BAB II: Landasan Teori :Stusi Pedagogis Berkarakter Kristus di Gereja
A.
Pengertian
Pendidikan
Menurut
akar katanya, istilah pendidikan dalam bahasa Indonesia, diambil atau
diterjemahkan dari bahasa Inggris, education,
yang sebenarnya juga diambil dari bahasa latin, ducere, yang berarti membimbing (to lead). Tambahan awalan “e”
berarti keluar (out). Dengan
demikian, arti kata pendidikan adalah suatu tindakan yang membimbing keluar. [1]
Dalam
bahasa Indonesia disebut pendidikan yang berarti proses mendidik. Kata mendidik
dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa,
mendidik adalah jenis kata kerja, sedangkan pendidikan adalah kata benda.
Kegiatan menunjuk adanya dua aspek yang harus ada didalamnya, yaitu pendidik
dan peserta didik. Jadi mendidik adalah merupakan suatu kegiatan yang
mengandung komunikasi antara dua orang atau lebih.[2]
Menurut
Doni Koesoema A. Mengartikan pendidikan sebagai internalisasi budaya kedalam
diri individu dan masyarakat yang menjadi beradab.[3]ada
pula mendefinisikan sebagai proses dimana sebuah bangsa mempersiapkan generasi
mudanya untuk menjalankan kehidupan, dan untuk memenuhi tujuan hidup secara
efektif dan efisien.
Dalam
undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dalam pasa
1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[4]
Intinya pendidikan selain sebagai proses humanisasi, pendidikan juga merupakan
usaha untuk membantu manusia mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya
untuk mencapai kesuksesan dalam dunia.
Pendidikan
merupakan proses yang di tempuh oleh manusia, baik formal maupun tidak formal.
Pendidikan merupakan suatu sistem yang di bangun sebagai sistem yang dapat
membuat manusia lebih maju dalam berpikir, berbuat dan merasakan setiap apa
yang menjadi tujuannya. Sebagai saranya yang mampu memberikan kontribusi bagi
proses berpikir manusia.
B.
Pendidikan
Karakter
Pendidikan
Karakter menurut Albertus adalah diberikannya tempat bagi kebebasan individu
dalam menghayati nilai-nilai yang dianggap sebagai baik, luhur dan layak di
perjuangkan sebagai pedoman bertingkah laku bagi pribadi berhadapan dengan
dirinya, sasama dan Tuhan.[5]
Menurut
khan, pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala
daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik.
Pendidikan karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada
peningkatakan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu
mengajarkan, membimbing dan membina setiap manusia untuk memiliki kompetensi
intelektual, karakter dan keterampilan menarik. Nilai-nilai pendidikan karakter
yang dapat dihayati dalam penelitian ini adalah religius, nasionalis, cerdas,
tanggungjawab, disiplin, mandiri, jujur dan arif, hormat dan santun, dermawan,
suka menolong, gotong royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif,
kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas dan peduli.[6]
Menurut
Ramli, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi
anak, supaya menjadi manusia yang baik,warga masyarakat yang baik, dan warga
Negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik bagi suatu masyarakat atau
bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu yang dipengaruhi oleh
budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter
dalam konteks pendidikan Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan
nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendirim dalam
rangka membina kepribadian generasi muda.[7]
Seorang
Psikolog perkembangan moral dan pendidikan nilai dari The State University of New York at Cortland, Prof. Dr. Thomas
Lickona menyampaikan dua prinsip pendidikan karakter, yaitu :
1. Pembelaran
siswa di sekolah hendaknya didasarkan pada nilai-nilai yang bermanfaat secara
objektif, dan disepakati secara universal di tengah masyarakat plural.
