Gereja dan Sekularisasi

Bagaimana sebagai seorang teolog mengantisipasisikap sekularisme jemaat

Devenisi Sekularisasi


Sekularisme adalah paham atau kepercayaan yang memisahkan antara urusan agama dari kehidupan dunia politik, tekhnologi, sains, seni, dan lain-lain. Dalam kajian keagamaan, masyarakat dunia barat pada umumnya dianggap sebagai sekuler. Hal ini dikarenakan kebebasan beragama yang hampir penuh tanpa sangsi legal atau sosial, dan juga karena kepercayaan umum bahwa agama tidak menentukan keputusan politis.

Sekularisasi adalah suatu perubahan masyarakat dari identifikasi dekat dengan nilai-nilai dan institusi agama menjadi nilai-nilai institusi non-agama dan secular. Tesis sekularisme mengarah pada keyakinan bahwa ketika masyarakat berkembang, terutama melalui modernisasi dan rasionalisasi, maka agama akan kehilangan kekuasaannya di semua aspek kehidupan sosial dan pemerintah.

Sekularisasi Yang Sedang Dihadapi Gereja 




Penaburan nilai moral keagamaan perlahan-lahan masuk dalam gereja beberapa contoh yaitu: makna penting kelahiran Yesus Kristus itu dalam perayaan natal, perlahan tapi pasti semakin bergeser dengan tampilnya sosok santa Klaus dan pohon natal yang akhirnya setiap perayaan natal tanpa kehadiran santa Klaus yang membagi-bagikan hadiah ataupun pohon natal maka akan terasa sangat janggal, walapun hal itu menggambarkan suatu kebaikan tapi makna natal itu mulai bergeser. Kehadiran Yesus sebagai juruselamat seakan menjadi tidak berarti apa-apa.

Pengaburan makna kata Christmas yang digantikan dengan kata X’mas secara tidak sadar kita mulai menerima kehadiran kata X’mas yang perlu kita ketahui bahwa huruf X mengandung arti ketidakjelasan atau sesuatu yang salah atau tersembunyi huruf tersebut dengan ditambah kata mas mulai menggantikan kata merry Christmas yang mengandung arti “in memory of the birt of Christ with good spirits” (dengan bersemangat dalam kenangan akan kelahiran kristus).
Selain itu etika berpakaian bagi jemaat anggota gereja mengalami perubahan yang sangat besar dimana moral keagamaan itu makin merosot, potongan pakaian yang tidak memenuhi standar kesopanan menghadap hadirat Tuhan semakin tidak diindahkan lagi, hal ini mencerminkan sekularisme sudah masuk begitu dalam,sehingga liturgi dalam gereja terkesan tidak sacral lagi.
  

Gereja harus menghadapi kenyataan dimana kehidupan masyarakat Kristen cenderung mulai mengarah ke modernisasi yang berdampak negatif terhadap pola hidup masyarakat Kristen menjadi konsumtif, individualistic, dan kriminalitas.
Selain modernisasi, rasionalisme juga merupakan penyumbang terbesar suatu bentuk gaya hidup tanpa Tuhan, dimana doktrin filsafat yang menyatakan bahwa logika, dan analisis yang berdasarka  fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Sehingga ayat-ayat FirmanTuhan yang tidak sesuai dengan pembuktian, logika dan fakta akan disingkirkan oleh kelompok ini. Beban yang berat aka nada di pundak untuk berjuan mempertahankan iman percaya dan kebenaran Firman Tuhan.
Firman Tuhan di dalam Amsal 1:7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”.


Ada kampanye melawan agama secara terang-terangan ataupun tersembunyi yang menolak keberadaan gereja. Dan tekanan terhadap gereja datang bertubi-tubi oleh kelompok-kelompok tertentu, selain itu ada peraturan perundang-undangan yang dibuat pemerintah daerah ataupun pusat yang memberatkan ataupun menghambat pertumbuhan gereja.
Tapi pelajaran yang penting dari pertumbuhan gerejadari sejak zaman rasul-rasul adalah ketika gereja mengalami tekanan, penaniayaan, dan dihambat maka suatu fakta bahwa gereja tersebut akan merambat, bahkan mengakar sampai begitu kuat.



Sebagai seorang teolog, yang harus dilakukan dalam mengatasi sikap sekularisme dalam jemaat adalah memberikan pemahaman kepada jemaat bahwa sebenarnya Agama atau kepercayaan kita tidak membutuhkan yang namanya politik,  karena terkadang hal ini yang membuat jemaat mengalami sikap sekularisme yaitu menjadikan agama sebagai tempat berpolitik, padahal agama tidak membutuhkan yang namanya politik.
Sebagai seorang terolog, hal yang paling penting dilakukan dalam mengatasi sikap sekulaerisme adalah dengan mengajak jemaat untuk mempelajari agama tersebut secara mendalam agar jemaat dapat memahami dengan jelas agama tersebut, sehingga apabila terdapat pengaruh dari luar seperti sekularisme percampuradukan suatu agama dengan paham-paham lain yang menjurus pada sebuah corak baru yaitu pelepasan-pelepasan dogma-dogma lama yang diganti dengan paham-paham baru sehingga dikatakan suatu agama tersebut lebih sesuai dengan zaman sekarang. Seorang atau kelompok Agamis mampu menolah secara tegas perubahan yang mulai terjadi pada agamanya sehingga agamanya tetap murni.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?