BAB II: Landasan Teori :Stusi Pedagogis Berkarakter Kristus di Gereja




A.      Pengertian Pendidikan
Menurut akar katanya, istilah pendidikan dalam bahasa Indonesia, diambil atau diterjemahkan dari bahasa Inggris, education, yang sebenarnya juga diambil dari bahasa latin, ducere, yang berarti membimbing (to lead). Tambahan awalan “e” berarti keluar (out). Dengan demikian, arti kata pendidikan adalah suatu tindakan yang membimbing keluar.    [1]
Dalam bahasa Indonesia disebut pendidikan yang berarti proses mendidik. Kata mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa, mendidik adalah jenis kata kerja, sedangkan pendidikan adalah kata benda. Kegiatan menunjuk adanya dua aspek yang harus ada didalamnya, yaitu pendidik dan peserta didik. Jadi mendidik adalah merupakan suatu kegiatan yang mengandung komunikasi antara dua orang atau lebih.[2]
Menurut Doni Koesoema A. Mengartikan pendidikan sebagai internalisasi budaya kedalam diri individu dan masyarakat yang menjadi beradab.[3]ada pula mendefinisikan sebagai proses dimana sebuah bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan, dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien.
Dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dalam pasa 1 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[4] Intinya pendidikan selain sebagai proses humanisasi, pendidikan juga merupakan usaha untuk membantu manusia mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk mencapai kesuksesan dalam dunia.
Pendidikan merupakan proses yang di tempuh oleh manusia, baik formal maupun tidak formal. Pendidikan merupakan suatu sistem yang di bangun sebagai sistem yang dapat membuat manusia lebih maju dalam berpikir, berbuat dan merasakan setiap apa yang menjadi tujuannya. Sebagai saranya yang mampu memberikan kontribusi bagi proses berpikir manusia.
B.       Pendidikan Karakter
Pendidikan Karakter menurut Albertus adalah diberikannya tempat bagi kebebasan individu dalam menghayati nilai-nilai yang dianggap sebagai baik, luhur dan layak di perjuangkan sebagai pedoman bertingkah laku bagi pribadi berhadapan dengan dirinya, sasama dan Tuhan.[5]
Menurut khan, pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatakan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing dan membina setiap manusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter dan keterampilan menarik. Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dihayati dalam penelitian ini adalah religius, nasionalis, cerdas, tanggungjawab, disiplin, mandiri, jujur dan arif, hormat dan santun, dermawan, suka menolong, gotong royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif, kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas dan peduli.[6]
Menurut Ramli, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik,warga masyarakat yang baik, dan warga Negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendirim dalam rangka membina kepribadian generasi muda.[7]
Seorang Psikolog perkembangan moral dan pendidikan nilai dari The State University of New York at Cortland, Prof. Dr. Thomas Lickona menyampaikan dua prinsip pendidikan karakter, yaitu :
1.      Pembelaran siswa di sekolah hendaknya didasarkan pada nilai-nilai yang bermanfaat secara objektif, dan disepakati secara universal di tengah masyarakat plural.
2.      Sekolah-sekolah hendaknya tidak hanya memaparkan pada para siswa dengan nilai-nilai tersebut, tetapi juga membantu mereka untuk memahami, menginternalisasi, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut.[8]
Pendidikan karakter adalah proses memanamkan karakater tertentu memberi benih agar perseta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya saat menjalankan kehidupan. Denga kata lain, peserta didik tidak hanya memahami pendidikan sebagai bagian dari hidup.
Jadi, dalam konteks keKristenan tentang pendidikan karakter anak, Gereja dan keluarga sewajarnya melakukan suatu sarana untuk terus menamkan dan mengembangkan pendidikan karakter melalui pembinaan. Pembinaan ini berfungsi untuk terus membentuk karakter pada anak sehingga mereka dapat memahami sikap dan tindakan mana yang harus diambil sebagai orang yang percaya dan meneladani Kristus itu sendiri.
