Analisis Kritis terhadap Kitab 1 Korintus








Sangat jelas isi pokok dalam 1 Korintus yaitu memberikan pandangan yang jelas mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dan dialami oleh para pengikut Yesus. Namun pada kenyataannya tidak sesuai denan yan diharapkan yang dialami oleh penikut Yesus  bahwa sikap yang semestinanya menjadi sebuah perenungan bagi para pengikut Kristus dalam perkembangan gereja mula-mula di korintus. Kesatuan  masyarakatnya, tempat yang strategis sebagai salah satu rute perdagangan menghantar wilayah ini pada sebuah keramaian dan di iming-imingkan oleh para misionaris agama dalam memperkenalkan kepercayaan mereka masing-masing, termasuk Paulus yang datang membawa ajaran Kristosentrisnya dan membentuk kelompok kecil yang disebut dengan jemaat. 

Salah satu kekeliruanyan terdapat dalam penafsiran kitab suci menghantar para jemaat ini pada kesuraman berpikir tentang kitab suci itu, sehingah terjadi perpecahan jemaat yan sudah lama terbentuk menjadi satu yan diakibatkan oleh perbedaan pendapat para tokoh yang berperan penting yaitu  Paulus, Kefas, Appolos dan Kristus yan kita kenal sebaai Yesus. Mereka disebut sebaai  membawa kebenaran tentang apa yang diajarkan tentang Kristus. Seperti saat ini Gereja kacau balau akibat ersoalan-persoalan tentan menyebut diri lebih benar dalam menafsirkan dengan bahasa yang sedikit sinis terdengar namun mematikan jiwa yang tak terarah. Kekacau-balauan yang terjadi jelas diakibatkan oleh orang-orang yang objek yang tidak jelas dan tak karuan yang mana sebenarnya yang harus menjadi wilayah yang baik untuk berdiam diri dalam integritas dan komitmen dalam menjalani kehidupan berjemaat. 

Dalam misi dan intelektual yang berambisi penuh diakibatkan oleh filsafat yang di dipelajari Paulus sehingga hal ini terjadi dalam jemaat. Kefokusan dalam Kristus menjadi bimbang karena rasio memaksa untuk berpikir mana yang lebih rasional yang penting dan perlu untuk diutamakan. “Kristus adalah pusat dari kekristenan”, yang ia beritakan adalah Kristus. Ini menimbulkan pertanyaan, mengapa dan bagaimana mungkin perbedaan argumentasi memandang Kristus, kita dapat mengatakan bahwa Kristus yang kita pandang ini adalah Kristus yang sama. atau mungkin Kristus itu banyak. 

Kekacauan, kebejatan moral, perkawinan dan perceraian adalah suatu masalah besar dalam mengikut ke-tiga paham tersebut. pertentangan muncul dari dalamnya. Mungkin ini adalah kekacauan berpikir ketiga orang ini akibat menyangkal intelektual yang selama ini mereka yakini dalam kepercayaan mereka! Atau mungkin mereka masih feminim dalam menilai Kristus. Ini tidak kokoh, ibaratkan rumah yang didirikan diatas pasir, lalu air datang menerjang dan rumah itu pun rubuh seketika. 

Dalam konteks pernikahan/perkawinan, sepertinya Paulus mengeluarkan argumentasi yang bertentangan dengan perkataan dalam perjanjian Lama “Beranak cuculah dan penuhilah bumi”. Ini jelas terlihat dalam perkataannya pasal 7:1. Ini menimbulkan pertanyaan, apa yang menjadi dasar paulus mengatakan demikian “ada baiknya jika laki-laki hidup sendirian” sangat bertentanan apa yang tertulus dalam Kitab Kejadian dan Injil Matius yang menatakan bahwa tidak baik manusia hanya seorang diri saja. Kalaupun itu menjadi persoalan, lalu mana yan sebenarnya salah dan mana yan benar juga mana yan harus kita pilih diantara kedua perbedaan ini ?. jadi dalam hal ini sebaiknya kita lebih menjunjung kemanusiaan dan menghargai sesama. Jadi dapat disimpulkan bahwa, perpecahan itu lahir dari kekeliruan dan ketidak jelasan kitab suci dalam memberikan penjelasan makna dalam penafsiran sehingga membuat beberapa bahkan banyak oran yan memiliki pendapat dan pandanan yan berbeda dan perbedaan pendapat itu menuju dan berakir dengan sebuah kehancuran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?