Aliran – aliran sosiologi Agama

Aliran – aliran sosiologi Agama


Disini kami sebagai pemakalah berusaha membahas aliran – aliran yang ada dalam sosiologi agama. Sosiologi agama tidak merupakan satu kesatuan yang seragam. Dalam forum sosiologi agama sendiri terdapat bermacam – macam aliran sesuai dengan macam aliran sosiologi umum.adanya perbedaan jenis sosiologi dengan ciri – cirinya tersebut terdapat perbedaan visi atas realitas masyarakat, terutama mengenai kekuatan tertentu yang dianggap memainkan peranan dominan atas kehidupan masyarakat. Aliran dalam sosiologi agama diantaranya yaitu:

  • Aliran Klasik, Aliran ini muncul pada pertengahan abad ke 19 dan belahan pertama abad ke 20, yang ditopang oleh sejumlah sarjana (kecuali Durkheim dan Weber, masih dapat ditambah dengan toquellive,marks,tennis,simmel,pare to,spencer dan lain-lain). Bagi mereka kedudukan sosiologi agama sangat dekat dengan sejarah dan filsafat dan merupakan suatu refleksi dan analisis sistematis terhadap kebudayaan dan agama sebagai proyek manusia. Tujuannya hendak mengungkapkan pola – pola sosioal dasar dan peranannya dalam menciptakan masyarakat
  • Aliran Positivisme, Pada dasarnya positivism bukanlah suatu aliran khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain ia menyempurnakan metode ilmiah denngan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran – ukuran. Aliran ini sangat mengikuti sosiologi yang empiris-positivisme dan menjajarkan masyarakat sama dengan benda- benda alamiah. Ia menyibukkan diri sendiri dengan kauntifikasi dari dimensi masyarakat kualitatif dengan metode pengukuran yang eksak dan menarik kesimpulan yang sifatnya netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis dan fillosofis,dilepas dari konteks sejarah perkembangan masyarakat yang dialami mamsyarakat itu dalam waktu yang lampau.
  • Aliran teori Konflik, Dalam pandangan ahli sosiologi aliran ini, masyarakat yang baik ialah masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Masyarakat yang terjadi disebut dalam keadaan seimbang,dianggapnya sebagai masyarakat yang tertidur dan berhenti dalam pross kemajuannya. Karena konflik sosial dianggap sebagai kekuatan sosial utama dari perkembangan masyarakat yag ingin maju kepada tahap – tahap yang lebih sempurna. Aliran teori konflik ini berbeda dnegan aliran lain atau tidak sependapat dengan aliran fungsionalisme, karena dianggap kurang menyadari atau membiarkan adanya kekurangan dan ketidak adilan yang digabungkan oleh struktur kekkuasaan yang bertahan. Dari sisi lain sosiologi alairan konflik tidak dapat menyetujui metode kauntitatif dari aliran positivism, akrena dianggapnya sebagai suatu arus yang mengasingkan orang dari masyarakat.
  • Aliran Fungsionalisme, Aliran ini berpendapat bahwa masyarakat itu suatu system perimbangan,dimana setiap kelompok memberikan sumbangan yang khs melalui peranannya masing – masing yang telah ditentukan demi lestarinya system perimbangan sebagai keseluruhaan. Arti dan makna dari sebuah kegiatan sosial hanya dimengerti dengan baik apabila orang dapat menemukan tepatnya tempat dan fungsinya dan dalam keseluruhan system sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?