Interaksi Buku : Mengajar Secara Profesional

Interaksi Buku : Mengajar Secara Profesional

Penulis Buku: B.S. Sidjabat, Ph.D. 
Judul buku : mengajar secara profesional 
Tahun Terbit : 2017 
Namapenerbit : Kalam HidupJumlah halaman: 364


Pada bab III tentang menjadi guur berkualitas, pada halaman 68 di bahas “ keutamaan Kualitas Guru”. Pulias dan Young juga mengemukakan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru adalah pebimbing, pendidik, pembaruh, teladan hidup, pencari gagasan baru, penasehat (konselor), pencipta, pemegang otoritas, pengilham cita-cita, penuntur cerita, dan sebagai penilai. Oleh sebab itu,guru terpanggil untuk tampil secara realistis atau “membumi diantara serta bersama dengan anak didiknya, apalagi, tugas mengajar menuntut guru yang professional, dalam arti benar-benar andal karena terus belajar serta melatih dirinya. Sebaliknya ,guru yang memberi layanan asal-asalan hanya akan menimbulan kerugian kepada anak didik. [1] 


Lewat pendapat yang dikutip oleh Pulias dan Young di atas, saya setuju karena  guru mempynai komitmn pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya. Guru menguasai secara mendalam bahan atau mata pelajaran yang di ajarkannya serta mengajarkannya pada siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dri pengalamannya, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa.


Pada halaman 71 dalam buku ini, dijelaskan kualitas kepribadian Guru, pembahasan ini dimulai dengan membahas kuliatas  kepribadian guru dalam perspektif iman Kristen.istilah kepribadian  itu berkaitan dengan watak,karakter,pola pikir,emosi,sikap,dan kebiasaan  yang menjadi ciri khas seseorang di dalam menunaikan tugasnya. Para dokter dan rohaniawan, misalnya, diharapkan memiliki ciri kepribadian tertentu yang dianggap sebagai syarat di dalam menunaikan profesinya.demikian pula dengan guru, baik pengajar bidang agama maupun yang lainnya, diharapkan memiliki kompetensi kepribadian tertentu yang menjadi syarat baginya di dalam melaksanakan tugas keguruan.[1]


Dari pendapat di atas saya setuju karna pendidikan merupakan sektor  yang paling penting dalam kepribadian guru juga akan terlihat dari pribadinya yang luhur yang dapat dipercaya oleh orang lain.sifat dapat di percaya tersebut bisah di tandai dengan dua indicator besar yakni, kebiasaan berbuat kebijakan bersama dan loyal terhadap pekerjaan yang dipercaya kepadanya, kemudian bersikap terbuka, peduli dan selalu memberi dukungan pada institusinya, kemudian sifat dapat di percya juga bisa dilihat dari intergritasnya terhadap berbagai nilai dalam pelaksanaan pekerjaan, yakni nilai-nilai kejujuran maupun keadilan social  pada halaman 101 dalam buku ini tentang Guru sebagai pendidik, dijelaskan menurut Filsuf Indonesia, Dr. Driyarkara (1980), mengemukakan bahwa pendidikan pada prinsipnya bertujuan untuk memanusiakan manusia muda, yang disebut dengan istilah hominisasi dan humanisasi. Hominisasi mengandung arti menjadikan manusia ( homo) menjadi dirinya sendiri secara holistic, mengenal dan mengembangkan pitensinya sehingga tumbuh sebagai manusia yang bertanggung jawab ‘. Humanisasi memiliki arti proses ‘menjadi bagian dari sesame manusia atau melaksanakan tugas, panggilan, dan tanggung jawab untuk kehidupan bersama orang lain dalam arti saling membantu menurut Driyarkara, manusia yang humane adalah manusia yang berbudaya tinggi, yang dapat berdiri sendiri bersama dengan orang lain. Dengan demikian, menurutnya juga, kehidupan yang adil dan sejahtera itu dapat terwujud di muka bumi ini.[1]

Pendapat saya tentang gagasan yang dikemukakan oleh Dr. Driyarkara ialah saya setuju karena memang  pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia dalam artian upaya untuk membuat manusia menjadi berbudaya atau berakal budi. Sesame manusia saling menghargai, menghormati, dan tidak mengadili knteks memanusiakan manusia berpegang pada nilai keadilan, kesehatan, serta nilai persaudaraan. Perlu kita ketahui bahwa konsep “ memanusiakan manusia” bukan hanya terbatas di bidang pelayanan public saja. Itu telah terlalu sempit kata-kata memanusiakan manusia menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia. Bahkan dunia pendidikan di Indonesia juga menggunakan konsep ini kurikulum pendidikan di Indonesia saat ini pun di buat dengan dasar konsep memanusiakan manusia. 

