,8), menghantar dia mendapati Allah sebagai benteng perlindungan. Demikianlah ideal persekutuan dengan Allah sesuai PL mendapat ujudnya yang paling indah dalam diri Yeremia. Dan dalam persekutuan dengan Allah inilah akhirnya Yeremia sanggup menghadapi keseganan, kesesakan hati, kesendirian tanpa penolong, permusuhan, kesepian, hilang semangat, salah dimengerti dan kegagalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?