C.      Pendidikan Agama Kristen
Jika dipandang secara umum, pendidikan berbasis pengetahun dan pengalaman yang terjadi dalam konsep sejarah yang telah dipelopori oleh tokoh-tokoh pendidikan secara umum. Tetapi pendidikan Kristen berbasis kebenaran firman Tuhan, yang mengungkapkan segi-segi kehidupan manusia baik dari sisi eksistensi kehidupan manusia itu sendiri, maupun moralitas dan integritas hidup yang sesuai dengan panggilan dan tuntunan moralitas Allah.[9]
Sejalan dengan langkah untuk menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang di praktekkan, maka memahami Pendidikan Agama Kristen sebagai pedoman hidup bagi orang Kristen dan bagi orang yang berniat untuk menjadi Kristen.[10] Maksudnya ialah pendidikan agama Kristen berlandaskan pada asas-asas yang telah di tetapkan dalam Kekristenan itu sendiri.
Pendidikan (atau Pengajaran) Kristen biasanya dipergunakan untuk pengajaran di sekolah-sekolah Kristen, baik di sekolah-sekolah rakyat, maupun di sekolah-sekolah lanjutan, yang masih di ajarkan oleh gereja atau organisasi (Perhimpunan) Kristen. Jadi nama ini menunjuk kepada pengajaran biasa, tetapi yang diberikan dalam suasana Kristen.[11]
Pengajaran atau pendidikan itu hendak membangunkan kepercayaan Kristen dalam diri para murid itu dengan jalan menyampaikan pengetahuan. Mengajar adalah suatu usaha yang di tujukan kepada pribadi tiap-tiap pelajar. Meskipun pengajaran itu diberikan serempak kepada sejumlah orang bersama-sama, tetapi maksunya ialah supaya masing-masing pelajar akan menyambut dan menyambut pengajaran itu secara perseorangan. Inilah Arti yang sedalam-dalamnya dari PAK, bahwa dengan menerima pendidikan itu, segala pelajar, muda dan tua, memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri, dan oleh dan dalam Dia mereka terhisab pula pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan nama-Nya di segala waktu dan tempat.[12]
Dalam Buku Pendidikan Agama Kristen Konteks Indonesia : Refleksi Karakterisitik Pendidikan Kristiani Kontekstual, tulisan Dr.Maidiantus Tanyid, M.th,Werner G. Greandorf, mengatakan bahwa :
Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang didasarkan pada kitab suci, dikuasai oleh Roh Kudus dan berpusat pada Kristus. Dimana proses belajar mengajar disesuaikan dengan tingkat perkembangan  masing-masing individu, serta system mengajar kontemporer. Melalui mana seseorang dapat mengenal dan mengalami rencana dan maksud Allah melalui Yesus Kristus dalam aspek kehidupannya, serta mempersiapkan mereka bagi pelayan yang efektif, yang berfokus pada Kristus, sang Guru Agung”.[13]
            Senada dengan itu, dalam buku Drs. Paulus Lilik Kristianto, M.Si., Th.M., Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, C.L.J Sherrill mengatakan :
PAK adalah pendidikan yang bertujuan memperkenalkan Alkitab kepada pelajar, sehingga mereka siap menjumpai dan menjawab Allah, memperlancar komunikasi secara mendalam antar peribadi tentang keprihatinan insan serta mempertajam kemampuan menerima fakta bahwa mereka dikuasai kekuatan dan kasih Allah yang memperbaiki, menebus dan menciptakan kembali.[14]

Kesimpulannya PAK harus mendasarkan diri kepada Alkitab sebagai Firman Allah dan menjadikan Kristus pusat beritanya dan harus bermuara pada hasilnya, yaitu mendewasakan murid.


D.      Pengenalan Akan Yesus
Pendidik merupakan oknum yang paling penting dalam konteks ini. pengenalan akan Yesus bagi orang yang belum tahu sama sekali tentang Yesus namun ia ingin mengetahuinya adalah sebuah tanggung jawab bagi para pendidik dalam bidang itu. Kehadiran Yesus Kristus di dunia ini dan kematian-Nya, tidak ada seorang pun yang menyangkal hal tersebut.  Bahkan kelahiran-Nya yang adi kodrati atau supra alami itu telah dinubuatkan jauh ratusan tahun sebelum kelahiran-Nya oleh para nabi.  Jadi, pribadi Yesus merupakan sebuah pribadi yang istimewa karena ialah Allah yang turun dari sorga dan menjadi serupa dengan manusia.  “Yesus tepat sekali bagi pekerjaan mengajar.  Tidak ada orang yang lebih  tepat untuk tugas ini dari pada Yesus.  Yesus benar-benar seorang guru yang sempurna, baik dari segi ilahi ataupun insani.”[15]
Hal yang paling penting dalam mengajar adalah memiliki tujuan yang jelas, seperti yang diungkapkan oleh Price, “Salah satu hal yang sangat penting dalam hal mengajar ialah tujuan yangn jelas dan khas.[16] Sehingga, para pengajar banyak yang merasa tidak bersemangat dan tidak memiliki tujuan dan sasaran yang jelas.  Tapi tidak dengan Yesus, “Ia tidak pernah mengajar semata-mata karena Ia harus mengajar.  Ia selalu mempunyai tujuan-tujuan yang akan dicapaiNya.  Ia benar-benar tahu apa yang dikehendakiNya, dan berusaha untuk mencapainya.  Ia tahu arah tujuanNya dan dengan gigih bergerak kearah itu.”
