Alira-aliran Filsafat Cinta (Konfusianisme, Taonisme, dan Yin dan Yang)
Aliran-aliran Dalam Filsafat Cinta
Ada beberapa aliran penting dalam filsafat Cina yang akan dibahas dalam mata kuliah pengantar filsafat Timur yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Yin–Yang.
Ada beberapa aliran penting dalam filsafat Cina yang akan dibahas dalam mata kuliah pengantar filsafat Timur yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Yin–Yang.
Aliran ini didirikan oleh Kong Fu Tse,
artinya guru dari suku Kung (551–497 SM). Konfusianisme mendominasi alam
pemikiran Cina selama 25 abad. Konfusianisme bermula dari ajaran Konsufius,
tapi kemudian dikembangkan oleh Mensius atau Meng Zi (298 – 238 SM).
Konfusianisme lahir di tengah anarki
sosial dan intelektual. Menurut Konfusius, kekacauan dan anarki bukan hakikat
masyarakat dan peradaban. Rakyat diajarkan untuk memelihara pranata sosial dan
kulturalnya, dan kembali pada li (
tata cara atau upacara) dari zaman dinasti Zhou awal.
Konfusiuslah yang mengambil kitab
klasik dinasti Zhou keluar dari tempat penyimpanannya dan membeberkannya di
depan umum. Ia mengubah aneka tata cara dan kebiasaan feodal menjadi sistem
etika.
Inti ajarannya menyatakan: Tao (=jalan sebagai prinsip utama dan
kenyataan) merupakan jalan manusia. Dengan
kehidupan yang baik, manusia menjadikan Tao itu luhur dan mulia. Kebaikan hidup
dapat dicapai melalui perikemanusiaan (yen).
Agar suatu masyarakat teratur, maka
hal yang paling penting dilakukan adalah apa yang ia sebut dengan pembentukan “nama–nama.” Hendaknya penguasa menjadi
seorang pengusa, menteri menjadi menteri, seorang ayah menjadi seorang ayah dan
anak menjadi seorang anak. Ada kesesuaian antara nama dan kenyataan yang
sebenarnya. Setiap nama dalam hubungan sosial mengandung tanggung jawab dan
kewajiban tertentu. Penguasa, menteri, ayah dan anak dan individu–individu yang
menyandang nama–nama ini harus memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya sesuai
dengan nama–nama tersebut.
Tentang kebajikan–kebajikan yang
bersifat individu. Confusius menekankan rasa kemanusiaan dan rasa keadilan,
terutama rasa kemanusiaan. Rasa keadilan (yi)
artinya situasi “ yang seharusnya” terjadi. Setiap orang dalam masyarakat
mempunyai hal–hal tertentu yang seharusnya ia kerjakan, dan yang harus ia
kerjakan demi hal–hal tertentu yang seharusnya ia kerjakan, dan yang harus ia
kerjakan demi hal–hal itu sendiri karena secara moral merupakan hal–hal yang
benar untuk dikerjakan.
Esensi formal kewajiban manusia dalam
masyarakat adalah “perbuatan yang seharusnya dilakukan”, karena semua
kewajibannya adalah apa yang seharusnya ia lakukan. Tetapi esensi material
kewajiban–kewajiban ini adalah “mengasihi manusia yang lain”, yaitu yen atau rasa kemanusiaan.
Dengan begitu mempraktekkan yen terkandung dalam sikap
“memperhatikan orang lain“. Jika
seseorang berkeinginan untuk mengukuhkan diri sendiri, maka orang tersebut perlu
mengukuhkan orang lain, apabila berkeinginan untuk mengembangkan diri sendiri,
maka orang tersebut harus mengembangkan orang lain”. Dengan kata lain: ”Lakukanlah
kepada orang lain sesuatu yang kamu sendiri ingin orang lain melakukannya
untukmu”. (bnd. Mat. 7:12) Ini
merupakan aspek positif ketika mempraktekkan hal tersebut, yang disebut oleh Konfusius
dengan Chung atau “tenggang rasa terhadap orang lain”.
Dari gagasan tentang rasa keadilan,
para penganut Konfusianisme menurunkan gagasan tentang “berbuat tanpa pamrih”. Orang
melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, karena hal itu secara moral baik
untuk dikerjakan, dan bukan karena pertimbangan apa pun yang berada di luar
keharusan moral ini. Konfusius mengajarkan tentang Ming yang berarti kehendak
alam, ketuhanan. Mengenal Ming maksudnya adalah mengakui sifat yang tak dapat
dielakkan sebagaimana adanya dunia, dan juga bersikap tidak mengindahkan
keberhasilan atau kegagalan yang bersifat lahiriah dari seseorang.
Sebagai akibatnya, kita akan selalu
bebas dari kecemasan apakah akan berhasil dan bebas dari ketakutan apakah kita
akan gagal, dan dengan demikian tentulah akan bahagia. Inilah alasannya mengapa
Konfusius berkata: “Manusia bijaksana bebas dari keragu–raguan; manusia berbudi
luhur bebas dari perasaan cemas; manusia yang berani bebas dari ketakutan”; ”Manusia
ulung selalu bahagia, manusia kerdil selalu bersedih”.