2. Sekolah-sekolah
hendaknya tidak hanya memaparkan pada para siswa dengan nilai-nilai tersebut,
tetapi juga membantu mereka untuk memahami, menginternalisasi, dan bertindak
berdasarkan nilai-nilai tersebut.[8]
Pendidikan
karakter adalah proses memanamkan karakater tertentu memberi benih agar perseta
didik mampu menumbuhkan karakter khasnya saat menjalankan kehidupan. Denga kata
lain, peserta didik tidak hanya memahami pendidikan sebagai bagian dari hidup.
Jadi, dalam konteks keKristenan tentang pendidikan
karakter anak, Gereja dan keluarga sewajarnya melakukan suatu sarana untuk
terus menamkan dan mengembangkan pendidikan karakter melalui pembinaan.
Pembinaan ini berfungsi untuk terus membentuk karakter pada anak sehingga
mereka dapat memahami sikap dan tindakan mana yang harus diambil sebagai orang
yang percaya dan meneladani Kristus itu sendiri.
C.
Pendidikan
Agama Kristen
Jika dipandang secara umum, pendidikan berbasis
pengetahun dan pengalaman yang terjadi dalam konsep sejarah yang telah
dipelopori oleh tokoh-tokoh pendidikan secara umum. Tetapi pendidikan Kristen
berbasis kebenaran firman Tuhan, yang mengungkapkan segi-segi kehidupan manusia
baik dari sisi eksistensi kehidupan manusia itu sendiri, maupun moralitas dan
integritas hidup yang sesuai dengan panggilan dan tuntunan moralitas Allah.[9]
Sejalan
dengan langkah untuk menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang di praktekkan, maka
memahami Pendidikan Agama Kristen sebagai pedoman hidup bagi orang Kristen dan
bagi orang yang berniat untuk menjadi Kristen.[10]
Maksudnya ialah pendidikan agama Kristen berlandaskan pada asas-asas yang telah
di tetapkan dalam Kekristenan itu sendiri.
Pendidikan
(atau Pengajaran) Kristen biasanya
dipergunakan untuk pengajaran di sekolah-sekolah Kristen, baik di
sekolah-sekolah rakyat, maupun di sekolah-sekolah lanjutan, yang masih di
ajarkan oleh gereja atau organisasi (Perhimpunan) Kristen. Jadi nama ini
menunjuk kepada pengajaran biasa, tetapi yang diberikan dalam suasana Kristen.[11]
Pengajaran
atau pendidikan itu hendak membangunkan kepercayaan Kristen dalam diri para
murid itu dengan jalan menyampaikan pengetahuan. Mengajar adalah suatu usaha
yang di tujukan kepada pribadi tiap-tiap pelajar. Meskipun pengajaran itu
diberikan serempak kepada sejumlah orang bersama-sama, tetapi maksunya ialah
supaya masing-masing pelajar akan menyambut dan menyambut pengajaran itu secara
perseorangan. Inilah Arti yang sedalam-dalamnya dari PAK, bahwa dengan menerima
pendidikan itu, segala pelajar, muda dan tua, memasuki persekutuan iman yang
hidup dengan Tuhan sendiri, dan oleh dan dalam Dia mereka terhisab pula pada
persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan nama-Nya di segala
waktu dan tempat.[12]
Dalam Buku Pendidikan Agama Kristen Konteks Indonesia
: Refleksi Karakterisitik Pendidikan Kristiani Kontekstual, tulisan
Dr.Maidiantus Tanyid, M.th,Werner G. Greandorf, mengatakan bahwa :
Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang didasarkan pada
kitab suci, dikuasai oleh Roh Kudus dan berpusat pada Kristus. Dimana proses
belajar mengajar disesuaikan dengan tingkat perkembangan masing-masing individu, serta system mengajar
kontemporer. Melalui mana seseorang dapat mengenal dan mengalami rencana dan
maksud Allah melalui Yesus Kristus dalam aspek kehidupannya, serta mempersiapkan
mereka bagi pelayan yang efektif, yang berfokus pada Kristus, sang Guru Agung”.[13]
Senada dengan itu, dalam buku Drs.
