Berfikir Tentang Allah Dari Kategori Sosial dan Feminim



Pendekatan tradisonal dalam memahai Allah adalah  dengan menekankan bdenan aik antaara jarak antara Allah dan ciptaan yakn sifat Allah yang Transeden, maupun kedekatan Allah dengan ciptaan yaitu sifat Allay an imanen. Selama kedua segi hakikat Allah in di gandengkan dalam sifat paradoksnya, maka nilai penciptaan  terjamin.

Salah satu warisan sikap pencerahan terhadap alam mengikuti Descartes ialah keyakinan bahwa dunia bagaikan mesin. Pendekatan mekanistik ini, yang mula-mula dipakai dalam studi ilmiah dapat saja berkembang menjadi salah satu pandangan dunia. Wawasan transendesi dengan seenaknya mencegah Allah berperan serta dalam dunia serba mekanis.

berikut beberapa Alternatif untuk melawan pemusatan perhatian yang terlebih terhadap transendensi Allah.


  1. Kita dapat saja menegaskan bahwa Allah imanen dalam ciptaan, namun juga transenden.  Kedua aspek hakikat Allah ini saling melengkapi.
  2. Kita dapat saja memahami Allah dalam arti tertentu dipengaruhi oleh dunia. Pandangan ini dianut oleh telog yang agak liberal. Aliran ini bisa disifatkan dengan cara agak longgar sebagai teologi “ proses”. Pengaruh khusus dari teologi proses dalam membentuk suatu pemahaman tentang Allah adalah untuk menekankan gagasan kembar tentang Allah yang mudah terharu (Passibility), yakni kemampuan untuk menderita dan Allah yan mampu bermutasi ( mutability ) atau kemampuan untuk berubah. Dengan demikian Allah sejarah dan dan Allah ciptaan memiliki masa depan yang terbuka yang sebagian ditentukan oleh ciptaan
  3.   Ada kemungkinan lain lagi, yaitu Allah sebaiknya digambarkan dengan bertolak dari pengalaman kita sebagai manusia terhadap hubungan-hubungan antar manusia. Kaum feminis yang lebih radikal memperjuangkan pandangan ini. Seorang teolog dan pendeta Lutheran Jerman, Jurgen Moltmann, mamasukan unsur-unsur dari teologi proses dan feminis ke dalam pemahamannya yang tradisional tentang Allah. Salah satu ciri baru dalam karangannya adalah upayanya untuk memahami kembali Allah dengan memakai kategori-kategori sosial namun dalam kerangka pikiran tritaris yang secara berdasar bersifat ortodoks. Dia menggunakan salah satu gagasan yang terdapat dalam lingkungan ortodoks timur, yaitu bahwa tiap-tiap pribadi Trinitas berada juga di dalam pribadi yang lain dan juga yang lain (co-existence). Dia juga setujuh kalau dunia dianggap berperan dalam hubungan-hubungan Trinitaris. Keterlibatan Allah dalam dunia dan kebalikannya (peran dunia dalam kehidupan Allah) didasarkan pada hubungan kasih. Hubungan dasar antara Allah dan manusia ditandai oleh kasih kepada dunia dan bukan oleh kuasa atau penaklukan dunia. Moltmann meyakinkan bahwa jika kita sampai pada pemahaman akan Allah yang membayangkan Dia sebagai keTriTunggalan yang penuh kasih dan bersifat sosial maka sikap kita seoran terhadap yang lain dan terhadap  ciptaan akan dipenuhi kasih. Pandangan ini bertolak belakang dengan pandangan mengenai Allah sebagai yang berkuasa akan dunia ini. Menurut Moltmann pandangan yang disebut terakhir tercermin dalam sikap rakus manusia yang ingin menguasai dunia.


Pada mulanya kaum feminis berbicara tentang Allah sebagai Ibu kita dan bukan sebagai Bapa kita namun Moltann lebih menyukai gagasan seorang bapa yang bersifat keibuan. Dalam budaya tertentu yang telah menjadi peka terhadap kata-kata maskulin sebagai isyiarat penguasaan laki-laki penggunaan lambang-lambang maskulin secara eksklusif untuk menggambarkan Allah dapat memberi kesan yang salah tentang pribadi Allah. Kita dapat menghindari kesulitan ini dengan cara mengambarkan Allah dengan memakai cara-cara feminim, dan menyebut-Nya “ibu kita” .

Ciri-ciri khusus Allah sebagai pelindung merupakan pula ciri-ciri khas kaum bapa dalam kebudayaan pada zaman Kristus. Hanya kaum feminis yang paling ekstrim yang akan mempertahankan gagasan bahwa gambaran mengenai hakikat Allah harus mencakup pula masalah seksualitas. Beberapa teolog telah berupaya menghindari kesulitan ini dengan cara menjauhi pemakaian kata ganti orang maskulin atau feminism dalam hubungan dengan Allah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?