 Jika, setiap pendidik mampu untuk seperti yang Yesus lakukan maka akan dapat memberi dampak yang postif bagi peserta didik karena dapat menjadi teladan yang baik. “Ketika seorang masih kanak-kanak, ia miliki kemungkinan yang sangat besar untuk kita bentuk.  Mereka sangat cepat untuk meniru orang lain, khususnya orang-orang yang mereka kagumi.”[17] Hal ini lah yang medorong setiap pendidik untuk menjadi teladan bagi para peserta didiknya karena mereka meniru apa yang mereka lihat dan meniru setiap orang yang mereka kagumi.  Oleh karena itu, seorang pendidik harus memiliki karakter seperti Yesus sehingga dapat dijadikan teladan dan contoh bagi peserta didiknya.
Yesus tidak hanya Tuhan dan Juruselamat manusia tetapi Ia juga menjadi teladan bagi seluruh umat manusia sepanjang masa dan etnis bahakan budaya.  Termasuk guru, Yesus menjadi sebagai sebuah patokan utama bagi karakter seorang pendidik.  “Jika Saudara-saudara sebagai guru-guru Kristen sendiri tidak menjunjung tinggi Kristus, tidak memberitahukan Kristus dan tidak meneladani Kristus sungguh-sungguh, dan mengajarkannya sesempurna mungkin kepada murid, maka Saudara tidak mungkin bisa membentuk karakter yang baik.”[18] Oleh karena itu, karakter dari Yesus Kristus harus menjadi patokan atau standard utama bagi para pendidik dalam mendidik muridnya.
 Penerapan karakter kristus bagi pendidik dalam hidupnya sendiri adalah salah satu langkah awal untuk membuat peserta didik sedikit kagum dengan karakter yang dimiliki oleh pendidik. Dan akan bertanya-bertanya hingga tiba pada keinginannya untuk mengenal sosok Yesus Kristus Itu sendiri.
Pengenalan akan Yesus bisa juga di terapkan bagi anak yang memang lahir dalam lingkup kekristenan dengan cara baptisan, sekolah minggu dan pembinaan anak-anak. pembinaan anak-anak dalam hal memperkenalkan meraka dengan Yesus adalah hal yang semestinya terus dilakukan dalam lingkup keluarga dan gereja, sehingga anak dapat terdidik dan mampu mengaplikasikan imannya melaui tindakannya sendiri.
E.       Anak dan karakter
Anak adalah sebuah karunia jika dipandang dalam perspektif religius. Oleh karenanya ketika ia ada dan hadir dalam sebuah keluarga didikan dan pembinaan haruslah diperhatikan atau di prioritaskan oleh kedua orang tuanya, mengingat bahwa anak masih memiliki karakter yang relatif, statis, berada dalam masa perkembangan.
Watak atau tabiat anak, bukanlah sifat bawaan sejak lahir. Karena watak tidak berhubungan dengan azas keturunan, melainkan pengaruh faktor eksternal yang membentuk formasi pikiran yang menetap secara psikologis. Dengan demikian watak tidak terjadi atas dorongan genetis, namun dari pembiasaan perilaku (Proses interaksi) yang membentuk sifat atau tabiat. Sebab itu, watak bukan pengetahuan tetapi ia dapat ditanamkan.