Paulus Lilik Kristianto, M.Si., Th.M.,
Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, C.L.J Sherrill mengatakan :
PAK adalah
pendidikan yang bertujuan memperkenalkan Alkitab kepada pelajar, sehingga
mereka siap menjumpai dan menjawab Allah, memperlancar komunikasi secara
mendalam antar peribadi tentang keprihatinan insan serta mempertajam kemampuan
menerima fakta bahwa mereka dikuasai kekuatan dan kasih Allah yang memperbaiki,
menebus dan menciptakan kembali.[14]
Kesimpulannya PAK harus mendasarkan
diri kepada Alkitab sebagai Firman Allah dan menjadikan Kristus pusat beritanya
dan harus bermuara pada hasilnya, yaitu mendewasakan murid.
D.
Pengenalan
Akan Yesus
Pendidik
merupakan oknum yang paling penting dalam konteks ini. pengenalan akan Yesus
bagi orang yang belum tahu sama sekali tentang Yesus namun ia ingin
mengetahuinya adalah sebuah tanggung jawab bagi para pendidik dalam bidang itu.
Kehadiran Yesus Kristus di dunia ini
dan kematian-Nya, tidak ada seorang pun yang menyangkal hal tersebut. Bahkan kelahiran-Nya yang adi kodrati atau
supra alami itu telah dinubuatkan jauh ratusan tahun sebelum kelahiran-Nya oleh
para nabi. Jadi, pribadi Yesus merupakan
sebuah pribadi yang istimewa karena ialah Allah yang turun dari sorga dan
menjadi serupa dengan manusia. “Yesus
tepat sekali bagi pekerjaan mengajar. Tidak
ada orang yang lebih tepat untuk tugas
ini dari pada Yesus. Yesus benar-benar
seorang guru yang sempurna, baik dari segi ilahi ataupun insani.”[15]
Hal yang paling penting dalam
mengajar adalah memiliki tujuan yang jelas, seperti yang diungkapkan oleh
Price, “Salah satu hal yang sangat penting dalam hal mengajar ialah tujuan yangn
jelas dan khas.[16]
Sehingga, para pengajar banyak yang merasa tidak bersemangat dan tidak memiliki
tujuan dan sasaran yang jelas. Tapi
tidak dengan Yesus, “Ia tidak pernah mengajar semata-mata karena Ia harus
mengajar. Ia selalu mempunyai
tujuan-tujuan yang akan dicapaiNya. Ia
benar-benar tahu apa yang dikehendakiNya, dan berusaha untuk mencapainya. Ia tahu arah tujuanNya dan dengan gigih
bergerak kearah itu.”
Jika, setiap pendidik mampu untuk seperti yang
Yesus lakukan maka akan dapat memberi dampak yang postif bagi peserta didik
karena dapat menjadi teladan yang baik. “Ketika seorang masih kanak-kanak, ia
miliki kemungkinan yang sangat besar untuk kita bentuk. Mereka sangat cepat untuk meniru orang lain,
khususnya orang-orang yang mereka kagumi.”[17]
Hal ini lah yang medorong setiap pendidik untuk menjadi teladan bagi para
peserta didiknya karena mereka meniru apa yang mereka lihat dan meniru setiap
orang yang mereka kagumi. Oleh karena
itu, seorang pendidik harus memiliki karakter seperti Yesus sehingga dapat
dijadikan teladan dan contoh bagi peserta didiknya.
Yesus tidak hanya Tuhan dan
Juruselamat manusia tetapi Ia juga menjadi teladan bagi seluruh umat manusia
sepanjang masa dan etnis bahakan budaya.
