Apa Itu Perkunjungan Pastoral ?
Dasar utama dalam perkunjungan pastoral adalah
karena Allah sendiri telah lebih dahuluh mengunjungi dan melayani umatNya,
sehingga umat Allah mempunyai tanggungjawab untuk mengunjungi dan melayani
sesamaNya.
Dalam perjanjian Lama
Tuhan Allah adalah penciptaan alam semesta. Dia
pemilik seluruh alam semesta ini termasuk manusia. Bahkan manusia bukan hanya
sekedar miliktetapi amat dikasihinya dengan kasih yang kekal. “Aku mengasihi
engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu
kepadamu ”(Yer. 31:3). Karena itu Tuhan tidak hati-hatinya melanjutkan dan melimpahkan
kasihNya.
Pelayanan perkunjungan dalam Perjanjian Lama diawali
dengan perkunjungan Allah kepada Adam (kej. 3:8 ). Allah datang menengok
manusia ditaman Eden untuk mengetahui keadaan dan situasi manusia. Antara Allah
dan manusia ada hubungan yang baik, manusia mengenal Allah melalui buah ciptaan
dan juga pengenalan Allah sendiri.
Hubungan antara Allah dan manusia rusak karena pelanggaran manusia
jatuh kedalam dosa (kej. 3), tetapi Allah tetap mengasihi manusia dan membuat
rencana untuk memperbaiki yang putus. Rencana Allah itu diyatakan kepada
Abraham dan bentuk janji, diwujudkan dengan pemilihan dan pembentukkan bangsa
Israel menjadi umat Allah secara khusus dengan pemanggilan Musa sebagai
pemimpin umat Israel (kel. 3:4) yang menyampaikan hukum Taurat bangsa Israel.
Penting gembala di Israel terletak pada
ketergantungan mereka pada domba-dombanya. Domba bersandar sepenuhnya kepada
perlindungan dari gembala yang menyelamatkan antar singa dan beruang ( 1 Sam. 17:34-35; Ams.
3:12) dapat disimpulkan bahwa tugas perkunjungan pastoral adalah tugas dan
kepercayaan dari Tuhan sendiri bila tugas
dilalaikan maka Tuhan dapat mempercayakan kepada pihak lain. Sekarang
banyak domba yang terlancar, kurang diperhatikan dan berdaulat sendiri untuk
mengatasi pergumulan gembala diingatkan untk memperbaiki domba-dombaNya.
Dalam perjanjian Baru
Yesus
tampil sebagai gembala karena Allah Bapa gembala yang baik yesus datang kedunia
bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.(Mat. 10:45), pelayanan ada
berbagai macam seperti berkhotbah, mengajar, melakukan mujisat, membangkitkan
orang mati dan lain-lain.
Yesus
melakukan penggembalaan tidak hanya berkelompok, melainkan juga memperhatikan
kehidupan pribadi dari domba-dombaNya. Yesus berkunjung melayani lewat
percakapan, percaya pada yesus dengan Nikodemus(yoh. 3:1-21), percakapan Yesus
dengan perempuan samaria (yoh. 4:1-42) yesus berjuang membelah dombanya sampai
titik darah penghabisan jiwa raganya dipersembahkan demi keselamatan domba
sehingga mereka memiliki hidup, baru memiliki dalam kelimpahan (yoh. 10:3-14).
Kristus sebagai gembala yang agung dan memberikan penghargaan tertinggi dan
mulia, “maka apabila gembala agung datang, kamu akan menerima makhota kemulian
yang tidak dapat layu”(1 Ptr. 5:4), inilah punca jerih jurang gembala yang
setia dalam pelayanaNya.
Yesus naik kesorga tugas untuk menggembalakan
diamatkan kepada pengikut-pengikutNya (murid-murid). Mereka melakukan pelayanan
perkunjungan seperti juga dikatakan pelayana perkunjungan seperti Yesus tidak
hanya mengajat berkhotba tetapi juga melakukan pelayanan perkunjungan seperti
Rasul Paulus mengunjungi penatua-penatua mereka untuk mengajar (kis. 20:20).