Semenjak kecil anak sudah dibiasakan oleh orang tua memahami harkat laki-laki dan perempuan, baik dari aspek penampilan maupun perlkuan yang berbeda. Sadar atau tidak, anak laki-laki di bimbing orang tua untuk tumbuh menjadi kuat, hebat dan bertenaga. Sedang anak perempuan dibiasakan berpenampilan lembut dan cantik. Orang tua memberi penekanan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan. Ketika sikap sosial tadi menjadi pengangan mendasari bagaimana etika anak-anak bergaul, maka setiap anak akan mengikuti nalurinya mencari teman yang sejenis dan sebaya.[19]
Dalam perkembangan anak, setiap anak butuh area tumbuh kembang untuk mengaktualisasiakan dirinya terhadap orang lain. Sebab itu, sekolah sebagai tempat berkumpulnya beragam karakter anak dan pusat pendidikan budaya, sangat diharapkan menjadi Supply of power yang mendorong manfaat bagi perkembangan jiwa anak didik.[20]
Karakter seorang anak dalam pertumbuhannya merupakan karekater yang masih sangat sulit di tebak, pertumbuhan dan pengenalan akan dunia masih dalam taraf itu. Karakter dinamis tak karuan untuk menuju pada karakter pribadi ketika dewasa masih sanga sukar terlihat. Oleh sebab itu, karakter anak dalam masa transisinya masih perlu di bina dan di bentuk, baik dari dalam keluarga, sekolah, gereja, dan masyarakat.
F.       Landasan Alkitabiah
Pendidikan terhadap anak bukanlah suatu pendidikan yang baru-baru ini muncul. Tetapi pendidikan anak sudah sejak dari dulu menjadi prioritas dalam pengajaran Alkitab. Berikut ada dua landasan pengenalan Yesus akan anak dan Pembelajaran kepada anak dan orang tua dalam pembentukan karakter yang bercirikan Kristen.
“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.  Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka”.(Markus 10:13-16)
Ayat ini merupakan ayat dimana seorang anak yang ingin datang kepada Yesus namun di batasi oleh orang-orang yang lebih dewasa yang berada di sekelilingnya. Ekspresi anak meyambut sukacita adalah sebuah hal yang tak perlu dibatasi, karena itu akan menjadi penentu pembentukan karakter anak. kerinduan untuk mengenal Kristus jangan pula di batasi. Anak semestinya di beri keleluasaan untuk itu, sehingga moral perkembangan anak bisa bertumbuh sejalan dengan apa yang telah dilihatnya di dalam Kristus itu sendiri.
“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu- ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.  Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”(Efesus 6:1-4)

Ayat ini menekankan pendidikan terhadap anak dari para rasul, pembentukan karakter yang terdapat di dalamnya mampu membentuk dasar dalam perkembangan perilaku anak. dan juga merupakan pengajaran bagi orang tua dalam mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
G.      Peran dan Fungsi Keluarga dan Gereja dalam Membina Karakter Anak
1.      Peran dan Fungsi Keluarga
Keluarga adalah kelompok sosial yang bersifat abadi, kekukuhan dalam hubungan nikah yang memberikan pengaruh keturunan lingkungan sebagai dimensi penting yang lain bagi anak. keluarga adalah tempat yang terpenting di mana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Ayah dan Ibu sebagai garda dalam keluarga merupakan teladan yang memberikan inspirasi kepada anak, sehingga anak dapat terbentuk sesuai dengan karakter yang di inginkan dalam keluarga itu sendiri.
Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama, dengan orang tua sebagai pendidik. Lama sebelum ada pendidikan formal sekolah, keluarga sudah ada. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik, khususnya dalam hal iman atau agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6), namun tanggung jawab ini umumnya diahlihkan kepada guru agama di sekolah maupun jemaat. hal ini disebabkan karena orang berpikir bahwa pendidikan adalah yang dilaksanakan secara formal saja, yakni yang dilakukan menggunakan bentuk skolastik, dengan kurikulum dan guru yang khusus. Hanya sedikit yang berpikir bahwa pendidikan dapat dilaksanakan tanpa kelas maupun kurikulum
Orang tua selain mengajarkan bagaimana berkomunikasi yang baik kepada anak perlunya kerjasama oran gtua ayah dan ibu harus memiliki peranan masing-masing sesuai tetapi memiliki satu kesatuan dalam membimbing orang tua tidak membeda-bedakan setiap pribadi anak dan tidak memilih kasih, seorang ayah mempunyai peranan yang penting dalam keluarga. Ayah adalah kepala keluarga yang harus mendidik anak memberikan pendidikan yang terbaik kepada semua anggota keluargaan termasuk anak dalam kondisi apapun harus menjamin pendidikan anak dan ibu sebagai penolong karena keutuhan keluarga sangat bergantung kepada peranan ayah dan ibu. Anak laki-laki memerlukan model yaitu ayahnya.[21]
Ayah sebagai otak dalam keluarga memiliki peran sebagai pencari nafkah, sebagai suami yang penuh pengertian akan memberi rasa aman, Ayah berpartisipasi dalam pendidikan anak, dan Ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas dan bijaksana, mengasihi keluarga.