Termasuk guru, Yesus menjadi sebagai sebuah patokan utama bagi karakter
seorang pendidik. “Jika Saudara-saudara
sebagai guru-guru Kristen sendiri tidak menjunjung tinggi Kristus, tidak
memberitahukan Kristus dan tidak meneladani Kristus sungguh-sungguh, dan mengajarkannya
sesempurna mungkin kepada murid, maka Saudara tidak mungkin bisa membentuk
karakter yang baik.”[18]
Oleh karena itu, karakter dari Yesus Kristus harus menjadi patokan atau
standard utama bagi para pendidik dalam mendidik muridnya.
Penerapan karakter kristus bagi pendidik dalam
hidupnya sendiri adalah salah satu langkah awal untuk membuat peserta didik
sedikit kagum dengan karakter yang dimiliki oleh pendidik. Dan akan
bertanya-bertanya hingga tiba pada keinginannya untuk mengenal sosok Yesus
Kristus Itu sendiri.
Pengenalan
akan Yesus bisa juga di terapkan bagi anak yang memang lahir dalam lingkup
kekristenan dengan cara baptisan, sekolah minggu dan pembinaan anak-anak.
pembinaan anak-anak dalam hal memperkenalkan meraka dengan Yesus adalah hal
yang semestinya terus dilakukan dalam lingkup keluarga dan gereja, sehingga
anak dapat terdidik dan mampu mengaplikasikan imannya melaui tindakannya
sendiri.
E.
Anak
dan karakter
Anak
adalah sebuah karunia jika dipandang dalam perspektif religius. Oleh karenanya
ketika ia ada dan hadir dalam sebuah keluarga didikan dan pembinaan haruslah
diperhatikan atau di prioritaskan oleh kedua orang tuanya, mengingat bahwa anak
masih memiliki karakter yang relatif, statis, berada dalam masa perkembangan.
Watak
atau tabiat anak, bukanlah sifat bawaan sejak lahir. Karena watak tidak
berhubungan dengan azas keturunan, melainkan pengaruh faktor eksternal yang
membentuk formasi pikiran yang menetap secara psikologis. Dengan demikian watak
tidak terjadi atas dorongan genetis, namun dari pembiasaan perilaku (Proses
interaksi) yang membentuk sifat atau tabiat. Sebab itu, watak bukan pengetahuan
tetapi ia dapat ditanamkan.
Semenjak
kecil anak sudah dibiasakan oleh orang tua memahami harkat laki-laki dan
perempuan, baik dari aspek penampilan maupun perlkuan yang berbeda. Sadar atau
tidak, anak laki-laki di bimbing orang tua untuk tumbuh menjadi kuat, hebat dan
bertenaga. Sedang anak perempuan dibiasakan berpenampilan lembut dan cantik.
Orang tua memberi penekanan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan.
Ketika sikap sosial tadi menjadi pengangan mendasari bagaimana etika anak-anak
bergaul, maka setiap anak akan mengikuti nalurinya mencari teman yang sejenis
dan sebaya.[19]
Dalam
perkembangan anak, setiap anak butuh area tumbuh kembang untuk
mengaktualisasiakan dirinya terhadap orang lain. Sebab itu, sekolah sebagai
tempat berkumpulnya beragam karakter anak dan pusat pendidikan budaya, sangat
diharapkan menjadi Supply of power yang
mendorong manfaat bagi perkembangan jiwa anak didik.[20]
Karakter
seorang anak dalam pertumbuhannya merupakan karekater yang masih sangat sulit
di tebak, pertumbuhan dan pengenalan akan dunia masih dalam taraf itu. Karakter
dinamis tak karuan untuk menuju pada karakter pribadi ketika dewasa masih sanga
sukar terlihat. Oleh sebab itu, karakter anak dalam masa transisinya masih
perlu di bina dan di bentuk, baik dari dalam keluarga, sekolah, gereja, dan
masyarakat.
F.
Landasan
Alkitabiah
Pendidikan
terhadap anak bukanlah suatu pendidikan yang baru-baru ini muncul. Tetapi
pendidikan anak sudah sejak dari dulu menjadi prioritas dalam pengajaran
Alkitab. Berikut ada dua landasan pengenalan Yesus akan anak dan Pembelajaran
kepada anak dan orang tua dalam pembentukan karakter yang bercirikan Kristen.
