Kearifan Lokal dalam berteologi pada konteks Toraja
Dari kejadian 1:26-27 dan kejadian
2:15 kita dapat menarik kesimpulan bahwa manusia itu mempunyai posisi yang
istimewa, posisi yang bertanggung jawab, Ia bertanggung jawab terhadap Allah,
sang pencipta, yang memberi tugas/mandat/kepercayaan kepadanya dan bertanggung
jawab atas ciptaan yang dipercayakan kepadanya. Inilah yang dapat kita sebut
hubungan tanggung jawab. Dalam hubungan tanggung jawab inilah manusia sebagai
gambar Allah, laki-laki dan perempuan, artinya, sebagai satu persekutuan.
Inilah dasar dan titik tolak manusia mengembangkan kehidupannya, yang kita
sebut kebudayaan, sebab kebudayaan tidak lain dari pada pola hidup bersama
manusia. Dalam hubungan tanggung jawab itu manusia menguasai, mengelola,
memelihara dan boleh menikmati ciptaan Allah lainnya. Demikian pula Alkitab lebih
meyakinkan kita bahwa kebudayaan itu adalah soal hubungan antara Allah dan
manusia serta makhluk Allah lainnya. Setiap kebudayaan dikembangkan berdasarkan
keyakinan yang menjadi motivasi dan sekaligus tujuan dari persekutuan yang
bersangkutan.
Salah satu nilai dasar dalam
kebudayaan Toraja sebagai contoh, ialah keharmonisan dan kedamaian dalam ikatan
kekeluargaan yang dijamin dalam adat (aluk) dan dijabarkan kedalam ritus-ritus
yang menyangkut kehidupan dan kematian. Pelaksanaan ritus-ritus itulah yang
memberikan warna dan kesan yang khas kepada orang luar, sehingga itu dilihat
sebagai jatidiri orang Toraja. Ada pula yang mencari jatidiri itu dalam “rumah
asal” (Tongkonan). Karena seseorang dapat mengidentifikasi dirinya dengan
menelusuri silsilahnya melalui garis keturunan Tongkonan. Jati diri orang
Toraja dengan demikian adalah Tongkonan (rumah-asal) dari mana itu diturunkan.
Penampakan jatidiri itu kelihatannya berbeda, namun itu sama saja, sebab
keduanya tidak dapat dilepas dari usaha melestarikan hubungan kekeluargaan
dalam kedamaian dan kerukunan.
Komentar
Posting Komentar