Makalah : Pemahaman Tentang Allah di Toraja
Makalah : Pemahaman Tentang Allah di Toraja
LatarBelakang
Jauh sebelum kekristenan hadir dan berkembang di Indonesia, masyarakat tradisional telah memiliki sistem kepercayaan yang sering disebut dengan agama suku. Kepercayaan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat, baik itu pola piker, tingkah laku, hubungan antar sesama manusia dan alam sekitarmaupun hubungan dengan yang Ilahi, yang terus menerus diperbahari dan diwariskan kepada keturunan-keturunan selanjutnya. Pengaruh-pengaruh ini kemudian terkristalisasi dalam semua sistem yang mengatur kehidupan masyarakat yang lazim disebut dengan adat. Adat memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat tradisional, yaitu untuk mengatur kehidupan masyarakat adat agar berjalan dengan harmonis sesuai dengan kehendak Ilahi. Menurut Harun Hadiwijono, adanya adat kemudian menimbulkan kepercayaan bahwa nenekmoyang dulu yang awalnya mengatur kehidupan dan kemudian mengawasi tata tertib dengan sangat teliti serta yang menghakimi setiap pelanggaran adat tanpa pandang bulu, aturan adat dipandang sebagai mutlak meliputi segala sesuatu.
Sisten Tana' dalam Masyarakat Toraja
Sistem Tana’ dalam kepercayaan khususnya yang berkaitan dengan Aluk Todolo dari lembaga Gereja Toraja yang berhubungan dengan pandangan gereja terhadap Aluk Todolo, yang membahas tentang konteks kebudayaan Toraja maupun Gereja Toraja. Adanya sistem Tana’ dalam kebudayaan Toraja warisan kepercayaan Aluk Todolo yang akhirnya menumbulkan permasalahan dalam kehidupan dewasa ini, sehingga menuntut tanggapan dari berbagai pihak, terkhusus dari gereja yang terpanggil untuk mewujudkan misinya dan konteks kebudayaan lokal.
Mengenai sistem Tana’ dalam kepercayaan Aluk Todolo berupa pengertian, jenis dan fungsinya. Pengaruh-pengaruh dari luar yang yang mempengaruhi sistem Tana’, fenomena Tana’ dalam konteks kehidupan saat ini, serta pandangan gereja terhadap sistem Tana’.
TujuanTeologis Terhadap Sistem Kasta
Kepercayaan Aluk
Todolo dengan sistem Tana’ telah menciptakan kesejahteraan, ketentraman dan
harmonisasi dalam kehidupan dan penganutnya pada masanya. Sistem dan kehidupan
yang ideal tersebut tentu saja tidak dapat mewujud nyatakan lagi dalam
kehidupan saat ini. Meskipun demikian nilai-nilai kearifan lokal yang
terkandung disetiap kebudayaan Toraja warisan nenekmoyang termasuk sistem Tana’
masih dapat digali guna memberi warna bagi nilai-nilai kehidupan modern pengaruh
kerasnya globalisasi. Dalam kaitannya dengan kekristenan, menurut John Mansford
Proir, nilai-nilai dalam kebudayaan asli lebih dekat dengan nilai-nilai injil
dibandingkan dengan nilai-nilai kapitalisme.
Pandangan teologis terhadap sistem kasta berdasarkan konteks alkitab, dan tijauan Misi gereja dalam konteks kebudayaan. Tujuannya adalah sebagai landasan dalam membangun Misi Interkultural berdasarkan konteks Tana’ yang telah di gali sebelumnya.
Keterlibatan Dan Panggilan Gereja TerhadapKonteks Tana'
Perjumpaan injil dan kebudayaan. Studi dan pengalaman yang panjang terkait perjumpaan injil dan kebudayaan Toraja menjadi kekayaan spiritual yang tidak pernah kering. Suatu proses yang menentang sudah sejauhmana Gereja Toraja menghadirkan hubungan yang dialektis antara injil dan budaya; dimana injil sudah mewarnai atau mencerahkan budaya, dan budaya memberi bahasa yang membumi kepada injil. Gereja Toraja berhadapan dengan masalah memelihara dan mengembangkan budaya yang lebih berbelarasa, berbelas kasih dan berhikmat. Yesus Kristus dipercayai telah menjadi Tuhan yang berbudaya dan diterima akrab dalam komunitas orang percaya dengan kebudayaannya masing-masing, dan telah menjadi “pengasah” dari suatu keesaan yang sangat majemuk dan merangkum semua manusia dengan segalah kekayaan budaya dan tradisi gerejawi.
Gereja Toraja menyadari realitasnya bahwa Gereja berada pada konteks kebudayaan Toraja yang didalamnya menuntut kesadaran gereja untuk melibatkan kebudayaan lokal dalam menyampaikan pesan Injil sekaligus bagaimana gereja menunjukkan keberadaannya dalam mencerahkan kebudayaan lokal. Bahwa untuk mengindrai Allah yang kreatif dan menyelamatkan dewasa ini, maka perlu mencermati arti budaya bagi zaman sekarang ini. Sebab setiap budaya dalam setiap zaman merupakan wahana perjumpaan manusia dengan Allah.
Setelah mendapat gambaran yang jelas tentang permasalahan sistem Tana’ dan pandangan Teologis terhadap sistem kasta, pada upaya ini mewujudkan Misi Interkultural dalam konteks Tana’ Toraja.
Jauh sebelum kekristenan hadir dan berkembang di Indonesia, masyarakat tradisional telah memiliki sistem kepercayaan yang sering disebut dengan agama suku. Kepercayaan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat, baik itu pola piker, tingkah laku, hubungan antar sesama manusia dan alam sekitarmaupun hubungan dengan yang Ilahi, yang terus menerus diperbahari dan diwariskan kepada keturunan-keturunan selanjutnya. Pengaruh-pengaruh ini kemudian terkristalisasi dalam semua sistem yang mengatur kehidupan masyarakat yang lazim disebut dengan adat. Adat memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat tradisional, yaitu untuk mengatur kehidupan masyarakat adat agar berjalan dengan harmonis sesuai dengan kehendak Ilahi. Menurut Harun Hadiwijono, adanya adat kemudian menimbulkan kepercayaan bahwa nenekmoyang dulu yang awalnya mengatur kehidupan dan kemudian mengawasi tata tertib dengan sangat teliti serta yang menghakimi setiap pelanggaran adat tanpa pandang bulu, aturan adat dipandang sebagai mutlak meliputi segala sesuatu.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang
menjadi pemasalahan adalah perlu memahami Tana’/kasta dalam masyarakat adat
toraja yang bersumber dari kepercayaan Aluk Todolo dan bagaimana gereja
mewujudkan Misinya dan konteks kasta toraja berdasarkan rumusan permasalahan di
atas, yang menjadi acuan dalam pemasalahan ini:
- Bagaimana sistem Tana’ diamalkan dalam kepercayaan Aluk Todolo?
- Permasalahan apa yang timbul dari fenomena Tana’ dalam kehidupan saat ini?
- Bagaimana keterlibatan dan panggilan gereja terhadap konteks Tana’?
Adapun
tujuan penulisan ini adalah:
- Untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sistem Tana’ dalam kebudayaan Toraja. Dalam kaitannya dengan Gereja Toraja, upuya apa yang dapat ditempuh oleh gereja dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang timbul akibat adanya sistem Tana’ sekaligus wujud keterpanggilan gereja dalam mewujudkan misinya dalam konteks Tana’ Toraja.
- Memperkaya penulis terhadap kearifan lokal yang terkandung dalam kepercayaan Aluk Todolo.
Sisten Tana' dalam Masyarakat Toraja
Sistem Tana’ dalam kepercayaan khususnya yang berkaitan dengan Aluk Todolo dari lembaga Gereja Toraja yang berhubungan dengan pandangan gereja terhadap Aluk Todolo, yang membahas tentang konteks kebudayaan Toraja maupun Gereja Toraja. Adanya sistem Tana’ dalam kebudayaan Toraja warisan kepercayaan Aluk Todolo yang akhirnya menumbulkan permasalahan dalam kehidupan dewasa ini, sehingga menuntut tanggapan dari berbagai pihak, terkhusus dari gereja yang terpanggil untuk mewujudkan misinya dan konteks kebudayaan lokal.
Mengenai sistem Tana’ dalam kepercayaan Aluk Todolo berupa pengertian, jenis dan fungsinya. Pengaruh-pengaruh dari luar yang yang mempengaruhi sistem Tana’, fenomena Tana’ dalam konteks kehidupan saat ini, serta pandangan gereja terhadap sistem Tana’.
TujuanTeologis Terhadap Sistem Kasta
Pandangan teologis terhadap sistem kasta berdasarkan konteks alkitab, dan tijauan Misi gereja dalam konteks kebudayaan. Tujuannya adalah sebagai landasan dalam membangun Misi Interkultural berdasarkan konteks Tana’ yang telah di gali sebelumnya.
Keterlibatan Dan Panggilan Gereja TerhadapKonteks Tana'
Perjumpaan injil dan kebudayaan. Studi dan pengalaman yang panjang terkait perjumpaan injil dan kebudayaan Toraja menjadi kekayaan spiritual yang tidak pernah kering. Suatu proses yang menentang sudah sejauhmana Gereja Toraja menghadirkan hubungan yang dialektis antara injil dan budaya; dimana injil sudah mewarnai atau mencerahkan budaya, dan budaya memberi bahasa yang membumi kepada injil. Gereja Toraja berhadapan dengan masalah memelihara dan mengembangkan budaya yang lebih berbelarasa, berbelas kasih dan berhikmat. Yesus Kristus dipercayai telah menjadi Tuhan yang berbudaya dan diterima akrab dalam komunitas orang percaya dengan kebudayaannya masing-masing, dan telah menjadi “pengasah” dari suatu keesaan yang sangat majemuk dan merangkum semua manusia dengan segalah kekayaan budaya dan tradisi gerejawi.
Gereja Toraja menyadari realitasnya bahwa Gereja berada pada konteks kebudayaan Toraja yang didalamnya menuntut kesadaran gereja untuk melibatkan kebudayaan lokal dalam menyampaikan pesan Injil sekaligus bagaimana gereja menunjukkan keberadaannya dalam mencerahkan kebudayaan lokal. Bahwa untuk mengindrai Allah yang kreatif dan menyelamatkan dewasa ini, maka perlu mencermati arti budaya bagi zaman sekarang ini. Sebab setiap budaya dalam setiap zaman merupakan wahana perjumpaan manusia dengan Allah.
Setelah mendapat gambaran yang jelas tentang permasalahan sistem Tana’ dan pandangan Teologis terhadap sistem kasta, pada upaya ini mewujudkan Misi Interkultural dalam konteks Tana’ Toraja.
1. Hadiwijono
Harun. Religi Suku Murba di Indonesia.
Jakarta: BPK GM. 2009
2. Tangdilinting
L. T. Toraja Dan Kebudayaan. Toraja :
Yayasan Lempongan Bulan, 1980.
3. Liku
John. “Manusia dan Lingkungannya Dalam
Falsafah Religius Toraja”. Dalam A.
Sunarko ddk, Menyapa Bumi Menyembah Hyang
Ilahi. Tinjauan Teologis atas lingkungan Hidup. Yokyakarta : kanisius, 2008
4. Sarira
. Y. A, tim pusbang Gereja Toraja, “Aluk
Rambu solo’ dan Perspektif orang Kristen Terhadap Rambu Solo”. Toraja :
PUSBANG Gereja Toraja, 1996.
5. Kobong,
Theodorus. Injil dan Tongkonan,
Inkarnasi, Kontekstualisasi, Transformasi. Jakarta : BPK. Gunung Mulia,
2008
6. Sumber
dari BPS kab. Tana Toraja 2009 dalam http://www.tanatorajakab.go.id/id/content/sosial-dan-budaya
diakses tanggal 29 mei 2019
Mansford John Prior. Berdiridi Ambang Batas . “Pergumulan Seputar
Iman dan Budaya”. Maumere : Ledalero. 2008
Komentar
Posting Komentar