Asal-usul dan Struktur Manusia
Asal-usul dan Struktur Manusia
Kata yang diterjemahkan dengan “debu tanah “ di sisiini adalah adamah, yang di tempat lain dipakai kata” daging”. Dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan debu tanah atau daging pertama-tama adalah tubuh atau badan manusia, berbentuk atau penampakan manusia yang lahiriah, segi keduniaan atau segi kodrat manusia, yang menjadikan menjadikan manisia sebagai makhluk yang bebeda sekali dengan Tuhan Allah Khaliknya, Debu tanah terbataslah hidupnya, dapat rusak ( Yes 31:3 ), dan oleh karenanya juga lemah. Demikianlah debu tanah dan daging tidak memiliki hidup di dalam dirinya sendiri. Debu tanah dan daging hanya dapat hidup selama Allah memberi hidup kepadanya.
Di
kejadian 2:7 disebutkan, bahwa TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah
dan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya; demikianlah manusia menjadi
makhluk yang hidup. Ayat ini pertama-tama menunjukkan, bahwa manusia bukanlah
berada dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakannya, yaitu Tuhan Allah
sendiri. Tuhan Allah lah yang menciptakan manusia, yang semula tidak ada,
sehingga menjadi ada. Jadi, adanya manusia karena kehendak Allah. Manusia
bukanlah keturunan Tuhan Allah, ia juga bukan mengalir keluar daripada Allah,
tetapi ia diciptakan oleh Allah.
Kata yang diterjemahkan dengan “debu tanah “ di sisiini adalah adamah, yang di tempat lain dipakai kata” daging”. Dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan debu tanah atau daging pertama-tama adalah tubuh atau badan manusia, berbentuk atau penampakan manusia yang lahiriah, segi keduniaan atau segi kodrat manusia, yang menjadikan menjadikan manisia sebagai makhluk yang bebeda sekali dengan Tuhan Allah Khaliknya, Debu tanah terbataslah hidupnya, dapat rusak ( Yes 31:3 ), dan oleh karenanya juga lemah. Demikianlah debu tanah dan daging tidak memiliki hidup di dalam dirinya sendiri. Debu tanah dan daging hanya dapat hidup selama Allah memberi hidup kepadanya.
Menurut Plato,
martabat manusia sebagai pribadi tidak terbatas pada mulainya jiwa bersatu
dengan raga. Jiwa telah berada lebih dulu sebelum jatuh kedunia dan disatukan
dengan badan. Dan menurut Thomas Aquinas
yang menolak pandangan dari Plato, ia mengatakan bahwa tidak ada pra-eksistensi
jiwa sebelum dipersatukan dengan badan dan jiwa.Manusia sebagai substansi bukan
hanya terdiri dari badannya saja, tetapi merupakan kesatuan yang utuh antara
jiwa dan badan. Aristoleles mengatakan
bahwa manusia menurut kodratnya berfilsafat. Descartes mengatakan bahwa manusia terdiri dari dua zat yang
berbeda secara hakiki, yaitu res cogitans
atau zat yang dapat berpikir,dan res
exlensa atau zat yang mempunyai luas.
Struktur atau aspek-aspek manusia
terdiri atas :
1. Tubuh
Manusia
2. Roh
Manusia
3. Jiwa
Manusia
Bagian Alkitab jelas meneguhkan fakta manusia terdiri dari 3 bagian yaitu:
Tubuh, Roh dan Jiwa yang terdapat dalam
1Tesalonika 5 : 23
Dalam
Kej 2:7 dikatakan bahwa manusia dibentuk dari adamah yang diterjemahkan LAI
debu tanah. Itu berarti tubuh manusia
dibentuk dari debu tanah.Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, unsur daging yang
dapat dilihat, didengar, disentuh, dan sebagainya. Tubuh tidak memiliki hidup
dalam dirinya sendiri, tetapi menjadi makhluk hidup bila Tuhan memberikan hidup
kepadanya.
Tubuh juga menurut
Alkitab, menampakkan pribadi manusia dalam keseluruhannya, dari segi yang
lahir.
Roh adalah nafas
yang dihembuskan oleh Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, kesatuan
spiritual dalam manusia. Roh adalah sifat alami manusia yang 'immaterial' yang
memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah. Roh juga dapat merupakan alat
untuk mengetahui, alat untuk beribadat, alat untuk bersekutu, alat untuk
menghayati dnia luar. Dengan memperhatikan peranan Roh dalam diri manusia ,maka
dikatakan bahwa roh adalah dimensi batin
yang sangat peka pada diri manusia, sehingga manusia dapat menghayati
persekutuannya dengan Tuhan dan sesamanya.
Jiwa adalah
unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa
unsur, pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia
dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan
kehendaknya, manusia dapat memilih. Jiwa atau nyawa adalah ungkapan yang
dipergunakan Alkitab untuk menyebutkan manusia dalam keseluruhannya, sebagai
makhluk yang bernafsu, berkehendak, berpikir dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar