Guru-guru Palsu dan Ajaran Palsu (1 Timotius 6:3-5)

Guru-gurupalsu dan ajaran yang palsu 

1Timotius 6:3-5
 
Jika seseorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat yakni perkataan Tuhan kita yesus kristus dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga antara orang-orang yang tidak lagi berfikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran.

Keadaan hidup dalam dunia kuno memberi kesempatan yang menggiurkan bagi guru palsu. Dari sisi dunia Kristen, gereja penuh dengan nabi yang berkelana yang dengan cara hidupnya yang demikian memberi mereka kehormatan tertentu. Pada waktu itu pelayanan ibadah Kristen tidak seresmi pelayan ibadah pada   masa kini. Seseorang yang merasa bahwa ia mendapat wahyu , bebas untuk mengatakannya ; pintu juga terbuka bagi mereka yang  bermagsud memberitakan pesan yang palsu dan menyesatkan.  Dari sisi dunia kafir terdapat orang-orang yang disebut sofis, orang-orang bijak yang menbuat kebijaksanaanya sebagai mata pencarian maka dengan berkata-kata , mereka menjual filsafat. Mereka memilih dua jalur, mereka meminta bayaran untuk mengajar seseorang agar dapat lebih pintar berdebat; mereka dalah orang-orang yang dengan lidah licin dan pikiran licik sangat lihai dalam “menjadikan sesuatu yang buruk tampak sebagai alasan yang lebih baik”.mereka telah mengubah filsafat menjadi suatu cara untuk menjadi kaya. Jalur mereka yang lain adalah berpidato di depan umum. Orang yunani selalu terkagum-kagum dengan pidato ; mereka menyukai seorang orator; dan orang-orang bijak pengelana ini berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, memamerkan kemampuan oratoris mereka. Mereka masuk kota untuk menyebarkan iklan secara intensif dan bahkan melakukan perjalanan yang panjang untuk langsung mengantar undangan pribadi untuk menghadiri penampilan mereka.

Tokoh-tokoh yang terkenal di antara mereka itu dapat menarik perhatian pendengar dalam jumlah ribuan ; pada zaman itu popularitas mereka sebanding dengan bintang pop modern. Philostratus mengatakan bahwa Adrian salah seorang yang paling populer di antara mereka, terkenal memiliki daya tarik sedemikian rupa sehingga ketika pesuruhnya datang dengan berita  bahwa Adrian akan berbicara , senat dan sirkus mejadi kosong dan semua orang berkumpul di Athenaeum demi mendengar iya berbicara. Para sofis ini membuat tiga kesalahan besar.
Pidato mereka sungguh tidak masuk akal. Mereka bersedia berbicara tentang pokok persoalan apa pun yang mungkin di ajukan oleh seorang pendengar mereka, betapapun jauh, sukar dimengerti dan tidak dapat di percaya. Berikut ini salah satu contoh nyata dari pernyataan yang pasti mereka perdebatkan. Seorang laki-laki pergi ke istana  di sebuah kota untuk membunuh raja Lalim yang telah menyengsarakan rakyatnya; bukan membunuh sang raja, ia malah membunuh putra sang raja; kemudian raja itu datang dan mendapatkan anaknya mati, dan kesedihannya kesedihannya itu membunuh dirinya; lelaki tersebut kemudian menuntut hadiah karena ia telah membunuh raja Lalim itu dan membebaskan rakyat; patutlah iya menerimanya?.

Mereka haus  akan  tepuk tangan. Persaingan antara mereka sendiri sangatlah keras dan kejam. Plutarch menceritakan tentang  seorang sofis pengelana bernama Niger yang datang ke suatu kota di Galatia; di situ tinggal seorang orator terkenal. Suatu kompetisi segera diatur. Niger harus ikut dalam kompetisi itu atau kehilangan reputasinya. Ia sedang menderita sakit karena ada duri ikan tersangkut di tenggorokannya sehingga menyulitkan berbicara; namun demi harga dirinya, ia harus maju terus. Kemudian terjadi infeksi dan akhirnya ia meninggal. Dio Chrysostom melukiskan gambaran mengenai suatu tempat pertemuan umum dikorintus, dengan berbagai macam orator yang bersaing mati-matian: “anda mungkin mendengar banyak sofis yang miskin dan menderita, saling berteriak dan saling menyerang, bersama murid-murid mereka yang mereka sebut pesilat lidah, dan banyak penulis buku yang membaca karangan bodoh mereka, dan banyak penyair yang menyayikan puisi mereka, dan banya penipu mempertontonkan kebolehan mereka, dan banyak peramal yang menafsirkan kejadian-kejadian laur biasa, dan ribuan ahli pidato memutarbalikkan hukum, dan sejumlah besar pedagang yang menawarkan berbagai dagangan mereka”. Disini kita baru saja melihat penghinaan satu sama lain, kekecewaan dan percekcokan, pendebatan panjang yang tidak putus-putusnya dari orang-orang yang berpikiran pendek, yang disesalkan oleh penulis surat-surat pastoral. “seorang sofis”,tulis philostratus,”dalam pidato tanpa persiapan, dibantai oleh parah pendengarnya yang bertampang seram, jarang memuji dan tida perna bertepuk tangan”. “mereka semua siap menerkam,” kata Diochrysostom,” karena bisik-bisik oran banyak ….seperti orang-orang yang berjalan dalam kegelapan, mereka selalu bergerak kearah tepuk tangan dan teriakan”. Lucianus menulis :”jika teman-temanmu melihat kamu gagal, biarkan mereka membayar harga perjamuan malam yang kau berikan dengan merentakan lengan mereka dan memberimu kesempatan untuk berpikir tentang sesuatu untuk dibicarakan dalam tenggang waktu diantara tepuk tangan”. Dunia kuno mengenal dengan baik jenis guru palsu yang sedang menyusup dalam gereja.

Mereka haus pujian, dan standar penilainnya banyak. Epictetus mempunyai beberapa gambaran nyata mengenai pembicaraan seorang sofis dengan murid-muridnya setelah penampilannya. “bagaimana pendapatmu dengan penampilanku hari ini ?” dalam hidupku, tuan, kupikir tuan layak di kagumi”. Bagaimana pendapatmu tentang bagian pidatoku yan terbaik?” yang mana ka itu?” pada saat aku melukiskan Pan dan Nymphs. “oh, itu sangatlah mengagumkan”.” Menurutku, hari ini lebih banyak pendengar yang datang,’kata sang  sofis.’ Ya, lebih banyak,’ jawab sang murid.’lima ratus, kira-kira.’ ‘tidak masuk akal!tidak mungkin kurang dari seribu.’ ‘knpa,itu lebih dari yang perna diperoleh Dio. Aku heran mengapa demikian mereka juga menghargaiapa yang ku katakan.’ ‘tuan keindahan dapat memindakan batu “’penampilan para sofis merupakan “kegemaran masyarakat” mereka menjadi senator, gubernur dan duta besar. Ker\tika mereka meninggal, monument didirikan untuk mereka, disertai tulisan seperti, “dari ratu kota-kota kepada raja kefasihan berbicara.”

Orang yunani teracuni oleh kata-kata mereka. Di antara mereka, jika seseorang dapat berpidato, keberuntungan sudah ada di tangan. Latar belakang seperti inilah yang dihadapi gereja ketika sedang bertumbuh sehingga tak heran bahwa guru palsu seperti ini dapat menyusup kedalamnya. Gereja memberikan lahan baru baginya untuk melati karunianya yang penuh dengan kepalsuan dan untuk mendapatkan gengsi murahan berikut keuntungan yang dapat dipetiknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?