“Lalu
orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan
tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan
berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan
menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya
Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut
Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke
dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya
atas mereka Ia memberkati mereka”.(Markus 10:13-16)
Ayat
ini merupakan ayat dimana seorang anak yang ingin datang kepada Yesus namun di
batasi oleh orang-orang yang lebih dewasa yang berada di sekelilingnya.
Ekspresi anak meyambut sukacita adalah sebuah hal yang tak perlu dibatasi,
karena itu akan menjadi penentu pembentukan karakter anak. kerinduan untuk
mengenal Kristus jangan pula di batasi. Anak semestinya di beri keleluasaan
untuk itu, sehingga moral perkembangan anak bisa bertumbuh sejalan dengan apa
yang telah dilihatnya di dalam Kristus itu sendiri.
“Hai
anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
Hormatilah ayahmu dan ibumu- ini adalah
suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu
berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”(Efesus
6:1-4)
Ayat
ini menekankan pendidikan terhadap anak dari para rasul, pembentukan karakter
yang terdapat di dalamnya mampu membentuk dasar dalam perkembangan perilaku
anak. dan juga merupakan pengajaran bagi orang tua dalam mendidik anak dalam
ajaran dan nasihat Tuhan.
G. Peran dan
Fungsi Keluarga dan Gereja dalam Membina Karakter Anak
1.
Peran dan Fungsi Keluarga
Keluarga adalah
kelompok sosial yang bersifat abadi, kekukuhan dalam hubungan nikah yang
memberikan pengaruh keturunan lingkungan sebagai dimensi penting yang lain bagi
anak. keluarga adalah tempat yang terpenting di mana anak memperoleh dasar
dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Ayah
dan Ibu sebagai garda dalam keluarga merupakan teladan yang memberikan
inspirasi kepada anak, sehingga anak dapat terbentuk sesuai dengan karakter
yang di inginkan dalam keluarga itu sendiri.
Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama,
dengan orang tua sebagai pendidik. Lama sebelum ada pendidikan formal sekolah,
keluarga sudah ada. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik, khususnya dalam
hal iman atau agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6), namun tanggung
jawab ini umumnya diahlihkan kepada guru agama di sekolah maupun jemaat. hal
ini disebabkan karena orang berpikir bahwa pendidikan adalah yang dilaksanakan
secara formal saja, yakni yang dilakukan menggunakan bentuk skolastik, dengan
kurikulum dan guru yang khusus. Hanya sedikit yang berpikir bahwa pendidikan
dapat dilaksanakan tanpa kelas maupun kurikulum
Orang tua selain mengajarkan bagaimana berkomunikasi yang
baik kepada anak perlunya kerjasama oran gtua ayah dan ibu harus memiliki
peranan masing-masing sesuai tetapi memiliki satu kesatuan dalam membimbing
orang tua tidak membeda-bedakan setiap pribadi anak dan tidak memilih kasih,
seorang ayah mempunyai peranan yang penting dalam keluarga. Ayah adalah kepala keluarga
yang harus mendidik anak memberikan pendidikan yang terbaik kepada semua
anggota keluargaan termasuk anak dalam kondisi apapun harus menjamin pendidikan
anak dan ibu sebagai penolong karena keutuhan keluarga sangat bergantung kepada
peranan ayah dan ibu. Anak laki-laki memerlukan model yaitu ayahnya.[21]
Ayah sebagai
otak dalam keluarga memiliki peran sebagai pencari nafkah, sebagai suami yang
penuh pengertian akan memberi rasa aman, Ayah berpartisipasi dalam pendidikan
anak, dan Ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas dan bijaksana, mengasihi
keluarga.