Ajaran Konfusius diteruskan oleh
Mensius dan Xun Zi. Mensius mengajarkan bahwa kodrat manusia itu baik. Dia
mendasarkan ajarannya atas doktrin yen
(rasa kemanusiaan) dan yi (rasa
keadilan). Yen (rasa kemanusiaan)
adalah prinsip tepat untuk mengawasi gerak internal, sedangkan yi (rasa keadilan) adalah cara tepat
untuk membimbing tindak eksternal.
Taoisme diajarkan oleh Lao-tzu (lahir
604 sM.) penulis sebuah kitab tersohor Tao Te Ching. Lao-Tzu melawan
konfusisus. Menurut Lao-Tzu bukan “jalan manusia “ melainkan “jalan alam”-lah
yang merupakan Tao. Dalam hal ini, Tao adalah prinsip kenyataan objektif
substansi abadi yang yang bersifat tunggal, mutlak tak ternamai. Ajaran Lao-tzu
lebih bersifat metafisika, sedangkan Konfusius lebih bersifat etika. Puncak
metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa manusia tidak tahu apa-apa tentang
Tao. Dalam filsafat barat disebut docta
ignorantia (ketidaktahuan yang berilmu).
Seperti halnya orang India, orang
China percaya adanya suatu realitas utama yang mendasari dan menyatukan
berbagai hal serta peristiwa, mereka menyebut realitas ini Tao, yang aslinya
berarti “jalan”. Inilah Jalan atau proses alam semesta, tatanan alam.
Tao hakikat yang tertinggi, yaitu
sifat alami yang melekat yang menyemikan segenap keberadaan. Tao adalah sumber
sebelum terjadi penciptaan. Sebelum hidup yang ada adalah kehampaan atau
kekosongan, yakni tao. Ruang hampa bukan semata tidak ada apa-apa, melainkan
justru merupakan potensi adanya segala sesuatu. Tao adalah keadaan tanpa
kondisi dan mendahului pengkondisisian.
Tao itu berguna. Kehampaan menyiratkan
potensi kegunaan. Kegunaan mangkuk, misalnya ada pada ruang kosongnya. Kita
dapat menemukan kebijaksanaan Tao ketika kita diam, hening, dan luwes. Dengan
berhening mengosongkan diri kita memulihkan keseimbangan alami.
Tao mengekspresikan diri dalam alam.
Ketika kita selaras dengan alam kita selaras dengan Tao. Cara kerja alami dari
segala sesuatu terungkap secara spontan. Pohon tumbuh, bunga bermekaran, siang
berganti malam. Semua makhluk hidup memiliki cara naluriah mereka sendiri,
memiliki kebiasaan unik dan gaya hidup mereka sendiri.
Umat manusia juga juga memiliki kepribadian
individual mereka sendiri, suatu fungsi dari jalan kemanusiaan. Tao
diekspresikan setiap manusia dengan bakat khusus dan kepribadian masing-masing.
Kita berpaling dari Tao jika kita mencoba melawan sifat alami kita sendiri.
Dengan demikian kita akan mengalami kesulitan. Psikologi modern memperlihatkan
bahwa menjalani hidup dengan murni sesuai dengan kepribadian kita sendiri yang
abadi-membuat kita merasa nyaman.
Alam terus menerus berubah dan siklus
hidup seyogianya dibiarkan menjalani evolusinya secara alami dan utuh. Hidup
menjadi sulit ketika orang mencoba memaksakan kehendak pribadi atas sifat alami
batin, ketika mereka mencoba mengganggu siklus alami. Jika kita belajar
membiarkan segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya, keteraturaturan serta
pemenuhan takdir pun datang dengan sendirinya.
Unsur alam yang paling sering dipakai
untuk melambangkan Tao adalah air. Jika diaduk aduk, air menjadi keruh, jika
dibiarkan air menjadi jernih. Jika sibuk pikiran kita teraduk-aduk, jika
pikiran tenang segala sesuatu menjadi jernih. Air dapat menyesuaikan diri
dengan bentuk apapun yang menjadi wadahnya. Air juga dapat berubah wujud sebagai
cairan, padat seperti es, bahkan menguap tanpa mengubah susunan kimiawinya.
Serupa dengan itu Tao itu tanpa bentuk tetapi dapat menyesuaikan diri dengan
segala sesuatu. Manusia dapat
menyesuaikan diri dengan semua perubahan situasi hidup, jika mengalir bersamaTao.
Lao-Tzu mengatakan, “tidak ada satupun
materi di dunia ini memiliki kelembutan air. Tetapi kita tahu air dapat
membinasakan bahkan benda yang terkuat sekalipun.” Fleksibellah seperti air
maka anda akan menemukan keteguhan yang tidak terguncangkan, untuk tetap berada
di jalurmu sendiri.
