Ciri-ciri Guru-guru Palsu (1 Timotius 6:3-6)
(i).
ciri pertamanya adalah angkuh. Hasratnya bukanlah untuk mengagungkan kristus,
melainkan untuk menonjolkan dirinya sendiri. Masih ada pengkhotba dan pengajar
yang lebih mementikan meraih hasil bagi dirinya sendiri daripada untuk yesus
kristtus, lebih senang memaksakan pandangan mereka sendiri daripada
menyampaikan firman Allah kepada manusia. W.M.Macgregor berkata, dalam suatu
kuliah tentang mantan gurunya, A.B.Bruce, “sslah seorang dari pendeta yang kita
miliki menceritakan betapa ia bingung melihat bruce berkali kali, selama
perkuliahan, mengambil selembar kertas, memandangnya, lalu melanjutkan
perkuliahan. Suatu hari ia mendapat kesempatan untuk melihat apa yang tertulis
pada kertas itu, dan menemukan diatasnya serangkaian kata yang berbunyi: ‘oh,
kirimkanlah terang dan kebenaranMU,’dan kemudian sambil terkagum-kagum ia sadar
bahwa sang profesor membawa kemuliaan dan pengharapan kedalam ruang kelasnya.’
Guru besar ini tidak memberikan cahayanya sendiri yang bagaikan cahaya lilin
murahan; ia memberikan kepada mereka terang dan kebenaran Allah.
(ii).
Perhatian guru-guru palsu tertujuh pada spekulasi-spekulasi yang sukar
dimengerti dan sulit dipahami. Memang ada aliran kekristenan yang lebih menaruh
perhatian terhadap perdebatan daripada kehidupan. Menjadi anggota sebuah
kelompok pemahaman alkitab dan menghabiskan waktu untuk menikmati pembicaraan
tentang doktrin-doktrin, tidak akan membuat orang menjadi Kristen. J.S.Whale
dalam bukunya Cristian Doctrine berkata tajam tentang intelektualisme yang
menyenangkan ini, “ kita mempunyai, seperti yang dikatakan valentine mengenai
thurio, ‘ persediaan kata-kata yang melimpah, namun tidak punya harta yang
lain.’ Kita bukannya melepaskan alas kaki kita, karena tempat dimana kita
berdiri adalah tempat kudus,tetapi kita malah mengambil foto-foto yang bagus
atau semak semak yang terbakar itu dari berbagai sudut yang tepat; kita malah
mengobrol tentang teori penebusan sementara kaki kita menginjak jubah dan bukan
berlutut di depan luka-luka kristus”. Seperti kata luter, “ia yang hanya
mempelajari perintah-perintah allah (mandata dei) tidak begitu tergerak. Namun,
ia yang mendengarkan allah memerintah( dei mandantem), bagaimana mungkin ia
tidak gemetar oleh kemuliaan yang demikian agung?” demikian juga kata
Melanchoton, “mengenal kristus bukanlah berspekulasi tentang bagaimana cara Dia
beringkarnasi, melainkan mengenal hasil karya penyelamatan-Nya.” Gregori dari
nyssa memberikan gambaran yang jelas tentang konstantinopel pada zamannya:
“konstatinopel penuh dengan budak dan montir, yang semuanya adalah teolog-teolog yang pintar,berkhotba di
pasar-pasar dan di jalan-jalan. Jika anda mencari seseorang untuk menukarkan
sekepin perak, ia akan memberitahumu letak perbedaan antara sang anak dan sang
bapa; dan jika anda tidak bertanya apakah kamar mandi siap untuk dipakai,
jawabannya ialah bahwa sang anak tidak dijadikan dari apapun.” Sanggahan yang
hebat dan pernyataan teologis yang lancar tidak menjamin bahwa seseorang adalah
Kristen. Hal tersebut mungkin hanyalah suatu bentuk pelarian dari tantangan.
(iii).
Guru palsu adalah penggangugu kedamaian. Iya lihai dalam bersaing; curiga
terhadap oaran lain yang berbeda dengan dia;jika tidak dapat menenankan suatu
perdebatan dia melontarkan hinaan tentang kedudukan teologis lawannya,bahkan
pada kepribadian lawannya; dalam tiap perdebatan nada suaranya penuh kebencian
dan bukan cinta kasih. Ia tidak perna belajar untuk menatakan kebenaran dengan
cinta kasih. Sumber dari kedengkiannya adalah pemujaan terhadap diri sendiri;
karena kecenderngannya mengenggap pendapat yang berbeda atau kritik terhadap
pandanganannya sebagai penghinaan secara pribadi.
(iv).
Guru palsu memperdagangkan agama. Tujuannya ialah mencari keuntungan ia
memandang pengajaran dan khotbahnya, bukan sebagai panggilan Tuhan, tetapi
sebagai karier satu hal yang pasti yaitu tidak ada tempat bagi pengejar karier
dalam pelayanan gereja dimana pun. Surat- surat pastoral dengan jelas
mengatakan seorang pekerja patut mendapatkan upahnya; tetapi tujuan dari
pekerjaanya harus demi kepentingan umum dan bukan keuntungan bagi diri sendiri.
Keinginannya
adalah bukan untuk mendapatkan sesuatu, melainkan untuk berguna dan digunakan
dalam melayani kristus dan sesama manusia.
Komentar
Posting Komentar