Hubungan Filsafat Dengan Agama

Hubungan Filsafat Dan Agama

Dalam filsafat barat, penekanan diberikan dengan sangat berat pada rasionalisme. Oleh karena itu, sering terjadi jurang pemisah yang tidak terjembatani antara filsafat dan agama. Meskipun dalam kenyataannya, filsafat barat dan agama (Kristen) saling memengaruhi. Bahkan kemudian banyak filsuf barat yang berusaha menjembatani hubungan antara teologi dan filsafat, misalnya: St. Augustinus, Arthur Schopenhouer, Thomas Aquinas, dll. Dalam periodisasi filsafat barat misalnya, Zaman Patristik dan Skolastik  merupakan masa keemasan filsafat iman Kristen.

Dalam hubungan dengan agama, filsafat timur sama sekali tidak bisa dipisahkan dari agama, karena filsafat lahir dan berkembang dari ajaran agama. Keberpihakan pada agama sampai sebegitu jauh melebihi apa yang dilakukan pemikiran kritis dan sekuler barat modern. Baik filsafat India maupun filsafat Cina berasal dari ajaran agama Hindu, Buddha, Tao dan Kong Hu Cu (konfusianisme).

Pada dasarnya filsafat dan agama sangatlah berbeda, tidak saling bersaing tetapi saling menunjang dan membutuhkan. filsafat dapat membantu orang–orang beragama untuk mengerti ajaran–ajaran mereka dan menjawab masalah kehidupan dengan tetap. Sehingga hasil berfilsafat itu berdampak pada meningkatnya taraf keimanan. Karena berdasarkan caranya untuk mendapatkan kebenaran hakiki filsafat menggunakan segala kemampuan akal budinya sedangkan agama dalam mencari kebenaran hakiki berangkat dari kepercayaan dan ketaqwaan manusia sehingga tidak dibenarkan untuk meragukan kebenaran yang diwahyukan oleh Tuhan. 

Menurut Frans Magnis–Suseno dalam bukunya Berfilsafat dari Konteks,  filsafat itu dapat membantu agama dengan alasan : 

  • Filsafat dapat membantu agama dalam mengartikan (menginterpretasikan) teks–teks suci.
  • Filsafat menyediakan metode pemikiran untuk teologi. Teologi sebagai pemikiran orang beriman tentang imannya memerlukan metode pemikiran filsafat yang membantunya.
  • Filsafat membantu agama dalam menghadapi masalah–masalah aktual, misalnya masalah bayi tabung, kerusakan lingkungan hidup, gender, euthanasia dll. Filsafat membantu dengan prinsip-prinsip moralitasnya sendiri.
  • Filsafat membantu agama dalam menghadapi tantangan ideologi dari dalam maupun luar . Jadi filsafat tidak menyaingi agama dan agama tidak dapat digantikan oleh filsafat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?