Interaksi Buku : Beritakan Injil Dengan Kasih
JUMLAH HALAMAN : 210 HAL
Tidak
ada hal yang semuda bicara, dan tidak hal yang sesulit berkomunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu tugas yang paling sulit dan penting yang pernah
dihadapi oleh pikiran manusia, khususnya komunikasi dalam alam rohani. Proses
komunikasi menempuhkan pendekatan akademis, merupakan soal teknis tingkat
tinggi.
Langkah pertama ialah apa yang di
namakan konsep/perasaan/tindakan merupakan tiga bagian utama dalam memulai
proses komunikasi. Pertama adalah bagian mental atau intelek, yaitu harus
mengetahui sesuatu sebelum menyampaikannya. Sangat disayangkan bahwa keuntungan
kita yang terbesar, yaitu berita Kristen itu, kadang-kadang menjadi halangan
yang besar. Di beberapa gereja, berita Kristen itu hanya dikemukakan secara
intelektuil saja sebab anggota-anggota gereja itu menganggap bahwa asal
informasi yang tepat disampaikan kepada orang-orang lain, maka mereka akan
menjadi pengikut-pengikut Kristen yang sejati secara otomatis. Penyimpangan
lain dari menyampaikan berita injil itu adalah penyimpangan kebenaran sebagai
sesuatu yang hanya dapat diutarakan dalam bangunan gereja. Pengertian yang
mendalam tentang berita itu penting, namun itu tidak cukup, perasaan kita
mengenai berita itu bertalian erat dengan komunikasinya. Kita pernah tentu
mendengar cerita tentang seorang penggerak
massa yang berbakat, seorang pembuat sensasi yang tidak mengetahui apa
yang dipercayainya.
Ia
naik ke atas sebuah kotak dan berteriak keras, ia begitu percaya kepada hal-hal
yang dia kemukakan itu sehingga 150 orang mengikutnya. Ia telah menawan
perasaan, sekaligus juga tubuh orang-orang
itu untuk mengikuti teriakannya yang tidak karuan. Ada emosi lain yang
nyata-nyata dapat berkominikasi dengan manusia, yaitu kasih. Memang, kasih itu
tentu lebih dari hanya sekedar perasaan saja, tetapi dalam kasih pastilah juga
termaksuk perasaan kita
Bagian ketiga dalam proses
komunikasi adalah tindakan atau kelakuan. Kita berbicara baik dengan tindakan
maupun dengan kata-kata. Kadang tindakan kita menghapuskan nilai kata-kata
kita. Barangkali kita mengira bahwa mempunyai kata-kata yang tepat tentang
Injil itu dan kita merasa bahwa berita itu sangat berarti untuk kita namun
ternyata tindakan kita memperlihatkan bahwa kata-kata kita itu hanya dusta
belaka.
Kata-kata adalah sarana terbaik yang
kita miliki untuk berkomunikasi, tetapi kadang-kadang kita mengharapkan sesuatu
yang lebih baik. Kata-kata ini dapat menjadi bentuk banguan yang fantastis dan
indah. Bahasa merupakan suatu hal yang hidup, sebagaiman layaknya segala
sesuatu yang hidup, maka bahasa juga secara tetap mengalami perubahan. Bahasa
mempunyai sifat berkembang, meskipun hal ini tidak diduga oleh banyak orang.
Bila seseorang ngotot tetap mau berbicara seperti orang-orang pada jaman
dahulu, maka dengan segera ia dapat
kehilangan kontak dengan generasi sekarang, karena rahasia komunikasi adalah
berbicara dalam bahasa orang-orang yang sedang mendengarkan kita. Rupanya kita
sebagai orang-orang Kristen tanpa sadar agak cenderung bicara secara kabur.
Kita belum berusaha menterjemahkan bahasa rohani kedalam situsi sehari-hari,
jadi bahasa yang kita pakai di gereja pada hari minggu tidak dipakai selama
enam hari berikutnya dalam satu minggu itu. Kita membutuhkan bahasa rohani yang
sederhana, terang,dan yang akan memukau pendengar-pendengar dimanapun kita
pergi.
Sama seperti kita dapat berkata-kata
tanpa berkomunikasi, tentu saja kita juga dapat berkomunikasi tanpa
berkata-kata. Tetapi kadang-kadang
komunikasi kita yang tanpa kata-kata itu bukannya menunjang komunikasi, malahan
sebaliknya melemahkannya. Seorang Kristen yang mau bertahan dalam hidup
rohaninya harus mempunyai hati yang sensitive dan terbuka terhadap Allah
Mungkin hal yang paling sering
dilalaikan dalam gereja masa kini adalah praktek menjadi pelayanan. Kepemimpinan tidak pernah
ditinggikan dalam firman Allah, sedangkan orang-orang yang melayani Tuhan
sebagai hamba-hambanya dihormati dan diberi pahala.
Saya percaya bahwa salah satu
masalah yang sangat besar dari kekristenan sekarang, apakah dalam gereja
setempat , pelayanan pekabaran injil, pendidikan seminari atau yang lain-lain
ialah kita memiliki terlalu banyak pemimpin yang besar, dan terlalu sedikit
pelayan. Masalah-masalah terbesar yang dihadapi gereja kita dewasa ini adalah
masalah hubungan antar sesama manusia, bukan doktrin. Masalah terbesar daripara
penginjil ialah bagaimana bergaul dengan orang-orang Kristen lainnya. Masalah
terbesar di seminari dan disemua organisasi Kristen ialah mengajar orang untuk
belajar bagaimana hidup sebagai orang Kristen, bagaimana saling bergaul dan
saling menghargai, saya berpendapat, Yesus Kristus mendidik murid-muridNya
sebagai kelompok karena Ia ingin melatih mereka untuk bekerja sebagai kelompok.
Orang sedang memperhatikan kita
untuk melihat apakah kata-kata kita sesungguhnya besar. Berita yang kita
sampaikan dan hidup kita berkaitan erat, jadi dekatnya hidup kita dengan Tuhan
akan menentukan efektif tidaknya kita menyampaikan beritaNya.
Kita cenderung untuk berfikir bahwa
kasih harus berubah-ubah sesuai dengan penampilan, dan bahwa orang perlu untuk
berubah sebelum kita dapat lebih mengasihi mereka. Itu bukannya jenis kasih
Allah, dan bukan caranya untuk mengubah seseorang. Jika saudara sedang mencoba
untuk mengubah pasangan saudara, barhentilah ! sebaliknya, mintalah pada Tuhan
agar Ia mengubah kita. Suasana ramah dapat menanamkan kebenaran kristus lebih
efektif daripada kata-kata yang kita ucapakan. Sikap dari kebesaran, misalnya,
lebih mudah ditangkap daripada diajarkan. Jika kenyataan tentang segala hal
yang berhubungan dengan Yesus Kristus belum menguasai hidup kita, maka saudara
kita dapat menyampaikan kenyataan itu.
Gereja Kristen dewasa ini sedang
menderita penyakit berat, yaitu krisis identitas. Hal itu sebagai korban
penyakit amnesia, penyakit hilang ingatan yang mencoba menemukan jawaban. Dan
hal itu dipersukar oleh kenyataan bahwa gereja itu terus menerus diserang, baik
dari pihak luar maupun dalam.
Komentar
Posting Komentar