Sejarah Gereja Jemaat Imanuel Bau (GKSB)

Sejarah Gereja Jemaat Imanuel Bau (GKSB)

Sejarah Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau, pada awalnya adalah Gereja Toraja Mamasa (GTM), namun karena adanya perbedaan budaya, berganti nama menjadi Gereja Kristen Sulawesi Selatan, kemudian pada tahun 2005 berganti nama lagi menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB). Pergantian nama ini dipengaruhi oleh teritorial, karena daerah Mamuju telah mengalami pemekaran menjadi provinsi Sulawesi Barat, dan di dalamnya termasuk wilayah Bau, Kalumpang.

GKSB bukanlah gereja suku, mereka menggunakanbahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam ibadah apa pun, meski doaterkadang di campur dengan bahasa daerah yaitu bahasa Kalumpang. GKSB JemaatImanuel Bau, memiliki warga jemaat 54 Kepala Keluarga. Di Bau sendiri ada duagereja yang berkembang, GKSB dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), halinilah yang membuat penduduk terbagi dua, dulunya GKSB memiliki ratusan KepalaKeluarga anggota Jemaat, namun kehadiran GKSI, membuat terjadi pembagian wargayang seimbang.

Pekerjaan penduduk yang menjadi jemaat di GKSB adalah petani dan peternak, mereka menanam cokelat (Kakao) dan juga padi, kemudian mereka juga beternak kerbau dan juga Babi. Maka dengan demikian pendapatan warga jemaat atau penduduk menengah ke bawah. Warga Jemaat masih hidup dengan kesederhanaan dan sangat menekankan gotong royong. Selain itu Warga Jemaat juga masih memberikan persembahan berupa natura atau hasil panennya. GKSB Jemaat Imanuel Bau memiliki 7 orang Penatua dan 1 orang Pendeta. Pendeta di tempat ini seharusnya sudah pensiun, namun karena belum adanya pengganti, maka pendeta yang sudah pensiun diperpanjang lagi masa kerjanya selama 3 tahun.

Kesulitan menjadi pelayan di tempat seperti ini adalah pendeta harus bekerja keras dan ikut bertani untuk membiayai kehidupannya, karena Warga Jemaat tidak mampu rutin untuk membiayai pendeta. GKSB Jemaat Imanuel Bau, pada saat sedang melakukan pembangunan gedung gereja berupa plafon dan juga flester dinding gereja. Plafon gereja dibuat dari kayu yang sudah menjadi papan, dan papan ini diperoleh dari pemberian warga jemaat, artinya warga jemaat menyumbangkan papan yang dipunyainya. Pasir untuk felster tembok juga berasal dari warga jemaat yang secara bergotong royong mencari pasir di anak sungai.

GKSB Jemaat Imanuel Bau mempunyai kegiatan ibadah Sekolah Minggu yang dilaksanakan di gereja pada pukul 07.00 WITA. Kemudian dilanjutkan dengan ibadah Umum pada pukul 09.00 WITA. Setelah ibadah Umum ada lagi dua ibadah yang dilangsungkan di rumah-rumah dan waktu pelaksanaannya bersamaan pada pukul 11.30 WITA, yakni iba dah Persekutuan Perempuan dan ibadah Pemuda. Selain kegiatan pada hari Minggu, GKSB juga mempunyai kegiatan ibadah Rumah Tangga yang dilaksanakan pada hari Rabu dan hari Sabtu. Ibadah Rumah Tangga dibagi dua kelompok yakni, kelompok Sion dan juga kelompok Elim. Pelaksanaan ibadah Rumah Tangga pada pukul 19.00 WITA, namun keseringan ditentukan oleh kedatangan warga jemaat. Pada tahun ini tidak ada pengadaan katekisasi. Kegiatan yang sering dilakukan gereja, di luar yang biasa adalah pesta panen dan juga mengunjungi kebun-kebun yang akan hendak ditanami tumbuhan, seperti padi dan cokelat. Di daerah ini Kopi memang juga di tanam, namun jarang di jual kebanyak untuk dikonsumsi saja. 

Kehidupan warga jemaat berkecukupan dan rasa kekeluargaan masih tinggi. Ada sebuah hal yang sangat menarik di Bau ini, yaitu ketika seseorang berpesta atau ada warga yang meninggal, maka seluruh warga tidak boleh bekerja ke Kebun, semuanya tinggal di dalam kampung. Di Bau ini juga memiliki tiga jajaran kepemimpinan, yang dikenal dengan Lalikan Tallu. Lalikan Tallu ini terdiri atas Pemimpin Gereja, Tua-tua Adat (Tobara) dan Kepala Desa. Ketiga pemimpin ini harus hadir dalam setiap acara yang hendak dilakukan.

Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bauyaitu Gereja yang terletah di Bau, Desa Batu Makk’ada, Kec Kalumpang, Kab.Mamuju, Prov. Mamuju, masih merupakan daerah yang sangat terisolasi, baik darisegi perekonomian, kesehatan, maupun akses jalan menuju tempat tersebut. Halseperti ini menyebabkan perkembangan Gereja di Jemaat ini sulit berkembang danhal seperti ini menyebabkan banyak kendala dalam melakukan pelayanan di daerahtersebut. Namun yang menarik dalam sejarah Gereja imanuel Bau’ yaitu semangatdari masyarakat yang ada di daerah tersebut  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?