Filsafat Cina

Pengertian Filsafat Cina


Filsafat Cina adalah salah satu dari filsafat tertua di dunia dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia. Filsafat dasar lainnya adalah filsafat India dan filsafat Barat. Masing–masing filsafat tentunya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa.

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Cina, yaitu harmoni, toleransi danperikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan terhadap pendapat–pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat–pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan, pemikiran Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat; manusialah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina.



Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewa–dewa semua dikuasai oleh suatu nasib buta (Moira) dan ketika kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus–menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan tujuannya. Filsafat Cina mempunyai beberapa ciri sebagai berikut :


  • Berkaitan dengan sastra. Kesusastraan dan tulisan filsafat Cina lahir pada waktu bersamaan, yakni abad 9 hingga abad 8 SM. Di Cina, menjadi orang berbudaya berarti menjadi orang terpelajar dengan filsafat sebagai bagian utamanya.
  • Kebanyakan penulis prosa sering menganggap diri sendiri filsuf dan berusaha menyumbang sesuatu untuk pengetahuannya. Sebaliknya, para filsuf Cina juga menjadi sastrawan. Mereka menuliskan hasil pemikiran dalam karya sastra. Karena filsafat terkait erat dengan sastra, orang yang ingin belajar filsafat Cina pasti mempelajari sastra Cina. Begitu pula sebaliknya. Ciri ini sebetulnya juga memperlihatkan perbedaan filsafat Barat dan filsafat Timur. Filsafat Barat, kecuali beberapa filsuf eksistensialis, selalu ditulis dalam bentuk uraian diskursif. (Sastrapratedja; 10).
  • Lebih antroposentris dibanding filsafat Barat dan filsafat India.
  • Lebih pragmatis. Selalu mengajarkan bagaimana orang harus bertindak demi keseimbangan antara dunia dan sorga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?