Dalam buku ini pada halaman 111 dijelaskan tentang Guru Sebagai Fasilitator, sebagai fasilitator, guru tidak mendominasi peserta didik melalui cerita, cerama, atau penjelasan, namun, ia memandang sebagai pribadi yang bertanggung jawab, yang mampu mengolah sumber-sumber belajar sehingga mereka melakukan kegiatan belajar berdasarkan petunjuk yang tepat. Dalam pendidikan dasar sekalipun, peran guru sebagai fasilitator dapat berlangsung dengan baik. Hal yang sangat penting ialah guu berusaha memahami kebutuhan atau keperluan peserta didik dalam proses belajar. Ia perlu bertanya kepada mereka , mengajukan kasus-kasus kecil untuk ditanggapi dalam rangka mengukur prmahaman anak didik. Dari keadaan itulah guru melakukan bimbingan belajar. [1]

 Lewat pendapat di atas, saya setuju karena guru dapat mrngoptimalkan perannya sebagai fasilitator , maka guru perlu  memahamihal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dalam beragam dalam setiap kegitan pelajaran, dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya terkait dengan sikap dan perilaku guru sebagai fasilitator, karena siswa merupakan pelaku utama dalam pelajaran, maka sebagai fasilitator guru harus meberikan kesempatan agar siswa dapat aktif. Upaya mengalihkan pern dari fasilitator kepada siswa bisa di lakukan sedikit demi sedikit.
Pada halaman 134 dalam buku ini dijelaskan tentang Guru Sebagai Makhluk Religius, pemahaman utama mengenai peserta didik yang oerlu terus ditingkatkan oleh guru ialah kedudukan mereka sebagai makhluk religious. Cornelius Jaasma dalam tulisannya, human defelopmen, learning, dan teaching (1961), menekankan bahwa guru dalam perspektif pendidikan Kristen harus memeliki pemahaman, yaitu anak didik bukanlah semata-mata makhluk biologis, psikologis, sosiologis, dan kultural, melainkan terutama sebagai insan (religious being). Anak didik memmiliki potensi dan kerinduan untuk berelasi dengan Tuhan, pencitanya. Hal itu sesuai dengan penjelasan alkitab bahwa manusia di ciptakan Allah menurut gambar dan rupanya. Jaarsma juga berpebdapat bahwa manusia diciptakan untuk menguasai dirinya sehingga dapat memainkan perannya guna mengembangkan segaka daya dan otensinya dalam terang kehendak Allah karena anak didik itu mahkluk religious, interfensi inlahi dari Allah di dalam kegiatan pembelajaran sangant di butuhkan [1]
  Lewat pendapat di atas, saya setuju karena menurut saya , manusia sebagai ciptaan Allah itu seklaigus terdapat juga aspek natural dan subranatural manusia yang di ciptakan Allah itu memiliki nafas kehidupan. Manusia juga memiliki hati yang menjadi kedudukan pikiran, pertimbangan, perasaan dan sikap, karena adanya aspek supra natural itulah, peserta didik memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan Allah. Ia pun wajib memenuhi panggilan komunikasi itu serta terus- menerus menyatakan danmenyadari dirinya sebgai makhluk religiuss jika tidak demikian sia- sialah upaya guru apalagi pengajaran yang dikelola setiap guru itu pada dasarnya merupakan upaya penanaman nilai- nilai religious, demikian juga memberi dorongan dan pembangkitan minat peserta didik. Semua itu memilki dimensi religious.

 Pada halaman 139 di katakana bahwa  Guru sebagai makhlik yang berbeda  dalam banyak aspek, ialah perbedaan individu dan kelompok. Dalam setiap kegiatan mengajar, guru harus memandang bahwa peserta didik hadir dan berperan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Dua peran yang selalu berlangsung di dalam kegiatan belajar dan peran yang selalu brlangsung di dalam kegiatan belajar daan belajarab ialah peran individual dan peran sosial. Dalam peran individual peserta didik, minat, motivasi, cara berfikir, dan pengambilan keeputusan pribadi akan mengemuka. Adapun kesediaan bekerja sama, memberi dan menerima masukan serta mebangun, memelihara kesatuan dan persatuan merupakan bagian dari peran sosial guru dan peserta didik di dalam kegiatan belajar peserta didik sebagai individu dan kelompok berbeda dalam banyak hal. Beberapa dimensi perbedaan itu menyangkut aspek usia daan perkembangan, seksualitas, prestasi akademis, gaya belajar latar belakang sosial dan budaya,serta latar belakang pendidikan pada masa lalu.menyadari,menerima,bahkan menerima realitas perbedaan, dapat memudahkan guru untuk mengatasi berbagai kualitas pembelajaran.[2]
Pendapat saya tentang guru sebagai mahkluk yang berbeda dalam banyak aspek iyalah guru harus menyadari bahwa kemungkinan terjadinya perbedaan antara sesama peserta didik disebabkan oleh faktor usia dan perkembangan. Namun lambat laun anak menyadari adanya difeensiasi anatara dirinya dan orang lain disekitarnya, orang tua , kakak, dan saudara-saudaranya, otonomi dan kemandirian anak pun mengemukakan, yang memotivasinya untuk ingin melakukan banyak perkara tanpa bantuan dan kekangan pengasunya. Kerak anak pada usia itu disebut berada pada periode keras kepala, arena kehendaknya yang kuat ( strong willed). Anak belajar menirukan dan memproyeksikan pengalamannya. Misalnya,  Allah itu baik karena dirasakan bahwa ayah atau ibunya baik, memenuhi seluruh kebutuhannya, dengan demikian, anak dapat di ajak beribadah dengan meniru cara ibu dan ayahnya ketika berdoa,bernyanyi atau ketika melakukan aktivitas kerohanian lainnya .
[1] Sidjabat, 134
5. Sidjabat, 140

[1]  Sidjabat, 111
 


[1] Sidjabat, 102
 




2 Sidjabat 71

 


[1] B. S. Sidjabat, mengajar secara professional, (Bandung : Kalam Hidup, 2017),68
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat Terbentuknya Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB)

Kepemimpinan Perempuan dalam Gereja (suatu tinjauan Sosio-Teologis terhadap Kepemimpinan Pendeta Perempuan dalam Gereja Kristen Sulawesi Barat)

Laporan Baca : Buku Apakah Penggembalaan Itu ?