Ajaran Tentang Buddha
- Hidup adalah penderitaan (dukkha).
- Penderitaan itu mempunyai sebab (samudaya).
- Penderitaan itu dapat dihindari (nirodha).
- Ada jalan untuk menghindari penderitaan itu (marga)
Menurut Buddha, kelahiran, usia tua,
penyakit, kematian, tinggal dengan orang yang tidak disukai dan berpisah dengan
orang yang dicintai, kegagalan adalah penderitaan yang semuanya itu diakibatkan
oleh nafsu atau keinginan. Hakekat hidup adalah menderita. Sesudah hidupnya
berakhir di dunia ini manusia dilahirkan kembali dan mengalami penderitaan
kembali. Tetapi sekalipun demikian penderitaan itu dapat dihindarkan dari
hidup.
Asal mula penderitaan itu adalah tanha, yaitu keinginan untuk mendapatkan
kepuasaan, kesenangan, kekuasaan dan sebagainya. Namun setelah keinginan itu
tercapai maka kesenangan itu akan hilang lagi dan penderitaan muncul kembali
demikian seterusnya. Nafsu ini disebabkan oleh adanya ketidaktahuan (awidya),
yaitu orang tidak tahu akan sifat–sifat asasi alam semesta sehingga hidup dalam
khayalannya (imaji) saja.
Sifat–sifat alam semesta ini ialah
bahwa dunia ini penuh dengan penderitaan, dunia ini fana, tidak tetap (anitya), dan di dalam dunia ini tidak
ada jiwa (anatman).
Di dalam dunia ini tidak ada yang
tetap. Segala sesuatu menjadi dan menghilang, suatu rentetan penjadian dan
peniadaan, suatu arus atau mengalirnya hal–hal yang terjadi. Pada manusia
sendiri tidak ada satupun yang tetap bahkan pribadinya, sebenarnya yang kita
sebut pribadi pada manusia hanyalah suatu kelompok unsur batiniah dan lahiriah
yang bisa dibedakan dalam 5 skandha
atau pengumpulan, yaitu rupa atau tubuh yang nampak, wedana atau perasaan, sanyna
atau pengamatan samskara atau
kehendak, dan wiynana atau kesadaran.
Orang menjadi tua dan mati disebabkan
karena ia dilahirkan, kelahirannya disebabkan karena kelahiran kembali, kelahiran
kembali disebabkan karena keterikatan pada hal yang semu, ikatan itu disebabkan
karena kehausan atau nafsu, nafsu disebabkan oleh perasaan atau emosi, perasaan
disebabkan karena sentuhan atau kontak, kontak disebabkan oleh penginderaan, penginderaan
disebabkan oleh hal-hal yang lahir dan batin, hal-hal yang lahir dan batin
disebabkan oleh kesadaran, kesadaran disebabkan oleh khayalan yang sia-sia, dan
akhirnya khayalan yang sia-sia disebabkan karena ketidaktahuan atau awidya.
Karena ketidaktahuannyalah manusia
mengira “akunya” benar–benar ada dan tampak sebagai hal yang tetap padahal
sebenarnya semu. Jadi ketidaktahuan adalah sebab pokok yang menimbulkan
keinginan. Dalam prakteknya ketidaktahuan dan keinginan adalah sama. Keduanya
dibedakan sebagai dua segi dari satu kenyataan, ketidaktahuan adalah segi
teoritis sedang keinginan adalah segi praktis.
Selanjutnya Buddha mengajarkan bahwa
penderitaan dapat diatasi. Penderitaan itu ada sebabnya oleh karena itu untuk
menghilangkan penderitaan maka penyebab penderitaan itu harus ditiadakan. Asal
penderitaan itu
adalah awidiya. Dengan mengetahui asal mula penderitaan itu maka orang akan
mengetahui bagaimana penderitaan itu dapat ditiadakan. Untuk mencapai kelepasan
ada jalan kelepasan yang terdiri dari 8 tingkatan yang dirangkumkan dalam 3
bagian yaitu pengetahuan yang benar (prajna),
kelakuan yang benar (sila), dan
tafakur yang benar (samadhi).
Penderitaan itu mengakibatkan
kelahiran kembali, tetapi jika penderitaan itu ditiadakan orang akan mendapat Nirwana
yang berarti pemadaman. Adapun yang dipadamkan ialah keinginan yang palsu yang
sama dengan peniadaan awidiya. Jika ketidaktahuan manusia mengenai keberadaan
dirinya yang semu dihilangkan maka hilang pulalah segala keinginan manusia
sehingga ia bebas dari segala penderitaan dan mencapai kelepasan.
Kelepasan dari nafsu dan penderitaan
mengantar manusia pada Nirwana. Nirwana ini dapat dibedakan dalam dua bentuk
yaitu nirwana yang dapat dicapai dalam dunia ini dan nirwana yang dicapai
setelah mati. Nirwana di dunia dialami ketika sampai pada pemadaman yang
sempurna dari segala hawa nafsu. Nirwana setelah mati terjadi saat proses
skanda-skanda terpadam secara sempurna atau berhentinya proses badani dan
rohani; hal ini terjadi pada kematian orang yang suci (Arahat).
Komentar
Posting Komentar