Asal Mula Filsafat
Asal Mula Filsafat -(Heran, Persaingan, dan Kesadaran Keterbatasan)
Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu: keheranan, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Banyak filsuf menunjukkan rasa heran (Yunani: thaumasia) sebagai asal filsafat. Pengamatan akan dunia sekitar dan keajaiban–keajaiban alam semesta mendorong manusia untuk menyelidiki rahasia dibaliknya. Dari penyelidikan ini berasal filsafat, Immanuel Kant mengatakan “Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me” (langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku).
Filsuf lain misalnya Augustinus, menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran kemudian ia ragu, jangan-jangan ia ditipu oleh pancainderanya, apakah ia tidak hanya melihat yang ingin dia lihat, bagaimana cara menemukan kepastian. Sikap skeptis ini menjadi titik pangkal yang berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.
Manusia mulai berfilsafat kalau ia mulai menyadari bahwa betapa kecil dan lemah ia dibandingkan alam semesta (bnd. Mz.8). Semakin manusia terpukau oleh ketakterhinggaan sekelilingnya semakin ia heran akan eksistensinya
Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu: keheranan, kesangsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Banyak filsuf menunjukkan rasa heran (Yunani: thaumasia) sebagai asal filsafat. Pengamatan akan dunia sekitar dan keajaiban–keajaiban alam semesta mendorong manusia untuk menyelidiki rahasia dibaliknya. Dari penyelidikan ini berasal filsafat, Immanuel Kant mengatakan “Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me” (langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku).
Filsuf lain misalnya Augustinus, menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran kemudian ia ragu, jangan-jangan ia ditipu oleh pancainderanya, apakah ia tidak hanya melihat yang ingin dia lihat, bagaimana cara menemukan kepastian. Sikap skeptis ini menjadi titik pangkal yang berfungsi sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut.
Manusia mulai berfilsafat kalau ia mulai menyadari bahwa betapa kecil dan lemah ia dibandingkan alam semesta (bnd. Mz.8). Semakin manusia terpukau oleh ketakterhinggaan sekelilingnya semakin ia heran akan eksistensinya
Komentar
Posting Komentar