Ajaran Tentang Buddha



Ajaran Budha yang pertama–tama yang diberikan pada murid–muridnya ialah Arya Satya atau empat kebenaran yang mulia, yaitu:
  • Hidup adalah penderitaan (dukkha).  
  • Penderitaan itu mempunyai sebab (samudaya).  
  • Penderitaan itu dapat dihindari (nirodha).  
  • Ada jalan untuk menghindari penderitaan itu (marga)
 
Menurut Buddha, kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, tinggal dengan orang yang tidak disukai dan berpisah dengan orang yang dicintai, kegagalan adalah penderitaan yang semuanya itu diakibatkan oleh nafsu atau keinginan. Hakekat hidup adalah menderita. Sesudah hidupnya berakhir di dunia ini manusia dilahirkan kembali dan mengalami penderitaan kembali. Tetapi sekalipun demikian penderitaan itu dapat dihindarkan dari hidup.

Asal mula penderitaan itu adalah tanha, yaitu keinginan untuk mendapatkan kepuasaan, kesenangan, kekuasaan dan sebagainya. Namun setelah keinginan itu tercapai maka kesenangan itu akan hilang lagi dan penderitaan muncul kembali demikian seterusnya. Nafsu ini disebabkan oleh adanya ketidaktahuan (awidya), yaitu orang tidak tahu akan sifat–sifat asasi alam semesta sehingga hidup dalam khayalannya (imaji) saja.

Sifat–sifat alam semesta ini ialah bahwa dunia ini penuh dengan penderitaan, dunia ini fana, tidak tetap (anitya), dan di dalam dunia ini tidak ada jiwa (anatman).

Di dalam dunia ini tidak ada yang tetap. Segala sesuatu menjadi dan menghilang, suatu rentetan penjadian dan peniadaan, suatu arus atau mengalirnya hal–hal yang terjadi. Pada manusia sendiri tidak ada satupun yang tetap bahkan pribadinya, sebenarnya yang kita sebut pribadi pada manusia hanyalah suatu kelompok unsur batiniah dan lahiriah yang bisa dibedakan dalam 5 skandha atau pengumpulan, yaitu rupa atau tubuh yang nampak, wedana atau perasaan, sanyna atau pengamatan samskara atau kehendak, dan wiynana atau kesadaran.

Orang menjadi tua dan mati disebabkan karena ia dilahirkan, kelahirannya disebabkan karena kelahiran kembali, kelahiran kembali disebabkan karena keterikatan pada hal yang semu, ikatan itu disebabkan karena kehausan atau nafsu, nafsu disebabkan oleh perasaan atau emosi, perasaan disebabkan karena sentuhan atau kontak, kontak disebabkan oleh penginderaan, penginderaan disebabkan oleh hal-hal yang lahir dan batin, hal-hal yang lahir dan batin disebabkan oleh kesadaran, kesadaran disebabkan oleh khayalan yang sia-sia, dan akhirnya khayalan yang sia-sia disebabkan karena ketidaktahuan atau awidya.

Karena ketidaktahuannyalah manusia mengira “akunya” benar–benar ada dan tampak sebagai hal yang tetap padahal sebenarnya semu. Jadi ketidaktahuan adalah sebab pokok yang menimbulkan keinginan. Dalam prakteknya ketidaktahuan dan keinginan adalah sama. Keduanya dibedakan sebagai dua segi dari satu kenyataan, ketidaktahuan adalah segi teoritis sedang keinginan adalah segi praktis.

Selanjutnya Buddha mengajarkan bahwa penderitaan dapat diatasi. Penderitaan itu ada sebabnya oleh karena itu untuk menghilangkan penderitaan maka penyebab penderitaan itu harus ditiadakan. Asal penderitaan itu adalah awidiya. Dengan mengetahui asal mula penderitaan itu maka orang akan mengetahui bagaimana penderitaan itu dapat ditiadakan. Untuk mencapai kelepasan ada jalan kelepasan yang terdiri dari 8 tingkatan yang dirangkumkan dalam 3 bagian yaitu pengetahuan yang benar (prajna), kelakuan yang benar (sila), dan tafakur yang benar (samadhi).

Penderitaan itu mengakibatkan kelahiran kembali, tetapi jika penderitaan itu ditiadakan orang akan mendapat Nirwana yang berarti pemadaman. Adapun yang dipadamkan ialah keinginan yang palsu yang sama dengan peniadaan awidiya. Jika ketidaktahuan manusia mengenai keberadaan dirinya yang semu dihilangkan maka hilang pulalah segala keinginan manusia sehingga ia bebas dari segala penderitaan dan mencapai kelepasan.

Kelepasan dari nafsu dan penderitaan mengantar manusia pada Nirwana. Nirwana ini dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu nirwana yang dapat dicapai dalam dunia ini dan nirwana yang dicapai setelah mati. Nirwana di dunia dialami ketika sampai pada pemadaman yang sempurna dari segala hawa nafsu. Nirwana setelah mati terjadi saat proses skanda-skanda terpadam secara sempurna atau berhentinya proses badani dan rohani; hal ini terjadi pada kematian orang yang suci (Arahat).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?