Pemberitaan Gereja tentang Salib dan Kebangkitan pada Ibadah Minggu
Pemberitaan Gereja tentang Salib dan Kebangkitanpada Ibadah Minggu
Makna salib
Salib telah
menjadi symbol penting dalam kekristenan. Makna di baliknya tentu saja
berkaitan dengan pengorbanan Kristus Yesus karena dosa- dosa kita. Studi
seksama terhadap kesenian kristiani maupun arsitektur gereja- gereja kuno
menunjukkan bahwa ornament salib merupakan bagian tak terpisahkan. Kekristenan
telah lekat dengan salib.
Ditengah
situasi seperti ini, sangat wajar apabila beberapa orang menanyakan dan
mempersoalkan ketidakadaan ornament
salib di beberapa gereja. Kalaupun ada symbol salib, hal itu kadang
tidak berbentuk kayu yang nyata (misalnya melalui permainan lampu atau desain
tertentu). Apakah memang setiap gereja harus memiliki salib? Benarkah yang
tidak mempunyai salib berarti kurang berpusat pada Kristus?
Untuk
menjawab pertanyaan seperti itu perlu kita membedakan antara symbol dan makna.
Ibadah Kristiani dipenuhi dengan banyak simbol, baik yang berbentuk ornament,
benda, liturgy, mauoun sikap dalam beribdah. Semua symbol ini seringkali
mengandung muatan Theologis, historis dan kultural yang kental. Setiap symbol
menyampaikan sebuah pesan tertentu yang indah yang indah. Inilah yang disebut
dengan makna. Symbol adalah pelayanan makna. Tidak ada symbol tanpa makna. Jika
suatu symbol tidak bermakna, hal itu bukan symbol, melainkan dekorasi.
Hal yang
sama tentang symbol salib. Yang dipentingkan adalah makna dibaliknya. Salib
memngingatkan orang- orang Kristen pada karya penebusan Kristus dengaan segala
aspeknya. Dalam taraf tertentu, salib dapat disebut sebagai injil yang visual.
Menempatkan salib pada posisi sentral di sebuah gedung ibadah berarti
mengingatkan jemaat tentang sentralitas Kristus dalam kehidupan mereka.
Walaupun demikian, apa yang berguna dan baik ini
tidak boleh dijadikan aturan baku yang berotoritas sama dengaan firman Allah.
Tidak ayat Alkitab yang memerintahkan orang- orang Kristen untuk memasang salib
di gedungn gereja. Ibadah gereja mula- mula bahkan dilakukan di rumah- rumah,
bukan di ruangan khusus seperti sekarang. Yang penting bagi mereka adalah
persekutuan antar orang percaya, bukan gedung atau ornament. Pada saat itu,
sangat aneh jika ada orang yang tanda salib di rumah mereka, karena salib
adalah lambang kekejaman dan kehinaan. Lagi pula sampai sekarang para theolog
masih belum sepakat tentang bentuk salib yaangn digunakan oleh Tuhan Yesus. Ada
beberapa variasi bentuk. Tidak adacara untuk memastikan bentuk yang mana yang
pada waktu itu dipakai pada penyaliban Kristus. Makna salib
Persoalannya
ialah apakah makna ini tersampaikan dengan baik dalam setiap elemen ibadah?
Apakah karya penebusan Kristus menjadi fokus dalam pemberitaan firman Tuhan
(bukan sekedar moralitas humanis atau solusi praktis kehidupan)? Apakah
interaksi anatara jemaat mencerminkan kasih, belas kasihan, dan kesucian
Kristus? Apakah para pelayan dan jemaat menunjukkan karakter Kristus di dalam
kehidupan mereka? Dengan kata lain, kita harus menjadikan Injil Yesus sebagai
pusat dan nafas dalam ibadah.
Secara
pribadi saya mendukung gereja- gereja tertetntu yang kaya symbol. Hanya saja,
mereka perlu memberi penjelasan secara berkala kepada jemaat supaya keindahan
dan makna dari symbol- symbol itu dapat diapresiasi. Di lailn pihak, saya juga
menyadari bahwa penyampaian makna- makna historis, theologis, dan kultural yang
indah tersebut perlu dilakukan dengan kepekaan terhadap situasi kontemporer. Kita
tidak boleh terpaku pada cara- cara tradisional saja. Pilihlah cara- cara yang
lain yang lebih relevan, tanpa mengabaikan makna yangn diinginkan .
Jadi dapat disimpulkan bahwa Bagi Kristus adalah
salibNya, keseluruhan Kristus baik di sorga atau di bumi terletak di dalam apa
yang Dia kerjakan di atas salib.
Komentar
Posting Komentar