Ibu memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan Psikis, merawat dan mengurus keluarga dengan sabar, mesra dan konsisten, menjadi pendidik yang mampu mengatur dan mengendalikan anak, contoh dan teladan, manejer yang bijaksana, memberi rangsangan dan pelajaran serta Ibu sebagai Istri.[22]
Mendidik dan mendidik, keluarga adalah cerminan dari sang anak, terutama Ayah dan Ibu, oleh karenanya, keluarga harus sebisa mungkin terus dan terus memberikan pembelajaran pada anak sehingga anak tidak dengan sewenang-wenang melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral dalam masyrakat.
2.      Peran dan Fungsi Gereja
Dalam perspektif Perjanjian Baru, gereja memiliki kedudukan yang penting. Menurut Tuhan Yesus, gereja (Yunani :Eklesia) mendapat perhatian yang utama. Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk membangun gereja diatas dasar pengakuan bahwa Dia adalah Mesias Anak Allah (Matius 16:18). Dari pernyataan itu jelas bahwa Tuhan Yesus menghendaki aar gereja mencatat bahwa dalam masa menderita dan dianiaya pun, gereja akan berkembang pesat.
Tuhan Yesus juga mengungkapkan bahwa gereja berperan penting sebagai wadah restorasi umat, mengingat bahwa gereja hadir sebagai persekutuan belajar mengajar. Gereja menyediakan kesempatan belajar bagi orang dari segala kategori usia,[23] termasuk anak-anak sebagai generasi dari gereja itu sendiri.
Ada berbagai sarana yang dilakukan oleh gereja dalam hal membina dan mendidik karakter anak, melalui sekolah minggu, kumpulan sekolah minggu, paskah dan Natal. Oleh karenanya dalam pembinaan karakter anak dalam gereja tentulah menuai hasil sesuai dengan apa yang di inginkan oleh pendidik, terlebih Tuhan Yesus itu sendiri.
Gereja mengajarkan tentang bagaimana seorang anak dapat menghayati imannya dan menerapkan dalam kehidupannya. Seperti yang dikatakan oleh Pdt. Dra. Dien Sumiyatiningsih, G.D. Th., M.A dalam bukunya yang berjudul mengajar dengan kreatif dan menarik, bahwa tujuan komunitas gereja adalah membantu menumbuhkan konteks di mana iman itu bisa bertumbuh, ditopang, dan lebih dihayati.[24]Jadi, Gereja harus menyadari itu, sehingga pembentukan karakter pada anak dapat efektif dan efisien.
3.      Peran Dan Fungsi Sekolah
Bukan hanya keluarga dan gereja yang berperan penting dalam pendidikan pembinaan karakter anak, Sekolah pun sangat berperan penting didalamnya. Pengajaran agama yang dimulai dari jenjang pendidikan prasekolah sampai perguruan tinggi perlu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis peserta didik. Dengan demikian, pengajaran yang disampaikan betul-betul dapat diresapi, dihayati dan diamalkan oleh mereka. Berkaitan dengan semua itu, jelas bahwa peran dan kompetensi guru agama sangatlah menenetukan pengembangan dan kualitas SDM. Di samping menguasai bidang agama, secara implicit, seorang guru agama diharapkan dapat memahami psikologi perkembangan, konsep-konsep pendidikan, lingkungan peserta didik, serta metode-metode pengajaran untuk merangsang kemampuan berpikir kreatif dan kritis.[25]
Jadi, peran sekolah di sini sangat menentukan pendidikan karakter anak dalam penerapannya, sehingga sekolah bukan hanya lading atau tempat untuk bermain tetapi betul pada fungsi dan tujuannya sebagai tempat untuk mengubah karakter, mental dan cara berpikir.


























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?