Seorang gembala dapat mengasihi domba-dombanya hanya
jika dia sudah lebih dahulu mengasihi Kristus. Kita dapat tidak member dan
membagi kasih tanpa kita memiliki kasih kristus, kita mengasihi karena Allah
sudah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:19). Allah sudah lebih dahulu
mengasihi kita dalam Kristus, sebagai kita ada menyambut, menerima serta memiliki
kasih itu. Kasih kristus merupakan sumbrt dan kekuatan dalam mengasihi
domba-dombanya miliknya yang dipercayakan kepada gembala sikapnya adalah
“gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksaan ”(1
ptr. 5:2a), melakukan dengan senang hati ikhlas dan tidak mengharapkan gembala,
motifnya karena iman dan kasih kepada Kristus.
B. Tujuan perkunjungan pastoral
Tujuan perkunjuan pastoral adalah untung membangun
kehidupan jemaat sebagai tubuh kristus, agar mereka boleh hidup sesuai dengan
panggilannay, melihat keadaan anggota jemaat, memberikan motivasi semangat
kepada anggota keluarga untuk lebih giatkhususnya pertumbuhan iman. Tujuan
pastoral penggembalaan yaitu supaya jemaat kristus dibangun, anggota jemaat
memerluhkan bimbingan dan mengetahui bagaimana mereka bisa hidup sebagai
pengikut kristus dalam setiap situasi dan persoalan hidup yang dialami. Perkunjungan
pastoral dilakukan untuk memberikan hiburan, nasehat, dan pimpinan bagi setiap
jemaat keadaan rumah setiap anggota jemaat berbeda, ada banyak masalah yang
tersembunyi dalam kehidupan orang Kristen yang berbahagia, sebagai gembala
dalam jemaat, majelis jemaat, ingin mengetahui situasi anggota jemaat persoalan
hidup yang dialami dan mau berusaha untuk membantu mereka.
Perkunjungan dilakukan bukan hanya bertemu, baik
dalam kegembiraan dan pengucapan syukur tetapi juga dalam kesusahan dan pergumulan.
Dengan adanya kunjungan itu maka anggota jemaat mendapat kesempatan untuk
mencurahkan isi hati kepada gembala, dapat berputar pikiran dengan gembala
tentang persoalan-persoalan yang dihadapi membaca firman Tuhan, berdoa bersama
dan menyelesaikan masalah yang dialami secara bersama-sama. Suatu pelayanan
yang penting dilaksanakan oleh majelis jemaat mencari tahu masalah yang mereka
hadapi kemudian member nasehat, bimbingan, mencari jalan keluar bersama. Bagi
anggota jemaat yang mungkin tidak ada masalah melalui perkunjungan itu majelis
dapat memberikan semangat dan motivasi untuk lebih giat khususnya pertumbuhan
iman.
C. Isi Perkunjungan Pastoral
Perkunjungan pastoral bukanlah mengadakan ibadah
seperti biasa, tetapi member perhatian khusus kepada rumah tangga/ anggota
jemaat, supaya mereka merasa dan mengetahui bahwa dirinya disapa secar pribadi
oleh irman Allah dan supaya mereka mengetahui apa panggilanya untuk seluruh
kehidupannya. Untuk memakai waktu dengan baik dan bertanggungjawab, perluhlah
gembala selalu datang tepat pada jam yang dijanjikannya.
Agar benar-banar bertemu dengan anggota jemaat,
gembala perlu menyesuaikan diri dengan keadaan keluarga yang dikunjunginya.
Penyesuaian diri itu nyata misalnya dari cara berpakaian, sehingga gembala
tidak mau memakai jas dan dasi umpamany kalau ia mau mengunjungi suatu keluarga
yang miskin dan sederhana sekali. Tetapi kalau mau kunjungi biasa memakai jas
dan dasi, baiklah gembala juga berpakaian lengkap. Dalam hal ini tidak ada
aturan, cukuplah bahwa gembala selalu waspada , bahwa ia tidak berbuat sesuatu
yang dapat menghalangi maksud perkunjungan itu. Begitupun gembala harus
menyesuaikan diri dalam hal bahasa. Kalau anggota jemaat itu biasa
bercakap-cakap dalam bahasa daerah, dan agak sulit bercakap-cakap dalan Bahasa
Indonesia, maka sebaliknyalah gembala juga, bercakap-cakap dalam bahasa daerah.
Hal ini sering terjadi kalau ynag dikunjungi itu orang ynag sudah lanjut usia.
Jangan memakai perkataan-perkataan tinggi dan sulit dalam suasana keluarga yang
sedrehana. Keinginan yang murni untuk betul-betul bertemu dengan orang yang
dikunjungi itu, akan memberikan kepada gembala dengan orang yang dikunjungi
itu, akan member kepada gembala perkataan yang tepat.
Komentar
Posting Komentar