Jadilah seperti air: tanpa bentuk tapi
tegas, jernih dan tenang, mencari tempat yang rendah untuk mencapai yang
tertinggi. Anda akan menemukan Tao tanpa dapat dihalangi.
Keselarasan Tao ada
terlebih dahulu, diaktifkan oleh kepasifan, oleh tidak adanya aktivitas.
Tetapi, begitu diekspresikan menjadi ada, Tao menghasilkan suatu permainan
pertentangan yang dinamis dan silih berganti: Yin–Yang, yaitu manifestasi Tao
di dunia. Keduanya saling menghasilkan satu sama lain sebagai kutub–kutub yang
menjadi bagian dari jalinan keberadaaan.
Yin dan Yang adalah prinsip induk dari seluruh
kenyataan. Lambang Yin dan Yang merupakan pengelompokan asli
(primordial) dari segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu dalam kenyataan
merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin
tertentu dan derajat Yang tertentu.
Kata Yang pada awalnya berarti cahaya
matahari, atau hal yang berkaitan dengan cahaya matahari dan sinar, sedangkan Yin berarti ketiadaan sinar matahari,
yaitu bayang–bayang atau kegelapan. Dalam perkembangan selanjutnya,Yang dan Yin dianggap sebagai dua prinsip atau kekuatan kosmis, Yang melambangkan sifat jantan,
aktivitas, kehangatan, kecerahan, kekeringan, kekerasan dan sebagainya,
sedangkan Yin melambangkan sifat
betina, kepasrahan, kedinginan, kegelapan, kebasahan, kelembutan dan
sebagainya. Dengan interaksi kedua prinsip utama ini, maka semua fenomena alam
semesta dihasilkan.
Yin merujuk pada
ciri–ciri kelembutan, kepasifan, kewanitaan, kegelapan, lembah, yang negatif
dan ketidakberadaan. Di lain pihak, Yang
mengacu pada ciri–ciri seperti sifat keras, kejantanan, kecerahan, gunung,
kegiatan dan keberadaan. Semua energi aktif terwujud sebagai dualitas Yin–Yang.
Ketidakberadaan menyertai keberadaan. Hukum kedua Newton tentang gerak
menyatakan bahwa untuk setiap daya terdapat daya berlawanan yang sama besarnya.
Yin dan Yang menghasilkan keseimbangan dinamis antara daya gerak dan sikap
diam, antara keaktifan dan kepasifan, sehingga titik keseimbangan kembali ke
pusatnya. Kesatuan dari hal–hal yang bertentangan pun berkembang.
Yin dan Yang saling bergantung dan saling
melengkapi, simbiose mutualistis, selalu berhubungan dan terus menerus saling
memberi kekuatan. Yin bersifat lebih kuat dan lebih melimpah, tapi Yang lebih
tegas dan aktif. Lebih banyak air di bumi dari pada api, sebagai contoh, tapi
api yang bercahaya lebih menarik perhatian. Namun begitu, tetap, Yin dan Yang
selalu saling melengkapi dan saling memberi arti bagi yang lain. Menurut Tao
The Ching, suatu kekuatan, objek atau gagasan tak akan lengkap dan tak akan
berarti tanpa ditunjang keadaan yang sebaliknya. Kesulitan dan kemudahan saling
melengkapi panjang dan pendek saling membanding tinggi dan rendah saling
membedakan kebaikan tak punya arti tanpa kejahatan. Kecantikan tak akan
dipandang tanpa kehadiran si buruk sebagai pembanding. Dalam pikiran
tradisional Barat, lawan dimasukkan ke dalam dua wilayah khusus kualitas,
dengan penghargaan diikutkan pada kebaikan, kecantikan dan kebenaran. Jahat,
buruk dan salah merupakan aspek kehidupan yang sengaja (dan sia–sia ) ditekan
atau dihindari seperti momok.
Pola pikir yang
didasarkan pada keseimbangan Yin dan Yang adalah “ baik ini maupun itu”.
Kategori “baik ini maupun itu” dalam
cara berpikir didasarkan pada simbolisme Yin–Yang merupakan ciri khas cara
berpikir Cina maupun timur secara umum. Cara berpikir ini dapat menyatukan atau
menyelaraskan hal-hal yang bertolak belakang dan berusaha mendamaikannya, salah satu aplikasi dari
pemikiran ini adalah cara pemecahan masalah yang bertujuan menguntungkan
pihak-pihak yang berselisih (win-win
solution). Berbeda dari pola pikir yin- yang, pola nalar barat pada umumnya
yaitu “ini atau itu” menghadapkan
manusia pada keharusan untuk memilih satu atau lebih dari alternatif yang ada dan
menyingkirkan pilihan yang lain.
Pola
nalar “Yin–Yang” memungkinkan seseorang, menyatukan atau mensintesiskan
paradoks yang ada, misalnya gagasan tentang ke–Allahan dan kemanusiaan Yesus
Kristus. Dalam pemikiran Yin–Yang ia dapat diingat sebagai Allah maupun
manusia. Mereka merupakan relasi
komplementer, yang saling mengisi
Komentar
Posting Komentar