Ibu memiliki
peran untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan Psikis, merawat dan mengurus
keluarga dengan sabar, mesra dan konsisten, menjadi pendidik yang mampu
mengatur dan mengendalikan anak, contoh dan teladan, manejer yang bijaksana,
memberi rangsangan dan pelajaran serta Ibu sebagai Istri.[22]
Mendidik dan mendidik, keluarga
adalah cerminan dari sang anak, terutama Ayah dan Ibu, oleh karenanya, keluarga
harus sebisa mungkin terus dan terus memberikan pembelajaran pada anak sehingga
anak tidak dengan sewenang-wenang melakukan tindakan-tindakan yang tidak
bermoral dalam masyrakat.
2. Peran dan
Fungsi Gereja
Dalam perspektif Perjanjian
Baru, gereja memiliki kedudukan yang penting. Menurut Tuhan Yesus, gereja
(Yunani :Eklesia) mendapat perhatian
yang utama. Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah
untuk membangun gereja diatas dasar pengakuan bahwa Dia adalah Mesias Anak
Allah (Matius 16:18). Dari pernyataan itu jelas bahwa Tuhan Yesus menghendaki
aar gereja mencatat bahwa dalam masa menderita dan dianiaya pun, gereja akan
berkembang pesat.
Tuhan Yesus juga
mengungkapkan bahwa gereja berperan penting sebagai wadah restorasi umat,
mengingat bahwa gereja hadir sebagai persekutuan belajar mengajar. Gereja
menyediakan kesempatan belajar bagi orang dari segala kategori usia,[23]
termasuk anak-anak sebagai generasi dari gereja itu sendiri.
Ada berbagai sarana yang
dilakukan oleh gereja dalam hal membina dan mendidik karakter anak, melalui
sekolah minggu, kumpulan sekolah minggu, paskah dan Natal. Oleh karenanya dalam
pembinaan karakter anak dalam gereja tentulah menuai hasil sesuai dengan apa
yang di inginkan oleh pendidik, terlebih Tuhan Yesus itu sendiri.
Gereja mengajarkan tentang
bagaimana seorang anak dapat menghayati imannya dan menerapkan dalam
kehidupannya. Seperti yang dikatakan oleh Pdt. Dra.
Dien Sumiyatiningsih, G.D. Th., M.A dalam bukunya yang berjudul mengajar dengan
kreatif dan menarik, bahwa tujuan komunitas gereja adalah membantu menumbuhkan
konteks di mana iman itu bisa bertumbuh, ditopang, dan lebih dihayati.[24]Jadi, Gereja harus menyadari itu, sehingga pembentukan karakter pada anak dapat
efektif dan efisien.
3. Peran Dan Fungsi Sekolah
Bukan
hanya keluarga dan gereja yang berperan penting dalam pendidikan pembinaan
karakter anak, Sekolah pun sangat berperan penting didalamnya. Pengajaran agama
yang dimulai dari jenjang pendidikan prasekolah sampai perguruan tinggi perlu
dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis peserta didik. Dengan
demikian, pengajaran yang disampaikan betul-betul dapat diresapi, dihayati dan
diamalkan oleh mereka. Berkaitan dengan semua itu, jelas bahwa peran dan
kompetensi guru agama sangatlah menenetukan pengembangan dan kualitas SDM. Di
samping menguasai bidang agama, secara implicit, seorang guru agama diharapkan
dapat memahami psikologi perkembangan, konsep-konsep pendidikan, lingkungan
peserta didik, serta metode-metode pengajaran untuk merangsang kemampuan
berpikir kreatif dan kritis.[25]
Jadi, peran sekolah di sini sangat menentukan
pendidikan karakter anak dalam penerapannya, sehingga sekolah bukan hanya
lading atau tempat untuk bermain tetapi betul pada fungsi dan tujuannya sebagai
tempat untuk mengubah karakter, mental dan cara berpikir.
Komentar
Posting Komentar